<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kenapa Harus PR &#187; spinning issue</title>
	<atom:link href="http://kenapaharuspr.com/tag/spinning-issue/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kenapaharuspr.com</link>
	<description>Indonesian PR and Maketing Communication Guide</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2012 08:28:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Spin Doctor di Perhumas</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2010/07/spin-doctor-di-perhumas/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2010/07/spin-doctor-di-perhumas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 09:40:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asia PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public Relations]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[opini publik]]></category>
		<category><![CDATA[presepsi]]></category>
		<category><![CDATA[public opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Spin Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Spinning]]></category>
		<category><![CDATA[spinning image]]></category>
		<category><![CDATA[spinning issue]]></category>
		<category><![CDATA[Stuart Ewen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari diskusi di milis Perhumas  tentang Spin Doctor, sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut lagi. Diskusi dimulai pada saat Ridwan N. Baik, "melempar bola pemantik" tentang Petaka Sang Jubir, kemudian diskusi pun dimulai]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/07/spin-doctor.png"><img class="alignnone size-full wp-image-409" title="spin-doctor" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/07/spin-doctor.png" alt="" width="547" height="372" /></a></p>
<p>Berawal dari diskusi di milis <a href="http://www.perhumas.or.id/ " target="_blank">Perhumas</a> tentang Spin Doctor, sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut lagi. Diskusi dimulai pada saat Ridwan N. Baik, &#8220;melempar bola pemantik&#8221; tentang Petaka Sang Jubir, kemudian diskusi pun dimulai. Berikut <em>copy</em> dari diskusinya:</p>
<blockquote><p><em>From: &#8220;Ridwan Nyak Baik&#8221; &lt;rbaik@xxxxxx. com&gt;<br />
Date: Mon, 10 May 2010 12:12:38 +0700<br />
To: &lt;iPerhumas@yahoogrou ps.com&gt;<br />
Subject: [iPerhumas] Petaka Sang Jubir</em></p>
<p>Dear all;</p>
<p>Informasi datang bagai dikucur dari langit dalam hitungan second. Perkembangan yang mengharu biru akan kepergian Sri Mulyani Indrawati (SMI) ke Bank Dunia (lesas dari polemic “kehormatan” atau “melarikan diri”) sudah beredar sejak awal minggu lalu. Dan fakta sekarang semua kita mahfum kalau SMI sudah diijinkan SBY pergi untuk duduk diposisinya yang baru selaku Managing Director Bank Dunia.</p>
<p>Namun apa dan  mengapa sang jubir istana hingga rabu yll masih menggunakan kata bersayap: &#8220;Mundur itu nggak benar sama sekali. Tapi Istana mendapat kabar beliau ditunjuk jadi managing director,&#8221; kata Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha saat dihubungi detikcom, Rabu (5/5/2010).</p>
<p>Menurut saya, itulah petaka sang jubir (seorang PR) yang meski sudah terang benderang tetap saja masih memainkan jurus plintir spin doctor.</p>
<p>Mengingat (kini) informasi dengan mudah dapat diakses public dari 1001 sumber maka apakah jurus spin doctor main plintir masih laku diperagakan oleh seorang jubir atau  PRO lainnya. Menarik untuk didiskusikan.</p>
<p>Tabik;</p>
<p>RnB</p>
<p>============ =======</p>
<p>Managing Director Bank Dunia<br />
Jubir Presiden: Informasi Sri Mulyani Mundur Tak Benar<br />
Laurencius Simanjuntak &#8211; detikFinance</p>
