Home » Featured, Studi Kasus!

Mengontrol Reputasi Brand di Social Media

22 February 2010 2 Comments

control brand reputation copy

Karena kejadian motivator Mario Teguh yang menghebohkan dunia twitter dengan komentarnya dan akhirnya menutup akun twitternya, saya jadi ingin sharing tentang damage control di social media.

Sebagai pemilik bisnis online yang berlandaskan service, dan memutuskan untuk terjun total di social media, saya dan Kutukutubuku.com tentu tak luput dari kesalahan yang memungkinkan customer komplain langsung di social media yang bisa dibaca dan menyebar ke ribuan orang dalam sekejap.

Karena saya anggap kita sebagai personal juga mempunyai posisi sama dengan brand, maka saya coba kasih beberapa tips sesuai pengalaman selama ini untuk mengontrol reputasi brand di social media:
Respond Quickly. Meskipun hanya untuk bilang, “mohon menunggu kami segera melakukan pengecekan.”

Lakukan Perbaikan. Don’t Argue. It only make things worst & make you look bad already. Jika ada satu orang yang complain/mengkritik bisnis Anda, dekati dan selesaikan masalahnya secara personal baik via email atau DM. Minta maaf terlebih dahulu, bahkan jika Anda belum mengetahui duduk perkaranya. Jika ternyata Anda yang benar atau jika masalah sudah diselesaikan, customer akan kembali ke social media dengan komentar positif untuk brand Anda tanpa diminta.

Have Conversation. Jika Anda diserang dari segala arah seperti Mario Teguh, meskipun Anda pikir yang Anda katakan di twitter itu benar dan tak ada salahnya, Anda tetap harus berbesar hati untuk melihat pendapat orang banyak, dan melakukan conversation untuk menerima pendapat mereka. Kembali lah ke twitter dan rebut kembali hati para follower dengan twit-twit yang bermanfaat.

Siapkan Crisis Management Plan. Untuk damage besar yang terlanjur terjadi pada satu customer, siapkan special plan untuk recover ‘kerugian’ apapun yang dialami customer

Awasi channel social media yang Anda miliki. Untuk bisnis, sebaiknya ada staf khusus yang dilatih untuk mencermati channel-channel social media yang Anda miliki untuk mendeteksi potensi krisis secara dini. Jangan lupa untuk mengajari staf Anda menggunakan bahasa-bahasa yang layak untuk mendinginkan situasi

Ada yang mau menambahkan?

*Ditulis oleh Aulia Halimatussadiah (Ollie), Pemilik Kutukutubuku.com, Heartyboutique.com, TukuSolution.com, Novelis dan Blogger

Editing dan Ilustrasi oleh Takhta Pandu Padmanegara

Mari berbagi artikel ini:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Blogosphere News
  • email
  • LinkedIn
  • MySpace
  • Posterous
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter

2 Comments »

  • Alfisyahrin said:

    Terkedang perilaku masyarakat di social media memang sulit ditebak. Terkadang apa yang kita kira, tidak sesuai dengan kenyataannya.

  • monon said:

    Banyak ranjau-ranjau di ranah mayantara (cyberspace). Oleh karena itu disamping harus hati-hati,jgn smpai ada conflicting image.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.