Home » Featured, Studi Kasus!

Macet, Becek, Gak Ada Ojek

25 November 2009 11 Comments

banjir_raya_1_by_cashfull007

Macet, becek, ga ada ojek. Ungkapan yang dipopulerkan oleh Chinta Laura  ini  mungkin pas untuk menggambarkan kondisi Jakarta saat ini. Hampir bisa dipastikan bahwa semua pengguna jalan raya, apakah pejalan kaki, pengguna transportasi bus, pengendara sepeda motor hingga pengendara mobil kesal dengan kondisi tersebut. Waktu terbuang percuma karena jalan-jalan yang tergenang oleh air menyebabkan kemacetan panjang di jalan-jalan kota Jakarta. Mulai dari jalan-jalan protokol sekelas Jl. Thamrin dan Sudirman  hingga jalan-jalan sekelas jalan kampung dan ”jalan tikus” semua tak ada yang bebas dari genangan air dan kemacetan.

Menarik untuk menyimak fenomena ini dari sisi public relation bagi PEMDA DKI. Beberapa pemberitaan media online maupun cetak menyoroti kegagalan PEMDA DKI membenahi salah urus yang sudah berulang kali terjadi setiap datangnya musim hujan. Inilah.com (2/11/09)  misalnya menyatakan bahwa:

” Kerugian akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta tahun ini mencapai Rp 17,2 triliun. Bila tahun 2020 Pemda DKI Tidak melakukan apa-apa kerugian bisa mencapai Rp 68 T ” (sumber: http://www.inilah.com/berita/politik/2009/11/02/175714/macet-jakarta-rugi-172-triliun/)

Sementara harian Kompas cetak  (18/11/2009) pada hal 25 bahkan menurunkan tiga artikel  utama yang semuanya terkait dengan masalah banjir dan kemacetan ini yaitu: ”Lalu lintas Kacau, Biaya Jadi tinggi,” kemudian tentang potensi banjir di ”17 kelurahan di Jakarta Selatan” hingga keraguan terhadap progress pembangunan kanal banjir timur yang awalnya ditargetkan akan selesai pada Desember kelak namun diduga sulit tercapai dalam artikel berjudul ”Kanal Banjir Timur, Diragukan Tembus Laut Akhir Desember

Semua pemberitaan di atas, sangat menyudutkan citra PEMDA DKI di mata publik. Namun hal yang menarik juga adalah bahwa para pejabat PEMDA DKI yang diwawancara hampir semuanya tidak mampu menanggapi pemberitaan itu dengan baik.

Maksudnya? Mari kita coba simak beberapa pernyataan mereka yang dikutip oleh media-media di atas.

Tanggapan ”mengeluh dan menyalahkan”

Mari kita simak tanggapan yang diberikan oleh Kabid Manajemen dan Rekayasa Lalu lintas Dishub DKI Jakarta Muhammad Akbar seperti yang dikutip oleh Inilah.ciom

”Muhammad Akbar menjelaskan, sebenarnya kapasitas jalanan yang ada di Jakarta hanya bisa menampung 1 juta kendaraan setiap hari. Nyatanya kendaraan yang keliaran di Ibukota negara ini hampir 1,5 juta. Ada sisa 500 tibu kendaraan. Belum lagi yang datang dari Bodetakbek yang jumlahnya juga cukup banyak. ”Inilah yang membuat Jakarta macet. Jika hanya satu jutaan mobil berkeliaran di jalanan, Jakarta belum macet,”ujarnya ”

Atau coba kita simak apa yang dinyatakan oleh Asisten Sekretaris Daerah bidang perekonomian DKI Jakarta, Mara Oloan Siregar, saat menanggapi pemadaman bergilir PLN yang berimbas ke sering padamnya lampu lalu lintas di jalan-jalan protokol yang berimbas kepada semakin parahnya kemacetan di jalan-jalan kota Jakarta, seperti yang dikutip Kompas (18/11/09) di artikel ”Lalu Lintas Kacau, biaya jadi tinggi”.

”Mara Oloan Siregar mengimbau para pelanggan besar seperti pengelola mall, hotel, industri agar mengurangi pemakaian listrik pada siang hari dengan harapan penghematan ini akan membantu mengurangi pemadaman bergilir”

Pernyataan pertama pihak PEMDA DKI menyalahkan pengguna kendaraan yang terlalu banyak, sementara pernyataan kedua menyalahkan para pengelola mall, hotel dan industri (yang sebenarnya tidak terkait langsung dengan kemacetan di jalan raya akibat padamnya lampu lalu lintas) karena menggunakan listrik berlebih di siang hari.