<p>Jakarta &#8211; Istana Kepresidenan membantah kabar pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani per 1 Juni mendatang. Namun demikian, Istana sudah mendengar Sri Mulyani ditunjuk sebagai salah satu managing director Bank Dunia.</p>
<p>&#8220;Mundur itu nggak benar sama sekali. Tapi Istana mendapat kabar beliau ditunjuk jadi managing director,&#8221; kata Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha saat dihubungi detikcom, Rabu (5/5/2010).</p>
<p>Julian mengatakan Istana juga tidak pernah menerima surat menerima surat pengunduran diri Sri Mulyani.</p>
<p>&#8220;Surat belum pernah saya lihat. Pengunduran diri tidak benar sama sekali,&#8221; kata dia.</p>
<p>Sebelumnya beredar kabar bahwa atas penunjukan Sri Mulyani di Bank Dunia itu, Sri Mulyani telah mengajukan mundur dari kursi Menteri Keuangan.<br />
(lrn/nrl)</p>
<p>http://us.detikfina nce.com/read/ 2010/05/05/ 100000/1351360/ 4/jubir-presiden -informasi- sri-mulyani- mundur-tak- benar</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8212;&#8211; Original Message &#8212;&#8211;<br />
<em>From: Erik Tapan<br />
To: Milis Iperhumas<br />
Sent: Monday, May 10, 2010 12:51 AM<br />
Subject: Re: [iPerhumas] Petaka Sang Jubir</em></p>
<p>Menarik untuk didiskusikan. <img src='http://kenapaharuspr.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
Maaf, sebagai newbie, bolehkah saya menanyakan (agar bisa memperoleh pemahaman yang sama apa itu &#8220;jurus spin doctor&#8221;.<br />
Kenapa namanya begitu?</p>
<p>Terima kasih kalau ada yang bersedia menjelaskannya.</p>
<p>Btw, bukankah kita semua sudah mengetahui bahwa saat ini (untuk kalangan tertentu) kalau ada yang berbicara &#8220;bukan A&#8221;, berarti memang A?</p>
<p>Best Regards,<br />
eriktapan.com<br />
Sent from my BlackBerry®</p></blockquote>
<blockquote><p><em>From: &#8220;mediacare&#8221; &lt;mediacare@xxxx.net.id&gt;<br />
Date: Mon, 10 May 2010 18:21:17 -0700<br />
To: &lt;iPerhumas@yahoogrou ps.com&gt;<br />
Subject: Re: [iPerhumas] Petaka Sang Jubir</em></p>
<p>Kalau tak salah &#8220;spin doctor&#8221; itu semacam jurus memutar-balikkan fakta, alias tak sesuai dengan kasunyatan.CMIIW</p>
<p>Facebook: Radityo Djadjoeri<br />
YM: radityo_dj<br />
Twitter: @mediacare</p></blockquote>
<blockquote><p><em>From: silihaw@xxxx. com<br />
Date: Tue, 11 May 2010 03:37:05 +0000<br />
To: &lt;iPerhumas@yahoogroups.com&gt;<br />
Subject: Re: [iPerhumas] Petaka Sang Jubir</em></p>
<p>Sekedar menambahkan mas Radit,<br />
Spin Doctor itu merupakan salah satu keahlian dalam Public Relations untuk menguatkan pesan yang akan disampaikan. Sepertinya pola angin yang memutar, Spin juga demikian. Pesan diputar sedemikian rupa hingga mampu menembus sasaran. Biasanya jadi tidak terbantahkan, dan dilakukan secara elegan. Dan satu hal yang paling penting, Spin bukan berbohong apalagi memutarbalikkan fakta.<br />
Hanya saja, tidak semuanya setuju dengan pola ini. Banyak yang mengkonotasikan dengan pemutar balikan fakta. Dan memang pada kenyataannya, banyak PR yang memutarbalikkan fakta, dan menyebut taktiknya sebagai spin doctor. Bahkan dengan bangga menyatakan dirinya sebagai spin doctor.<br />
Selain itu, aplikasi Spinning juga belum tentu dalam bentuk kalimat belaka.</p>
<p>Studi kasus Clinton-Monica Lewinsky merupakan salah satu kisah sukses. Melalui pidato impeachment, Clinton bisa mengalihkan &#8220;kesalahan&#8221; slingkuhnya dari kesalahan presiden, menjadi kesalahan seorang kepala keluarga biasa.<br />
Saya ada bukunya History of Spin jika ada yang berminat.<br />
Silahkan mengkoreksi jika ada yang luput.<br />
Salam,</p>
<p>Silih</p>
<p>Sent from AsiaPR HeadOffice</p></blockquote>
<blockquote><p><em>Re: [iPerhumas] Petaka Sang Jubir<br />
Selasa, 11 Mei, 2010 20:54<br />
Dari:&#8221;Pandu Takhta&#8221; &lt;pandumonon@xxxx.com&gt;<br />
Kepada: iPerhumas@yahoogroups.com</em></p>
<p>Ini dari Spin Doctor, Frank Esser</p>
