<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kenapa Harus PR &#187; tidak adil</title>
	<atom:link href="http://kenapaharuspr.com/tag/tidak-adil/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kenapaharuspr.com</link>
	<description>Indonesian PR and Maketing Communication Guide</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 05:42:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nenek Minah, Semangka, dan Bunuh Diri</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2009/12/nenek-minah-semangka-dan-bunuh-diri/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2009/12/nenek-minah-semangka-dan-bunuh-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 01:39:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asia PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[nenek minah]]></category>
		<category><![CDATA[switching skill]]></category>
		<category><![CDATA[tidak adil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Tatkala membaca berita tentang nenek Minah yang diganjar hukuman 1 bulan di dusun Sidoharjo, Banyumas, Jawa Tengah, hanya gara-gara mencuri tiga butir kakao, apa yang terbayang di benak kita? Kekesalan terhadap para penegak hukum yang menjatuhi hukuman padanya. Kesal karena rasa keadilan kita terusik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-150" href="http://kenapaharuspr.com/nenek-minah-semangka-dan-bunuh-diri.html/nenek-minah"><img class="alignnone size-full wp-image-150" title="nenek minah" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2009/12/nenek-minah.jpg" alt="nenek minah" width="409" height="327" /></a></p>
<blockquote><p>Tatkala membaca berita tentang nenek Minah yang diganjar hukuman 1 bulan di dusun Sidoharjo, Banyumas, Jawa Tengah, hanya gara-gara mencuri tiga butir kakao, apa yang terbayang di benak kita? Kekesalan terhadap para penegak hukum yang menjatuhi hukuman padanya. Kesal karena rasa keadilan kita terusik.</p></blockquote>
<p>Demikian juga tatkala kita membaca berita tentang seorang petani di Kediri yang dipidanakan karena mencuri satu butir semangka. Segera dalam benak kita muncul rasa kekesalan pada para penegak hukum yang menjatuhi hukuman. ”Orang kecil selalu dijatuhi hukuman berat, kalau koruptor kakap dijatuhi hukuman ringan,” kata kita membatin. Begitukah kira-kira?</p>
<p>Baiklah, terlepas dari rasa prihatin kita atas perlunya penegakan keadilan di tanah air tercinta ini, apa yang menurut Anda luput dari perhatian dari berita di atas? <strong>Pernahkah kita terpikir bahwa sang pelapor sebenarnya juga bertanggung jawab? Kenapa pencurian kecil begitu saja perlu dilaporkan ke polisi?</strong></p>
<p>Satu lagi contoh. Ketika beberapa kali terjadi  kejadian bunuh diri dengan cara melompat dari lantai atas mal bertingkat, dan beritanya masuk media massa, apa yang ada di benak kita? Tentu yang pertama, prihatin terhadap kondisi kejiwaan si korban. Prihatin terhadap individualisme kehidupan di kota besar yang membuat banyak orang merasa terasing di tengah keramaian. Itu saja? Mungkin.<strong> Lalu terpikirkah oleh kita mengapa gedung-gedung itu yang dipilih? Adakah desain gedung juga memudahkan orang untuk bunuh diri?</strong></p>
<p><strong>Switching berita</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sadarkah kita bahwa sebenarnya, tanpa sadar, kita, baik pembaca maupun wartawan sedang di-switch/diarahkan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang tertentu ’saja’? Dalam praktik <em>public relations</em>, teknik <em>switching</em> ini sering digunakan untuk mengarahkan opini publik ke satu perspektif tertentu dalam melindungi atau mempromosikan brand sebuah lembaga atau perusahaan.</p>
<div id="attachment_151" class="wp-caption alignnone" style="width: 499px"><a rel="attachment wp-att-151" href="http://kenapaharuspr.com/nenek-minah-semangka-dan-bunuh-diri.html/switcher-copy"><img class="size-full wp-image-151" title="switcher copy" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2009/12/switcher-copy.jpg" alt="switching skill public relations" width="489" height="363" /></a><p class="wp-caption-text">switching skill public relations</p></div>
<p>Ini tentu sah-sah saja. Sepanjang tidak ada kebohongan publik di sana, maka hal itu secara etis dapat diterima.Meski tak bisa dikatakan mudah. Seorang praktisi PR yang baik perlu tahu isu yang sedang berkembang hangat saat itu dalam pemberitaan. Ia perlu tahu bagaimana perpsektif awam dalam melihat sebuah berita. Ia juga perlu tahu sudut pandang pemberitaan apa yang ’menarik’ di mata wartawan. Tidak mudah memang, namun bisa dipelajari. Semakin tinggi jam terbang seorang praktisi PR, maka intuisinya akan terasah untuk melihat ke mana ’arah angin pemberitaan’ bertiup.</p>
<p><em>Jadi sekarang, masihkah kita membaca berita tentang nenek Minah dari perspektif yang sama?</em></p>
<p><em>*Ditulis oleh Saifullah Kundo, Strategic Content Specialist, Praktisi PR, dan Mantan Wartawan<br />
Editing dan Illustrasi oleh <a href="http://padmanegara.wordpress.com/">Takhta Pandu Padmanegara</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2009/12/nenek-minah-semangka-dan-bunuh-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