”Derita Loe!”

Terlihat sekali pihak PEMDA DKI kurang sensitif dalam menangkap keluhan publik. Keluhan masyarakat yang diadukan melalui pertanyaan para wartawan media massa ditanggapi dengan sikap ”menyalahkan pihak lain” dan ”ketidak berdayaan menghadapi masalah yang ada”. Kesan yang ditimbulkan oleh pernyataan kedua pejabat di atas merepresentasikan ketidakmampuan menangani masalah yang dihadapi para pengguna jalan. ”Lalu mau apa lagi?” ”Emang sudah begitu” ”lagian elo juga sih bawa mobil ke mana-mana?” ”Kenapa ga jalan kaki atau naik bus aja?” . Demikian kira-kira pesan yang ditangkap oleh pembaca.

Hal ini tentu tanggapan yang buruk dari segi public relation. Publik yang berharap banyak kepada aparat pemerintah DKI yang dibayar gajinya dengan ”uang masyarakat” yang ditarik dari ”pajak” untuk menangani urusan mereka justru terkesan ”disalahkan” dan bukan ”dibantu”. Publik tentu merasa kecewa karena merasa ditinggalkan dan diabaikan oleh PEMDA yang seharusnya menjadi ”public servant” mereka. Masyarakat tentu berpikir, kenapa jadi mereka yang disalahkan jika mampu membeli dan menggunakan mobil yang dananya mereka kumpulkan dengan kerja keras bertahun-tahun? Atau para pengelola mall yang sudah membuka lapangan kerja bagi banyak penduduk DKI malah disalahkan karena menggunakan listrik pada siang hari? Bukankah itu semua semestinya tugas PEMDA DKI untuk menyelesaikan kerumitan sistem transportasi publik di DKI dan sekitarnya? Singkat kata, meminjam istilah saat ini, masyarakat mengatakan ”Itu semua Derita Loe!”

Ajakan positif dan Permintaan Maaf

Terlepas dari apapun alasannya, hal ini tentu akan sedikit berbeda jika misalnya PEMDA DKI justru mengajak masyarakat untuk bahu membahu mengatasi masalah namun tidak dengan sikap menyalahkan. Atau malah akan lebih baik lagi jika PEMDA DKI meminta maaf atas kegagalan mereka secara berulang mengatasi rumitnya masalah transportasi publik di DKI. Masyarakat akan lebih mengapresiasi positif jika itu yang dilakukan dan akan bersimpati untuk bersama-sama PEMDA mengatasi masalah yang ada. Jadi bukan dengan cara mengeluh atau lebih parah lagi justru menyalahkan. Namun selama kesadaran PR seperti itu belum ada, gumaman Chinta Laura ”Hujan, macet, becek, gak ada ojek” akan masih terus bergema di jalan-jalan DKI Jakarta tercinta ini (ful)

*Ditulis oleh Saifullah Kundo, Strategic Content Specialist, Praktisi PR, dan Mantan Wartawan
Editing dan Illustrasi oleh Takhta Pandu Padmanegara

References:
Banjir Raya (http://cashfull007.deviantart.com/)

Mari berbagi artikel ini:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Blogosphere News
  • email
  • LinkedIn
  • MySpace
  • Posterous
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter

11 Comments »

  • Agneshia Maria Tanawi said:

    wahh…saya setuju banget dengan ungkapan itu.terkadang macet itu muncul gara-gara genangan air tersebut.. sudah belakangan ini sering hujan,ada genangan air,pasti macet dimana-mana…

    silakan melihat-lihat blog saya..
    http://www.pecintamakananenak.blogspot.com

  • Fitrih ridhwan said:

    bener banget…sebenernya ada lagi masalah yang harus ditanggulangi yaitu pembatasan terhadap kepemilikan kendaraan pribadi.
    Namun kembali lagi semuanya tergantung se-aktif atau se-responsive apa pemerintah menanggapi masalah ini.

  • Saifullah Kundo said:

    Setuju. Ya, semestinya ada tawaran solusi yg komplit en bijak dr pemerintah. Jalan2 diperbaiki en disesuaikan kelasnya dg aturan tegas. Jadi jangan sampe lagi ada traktor masuk komplek rumah (di komplek rumah, jalannya hancur setelah truk tronton en trkator sering keluar masuk kompleks)

    Sediakan juga transportasi umum yg murah, nyaman, aman en tepat waktu. Jadi org ga harus selalu tergantung mobil dan motor ke mana2 en lalu lintas bs lebih lapang. Jadi gak sekadar mengeluh en menyalahkan pengguna jalan.