<p>The term “spin doctor” is an amalgam of “spin,” meaning the interpretation or slant placed on events (which is a sporting metaphor, referring to the spin a pool player puts on a cue ball), and “doctor,” derived from the figurative uses of the word to mean patch up, piece together, and falsify. The “doctor” part also derives from the employment of professionals rather than untrained amateurs to administer the spin.</p>
<p>The term “spin doctor” was coined by American novelist Saul Bellow, who spoke in his 1977 Jefferson Lecture about political actors “capturing the presidency itself with the aid of spin doctors.”</p>
<p>The word “spin” first appeared in the press on January 22, 1979, in a Guardian Weekly article; the phrase “spin doctor” first appeared in the press on October 21, 1984, in a New York Times editorial commenting on the televising of presidential debates. It took another decade until it was picked up by academics: Maltese (1994, 215–216) discussed the significance of spin doctoring for political communication, and Sumpter and Tankard (1994) for public relations.</p>
<p>Theoretical concepts most closely related to spin are priming and framing (? Framing of the News; Priming Theory). Medvic (2001), for example, considers “deliberate priming” as the main responsibility of spin doctors, by which he means producing campaign messages that focus on issues that are to a politician&#8217;s advantage and benefit..</p></blockquote>
<blockquote><p><em>From: arum yudarwati &lt;arum021@xxxx. com&gt;<br />
Subject: artikel tentang Spin doctor Re: [iPerhumas] Petaka Sang Jubir<br />
To: iPerhumas@yahoogroups.com<br />
Received: Wednesday, 12 May, 2010, 2:53 PM</em></p>
<p>Rekan-rekan,</p>
<p>Berikut ada cuplikan dari Platform Online Magazine berkaitan dengan Spin Doctor. Dalam artikel ini disebutkan ada konotasi negatif maupun positif. Silakan disimak.</p>
<p>Spin Doctors Make Music, Not PR</p>
<p>By Jessica Boyd</p>
<p>Online reference http://www.platform magazine. com/article. cfm?alias= Spin-Doctors- Make-Music- Not-PR</p>
<p>When you hear the words “spin doctor,” what image comes to mind? If you see the popular 90s music group The Spin Doctors, think again. Most people think about only one group of people: public relations professionals.</p>
<p>“Spin doctor” has almost become a synonym for “public relations professional.” The American public sees public relations as a way for its practitioners to spin the truth in order to boost their clients’ public image.</p>
<p>In a review for the book PR: A Persuasive Industry? Spin, Public Relations and the Shaping of the Modern Media, author Seth Brown said, “People tend to think that PR involves being manipulative and saying whatever is in the employer’s best interests.” He said the authors of the book view public relations as “amoral, a tool for good and evil purposes.”</p>
<p>Gini Dietrich, CEO of Arment Dietrich Inc. and author of “The Fight Against Destructive Spin” blog, gave her own definition of spin in the public relations world. She said, “People always refer to PR professionals as spin doctors, meaning they can take a client’s business and turn it into a newsworthy story that a reporter would want to write about, even if it means not telling the full truth.” According to Dietrich, public relations professionals are often lumped in with professions, such as used car salesmen, “because people believe we lie to tell our clients’ story.”</p>
<p>PR professionals are believed to spin the facts in a positive way in order to make headlines and gain press for their clients. Sometimes the “spin” is a simple omission of facts, but public relations professionals have been known to blatantly lie to protect their clients’ image.</p>
<p>“I did not have sexual relations with that woman.” Nine words ultimately defined former President Bill Clinton’s presidency and created one of the most complicated public relations crises in American history. President Clinton and his press squad continued to lie about the president’s infamous affair with his intern until the facts could no longer be ignored. The former president eventually came clean, but it was virtually forced after incriminating facts surfaced. Because of bad PR practices, Clinton’s public image has been forever tarnished.</p>
<p>Spin has a negative connotation, especially in the public relations field. But is spin always a negative practice?</p>
<p>Mike Cohen, executive vice president of Ackermann PR, has a somewhat different definition of spin doctor that removes the negative connotation. He said spin is simply trying to present the clients’ story and facts in the best way possible without lying. According to Cohen, honest spin in public relations is no different than a child explaining how he accidentally broke a vase: both the professional and the child present the facts in a way that will alleviate as much blame and criticism as possible.</p>
<p>Although he believes spin can be positive, Cohen also acknowledges unethical spinning practices. He said, “All we do is try and put a good face on facts. Now if anyone tries to make a bad thing sound like it’s really good — well, that can be a problem.”</p>
<p>Even if “good spin” does exist, public relations practitioners must continue to combat the lying associated with negative spin. This may seem like a daunting task, but there are some simple solutions to keep spin ethical and beneficial for clients.</p>
<p>Gini Dietrich combats negative spin through her blog “The Fight Against Destructive Spin.” She explained that public relations practitioners should be firm with clients. She said, “It’s even more important to tell the truth and never lie, even if it means conflict or uncomfortable situations.” Dietrich maintained that the best policy for addressing the spin doctor label is honesty. She said, “If we all remember that it’s our job to tell the truth, not to do everything the client asks, eventually the label will go away.”</p>
<p>People may define spin in different ways, either positively or negatively, but most will agree on one thing: honesty is the best policy when addressing a client’s needs. If this policy is upheld, “spin doctor” and its negative connotation could be erased from PR vocabulary. Maybe then The Spin Doctors would no longer be confused with people who doctor dishonest behavior.</p>
<p>regards,<br />
Gregoria Arum Yudarwati</p></blockquote>
<p><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/07/good-news-and-bad-news1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-406" title="good news and bad news" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/07/good-news-and-bad-news1.jpg" alt="" width="385" height="340" /></a></p>
<p>Memang memanipulasi persepsi dan menggiring opini publik adalah merupakan salah satu keahlian seorang Public Relations (PR). Tapi apakah sesuai dengan tujuan dari PR itu sendiri ;</p>
<blockquote><p>&#8220;A public relations practitioner is a social scientist, <strong>an advisor to organizations, who helps to educate and win over the public, to accept social goods or concept</strong>s.<br />
-Edward Bernays, the Father of PR-</p></blockquote>
<p>Bisa dibilang sesuai jika dalam konteks untuk menggiring persepsi. Tetapi ingatlah kode etik. Seperti ilmu lainnya, Komunikasi, dengan turunannya Public Relations, seperti pisau bermata dua: untuk kebaikan atau untuk <em>&#8220;to do very bad things&#8221;</em>. Oleh karena itu kode etik dalam dunia PR &#8220;is a must&#8221;.</p>