    Kalau itu dijalanin,jakarta gak akan gampang becek en macet kala hujan:-)

  • stella said:

    duh bnr bgt deh…namanya juga Jakarta..sepertiny sudah tradisi..sekarang ush mulai musim ujan nih,we’ll see next story ’bout our country..

  • fika wundira said:

    yup…stuju bnget thu..
    sebisa mungkin kita sebagai generasi muda,jangan cuman mengeluh..
    tapi ikut berpartisipasi mengatasi masalah kemacetan ini..

  • renny oktaviani said:

    yah biasa lah, pemerintah dan antek-anteknya sudah sangat terbiasa melontarkan pernyataan-pernyataan seperti itu ke publik tanpa adanya tindakan nyata dan signifikan dari “yang berwenang” dalam mengatasi masalah… kebiasaan itu mungkin tercipta dari monopoli-monopoli sektor utama yang banyak terjadi di negeri ini… jadi mereka bisa “seenak jidat” mengeluarkan pernyataan *sebodo amat, toh masyarakat yang butuh kita*
    harus ada persaingan dari pihak swasta, dan tak lupa, memberikan pembelajaran betapa pentingnya komunikasi di dalam pemerintahan… untuk menuju negeri yang lebih baik…

  • Valencia said:

    setuju banget! masyarakat selalu aja yang disalahin.. =(
    kalau emang pengguna kendaraan pribadi terlalu banyak, harusnya keberadaan public transport juga diperhatikan, khususnya masalah keamanan, jadi mungkin bisa meningkatkan keinginan masyarakat untuk mencoba public transport yang ada di jakarta, dan mengurangi jumlah pengguna kendaraan pribadi, shg tdk macet lagi, terlebih ktika hujan =)

  • Katherine Teja said:

    Saya setuju dengan artikel ini, menurut pendapat saya, sekarang ini banyak sekali bangunan yang dibangun seperti mall yang menghabiskan banyak lahan yang semestinya dapat digunakan untuk membangun bendungan atau mungkin membuat taman kota/ go green sehingga masalah banjir pun dapat diatasi dan tumbuhan hijau tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi global warming

  • livia s w said:

    yah bener bgt tuh.. sebenernya kemacetan dan kebanjiran di Jakarta itu sudah lekat pada identitas ibukota kita ini,dalam hal ini, pemerintah mungkin gagal dalam memberikan pemahaman pada masyarakat juga kurang tepat dalam membuat strategi untuk setidaknya mengurangi permasalahan tersebut.. seperti proyek busway, yang jalannya sering rusak,hehe,dan tidak mengurangi kemacetan di Jakarta malah kadang memperparah kemacetan di beberapa titik lalu lintas seperti di tomang atau di arteri..
    tapi kita jg tak bisa menyalahkan pemerintah jg sie..karena masyarakat indonesia itu masyarakat yang bandel,dan sebagian besar kurang terdidik..jadi kadang masyarakat kurang berpartisipasi dalam program2 pemerintah.. seperti 3 in 1, malah jadi sewa joki..ya sama aja macet..
    yah kira2 begitulah kerumitan permasalahan di ibukota kita ini.. Gud Luck pemerintah Jakarta..^^

  • Damayanti Karina Putri said:

    benerr bangett apalagi di musim hujan seperti saat ini…. wah wahh…..jakarta pasti macet di mana” dikarenakan banjir yang cukup luas….. wah wahh si cinta laura jadi bingung dehh deh benchekk kaga ada ojek nihh…..

  • hendra said:

    kebijakan kendaraan yang mengharuskan adanya stiker uji emisi pertanda telah lulus uji emisi sudah mengarah kepada solusi kemacetan, karena dengan begitu kendaraan akan tersaring untuk memasuki wilayah perkotaan jakarta. Selain itu mari beralih ke sarana angkutan umum seperti busway yang kini trayeknya cukup menjangkau spot-spot penting ibu kota, namun pemerintah maupun swasta diharapkan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik serta memperbanyak jumlah armada, agar para eksekutif-eksekutif dapat berbangga dan nyaman menggunakan transportasi tersebut tanpa berdesak-desakan.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.