<p><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/07/stuart-ewen.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-407" title="stuart ewen" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/07/stuart-ewen.jpg" alt="" width="155" height="236" /></a>Beberapa kasus, sejarah, bahkan figur yang sangat berperan dalam perkembangan <em>&#8220;PR as a spin doctor&#8221;</em> dapat ditelaah dan difahami di buku <em><strong>PR! A Social History of Spin</strong> </em>oleh <strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stuart_Ewen" target="_blank">Stuart Ewen</a></strong>.</p>
<p>Untuk yang ingin tahu mengenai isi buku ini, bisa download rangkuman dari buku tersebut di <a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/07/history-of-spin.pdf" target="_blank">SINI</a><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/07/history-of-spin.pdf"> (history of spin)</a>.</p>
<p>Jadi, apakah anda pernah mengalami perubahan persepsi terhadap suatu organisasi, perusahaan, figur/tokoh, kejadian, dan hal-hal lain di kehidupan Anda sekari-hari? Jika YA, selamat anda sudah berhasil di-<em>spinning</em> ;P</p>
<p><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/07/spinning-wheel-illusion.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-408" title="spinning-wheel-illusion" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/07/spinning-wheel-illusion.gif" alt="" width="446" height="437" /></a></p>
<p><em>*Ditulis oleh <a onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com/?referer=http%3A%2F%2Fkenapaharuspr.com%2F');pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com/?referer=http%3A%2F%2Fkenapaharuspr.com%2F');pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com/?referer=http%3A%2F%2Fkenapaharuspr.com%2F');pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com?referer=http%3A%2F%2Fkenapaharuspr.com%2F2010%2F02%2Fwahana-kebaikan-alam-aqua-aktivasi-brand-melalui-edukasi-konsumen%2F');" href="http://padmanegara.wordpress.com/">Takhta Pandu Padmanegara</a>,    Cyber Public Relations Specialist, Blogger, dan Visual Thinker</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2010/07/spin-doctor-di-perhumas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gong Xi Fat Choi!</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2010/02/gong-xi-fat-choi/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2010/02/gong-xi-fat-choi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 01:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asia PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>
		<category><![CDATA[spinning issue]]></category>
		<category><![CDATA[valentine; chinese new year]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Xi nian Kuai Leu. Gong Xi Fat Choi. Selamat tahun baru dan semoga banyak rejeki!. Demikian ucapan dan tulisan yang bertaburan di mana-mana pada pertengahan Februari lalu. Semua mall, restoran hingga toko-toko kelontong berukuran kecil pun sekaan tak mau ketinggalan turut serta mencantumkan tulisan itu. Pernak-pernik khas Tionghoa bergelantungan di pintu-pintu masuk pertokoan. Ya, inilah perayaan tahun baru imlek. Tahun ini, jatuh pada tahun macan. Uniknya, imlek tahun ini juga dengan tanggal perayaan valentine 14 Februari 2010. Tragedi menjadi Komoditi . . . ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/02/valentine-and-chinese-new-year.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-300" title="valentine and chinese new year" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/02/valentine-and-chinese-new-year.jpg" alt="valentine and chinese new year" width="500" height="391" /></a></p>
<p><em>Xi nian Kuai Leu. Gong Xi Fat Choi</em>. Selamat tahun baru dan semoga banyak rejeki!. Demikian ucapan dan tulisan yang bertaburan di mana-mana pada pertengahan Februari lalu. Semua mall, restoran hingga toko-toko kelontong berukuran kecil pun sekaan tak mau ketinggalan turut serta mencantumkan tulisan itu. Pernak-pernik khas Tionghoa bergelantungan di pintu-pintu masuk pertokoan. Ya, inilah perayaan tahun baru imlek. Tahun ini, jatuh pada tahun macan.</p>
<p>Uniknya, imlek tahun ini juga dengan tanggal perayaan valentine 14 Februari 2010. Maka semakin lengkaplah pernak-pernik yang ditampilkan. Ada gambar hati (simbol khas Valentine) yang berpadu dengan macan lucu, ada paduan antara warna merah (yang khas imlek) dengan warna merah jambu (yang khas Valentine). Semuanya berpadu meriah, membuat banyak orang tergiur untuk membeli pernak-pernik yang ditawarkan.</p>
<p><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/02/perayaan-imlek-dan-valentine.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-308" title="perayaan imlek dan valentine" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/02/perayaan-imlek-dan-valentine.jpg" alt="perayaan imlek dan valentine" width="500" height="375" /></a></p>
<p><strong>Tragedi jadi Komoditi</strong></p>
<p>Tak berbeda dengan perayaan hari besar maupun hari keagamaan lain, saatnya Valentine adalah saatnya berjualan. Semua toko dan produk berlomba memanfaatkan momen yang ’dianggap penting’ ini untuk meraup untung besar. Kontroversi yang meliputi, seperti seruan MUI  yang mengharamkan Valentine Day, bukannya meredupkan perayaan ini malah semakin membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu dan akhirnya larut dalam ’perayaan ini’. Perayaan ini juga membuka peluang usaha bagi banyak orang, bunga mawar yang biasanya 4 ribu rupiah, melonjak jadi 10 bahkan 15 ribu rupiah</p>
<p>Hal menarik di sini adalah bagaimana kecerdikan para pelaku pasar mengambil momentum ini. Padahal, hari Valentine pada asal muasalnya adalah hari tragedi yang mengerikan karena merupakan saat dibunuhnya seorang pendeta, Santo Valentinus oleh kaisar Romawi saat itu, kaisar Claudius. Santo Valentinus berkeras tetap mau menikahkan pasangan muda-mudi waktu itu meski dilarang Kaesar Caludius. Momen ini dialihkan sedemikian rupa oleh para industrialis Amerika pada ada 20 sebagai momen perayaan cinta. Perayaan tentu indentik dengan konsumtivisme. Dimulai dari penjualan kartu cinta secara massal, hingga pernak-pernik ’cinta’ lainnya saat ini.</p>
<p>Itu lah pemasaran; bisa merubah tragedi jadi komoditi. Pertentangan pun jadi semakin meninggikan nilai komoditi yang dijual. Dan sebetulnya, tanpa sadar, sudah begitu banyak perubahan dalam diri kita yang dilakukan oleh orang-orang pemasaran.</p>
<p>Saat saya kecil, masakan yang menggunakan bumbu masak hanya mie rebus dan bakso. Sekarang? Rasanya hampir semua masakan menggunakan bumbu masak. Bahkan ketika kita memasaknya dengan bumbu tradisional, masih saja merasa kurang mantap bila tidak ditambah bumbu masak.</p>
<p>Dalam keseharian, dulu juga kita lebih berbekal sapu tangan untuk mengelap sesuatu. Sekarang, fungsi sapu tangan diganti dengan tissue. Hal yang juga jelas terasa ketika ponsel menjadi barang wajib yang tak boleh tertinggal bagai dompet. Padahal, dulu, kita dapat terus beraktivitas lancar cukup mengandalkan telpon rumah atau kantor.  Namun mengapa kini kita seakan tak bisa hidup tanpa ponsel di genggaman? Itulah hebatnya pemasaran, yang dapat menciptakan kebutuhan dan pasar.</p>
<p>Memang, seperti yang digambarkan oleh Pedro Guido, konsultan pemasaran Italia dalam bukunya The No-Need Society (Masyarakat yang tak butuh apa-apa) ketika semua kebutuhan konsumen sudah terpenuhi maka harapan bagi pemasaran adalah dengan menciptakan ’pasar-pasar’ dan ’kebutuhan’ baru. Tanpa itu, maka  produk akan kehilangan pasar</p>
<p>Seperti juga yang dikemukakan oleh Philip Kottler dalam bukunya <em>Marketing Insights from A to Z: 80 Concepts Every Manager Needs to Know</em>, P adalah untuk Public Relation. Menurut Kottler dalam buku itu, pemasar memang harus mampu memanfaatkan strategi public relation dan tidak melulu mementingkan iklan untuk memasarkan produk. Apalagi resistensi audiens saat ini terhadap PR semakin kuat. Perkembangan metode ini kemudian memunculkan pola MarketingPR yang mencoba memanfaatkan pendekatan PR untuk memasarkan barang dan bahkan menciptakan pasar.</p>
<p><strong>Asosiasi Momentum</strong></p>
<p>Beberapa merek memang sengaja mengasosiasikan produknya dengan momen tertebntu. Produk-produk itu di-PR kan sedemikian rupa sehingga menjadi seakan tak terlepaskan dari sebuah momentum. Hasilnya berupa ekuitas merek yang kuat. Kita bisa lihat beberapa produk retail diasosiasikan dengan momen-momen tertentu. Misal, tak lengkap rasanya merayakan Valentine tanpa memberikan coklat Toblerone berbentuk hati kepada sang kekasih.  Imlek tak lengkap rasanya jika tidak dirayakan dengan buah jeruk atau buah naga. Bagi umat Islam, tak lengkap rasanya menjalani puasa tanpa berbuka dengan sirup Marjan. Atau berlebaran dengan sarung Gajah Duduk. Begitu pula dengan momen tahun baru yang tak lengkap jika tak dirayakan dengan petasan dan kembang api.</p>
<p>Oleh sebab itu tak heran jika banyak merek yang mencoba mengaitkan momen-momen tersebut dengan produk mereka. Meski sebenarnya, jika dipikir-pikir hal itu tak terlalu terkait. Sebagai contoh, teh sari wangi mencoba mengaitkan mereknya dengan momentum ’berbincang-bincang santai’. Tag line ”Mari ngeteh, mari bicara” dicoba ditanamkan dengan kuat di benak konsumen. Tag line itu seakan bicara bahwa jika kita ingin berbincang santai baiknya sambil minum teh dan tehnya adalah sariwangi. Lain pula tag line yang digencarkan oleh Teh botol Sosro. Merek ini muncul dengan tagline ”apapun makananya, minumnya teh botol Sosro”. Seakan berbicara, jangan lupa minum teh sosro ketika Anda selesai makan.</p>
<p>Sekalipun terkadang kita tahu, bahwa momentum itu dibangun sebagai asosiasi merek; tetap saja kita melihat dengan anggukan kepala tanda setuju. Bahkan ketika tahu bahwa diskon memang dibuat untuk membuat laku sebuah produk, tetap saja kita merangsek diantara pembeli-pembeli lain untuk memanfaatkan diskon.</p>
<p>Itu lah kreativitas; dia melesat melewati batas-batas kesadaran normal. Kita tahu bahwa itu hasil rekayasa, tapi kita dengan ikhlas ikut dalam permainannya. Ini mirip dengan ketika kita nonton film horor; sudah tahu bahwa film tersebut akan menakutkan, akan mengejutkan,  tapi tetap saja kita masuk ke bioskop dan bayar pula. Kita rela untuk membayar, sekalipun akan ditakuti.</p>
<p>Itu kreativitas momentum yang mampu menembus batas-batas kesadaran konsumen. Jadi, mari kita ikut menikmati bagaimana kreativitas tersebut dikembangkan. Dan tidak perlu menjadi konsumtif pula, karena itu.</p>
<p>Jadi, sekali lagi Gong Xi Fat Choi, selamat tahun baru dan selamat berbelanja&#8230;yang perlu-perlu saja ya.</p>
<p><em>*Ditulis oleh Silih Agung Wasesa, Senior PR &amp; Marcomm Consultant, Managing Partner AsiaPR, Pengarang Buku Brand PR, dan Penulis</em><br />
<em>Illustrasi dan Editing oleh <a onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.google.com/profiles/padmanegara?referer=http%3A%2F%2Fkenapaharuspr.com%2F%3Fs%3Dsilih%2Bagung%2Bwasesa%26x%3D0%26y%3D0');" href="http://www.google.com/profiles/padmanegara">Takhta Pandu Padmanegara</a></em></p>
<p><em>Foto:</p>
<p><img src="http://farm3.static.flickr.com/2713/4356166981_03b5072888.jpg" alt="Valentines chinese new year" width="500" height="391" /></p>
<p>Koleksi Pribadi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2010/02/gong-xi-fat-choi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

