Home » Featured

Komunitas Tangan Di Atas: Berbagi, Memberi, dan Meraup Rezeki

29 May 2010 One Comment

Menjaga Rahasia Bisnis ,menyimpan informasi atau  mengurangi kesempatan kompetitor untuk berkembang, adalah jurus-jurus bisnis yang jamak dilakukan untuk memperbesar usaha sendiri. Bagaimana kalau jurus itu dibalik? Memberikan rahasia bisnis, berbagi informasi dan memberi jalan kompetitor untuk maju?

Itulah value yang dianut oleh komunitas TDA, singkatan dari Tangan Diatas.   Sebuah komunitas yang mendukung anggotanya satu sama lain untuk menjadi wirausaha. Berbeda dengan prinsip kewirausahaan umumnya yang menekankan pada pentingnya menjaga resep produk/jasa, komunitas ini justru menekankan pentingnya konsep berbagi di antara sesama. Di kalangan komunitas ini bahkan ada keyakinan bahwa semakin banyak berbagi, maka akan semakin banyak benefit yang didapat. Suatu paham yang berangkat dari rasa bersyukur atas keberlimpahan rezeki yang pasti diberikan oleh Tuhan yang tak terbatas sumber dayanya  melawan asumsi ekonomi umum yang berlaku saat ini tentang perlunya rivalitas karena adanya keterbatasan  sumber daya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas.

Komunitas TDA adalah sebuah komunitas yang dibangun dengan basis dunia maya, terutama mailing list, dan berkembang menjadi kelompok-kelompok kecil bisnis yang disebut dengan Master Mind. Komunitas ini eksis dengan pendekatan 360o dalam sistem komunitas mereka. Dikatakan demikian karena komunitas itu, bagikan sentral dari sebuah lingkaran didekati oleh berbagai strategi untuk pengembangan eksistensinya. Selain value berbagi dan menebar rahmat, yaitu keyakinan bahwa berbagi akan memberikan manfaat, komunitas ini juga bergerak dengan konsep master mind dan networking dengan sistem sel.

Didalam master mind ini, dalam kurun waktu tertentu, sebuah kelompok melakukan pertemuan untuk melakukan sharing satu sama lain tentang bisnis masing-masing. Tidak ada rahasia dan resep bisnis yang disimpan. Karena, menjadi kaya dan dermawan adalah nilai-nilai komunitas yang berkembang dikalangan mereka.

Mau tahu bagaimana komunitas ini bergerak dengan sistem sel? Tayangkan pertanyaan di milis TDA bahwa Anda akan memulai usaha, maka bukan hanya jawaban yang Anda akan dapat, tapi juga bimbingan. Bahkan, tidak jarang beberapa orang akan mengajak bertemu untuk memberikan penjelasan detail mengenai lika-liku bisnis anda.

Inilah pertanyaan pertama yang harus dikembangkan, ketika sebuah merek akan mengembangkan atau membutuhkan sebuah komunitas, yaitu keyakinan. Seberapa jauh anggota sebuah komunitas memiliki keyakinan yang sama, hingga satu sama lain merasa ada ikatan emosional yang kuat.

Sejauh ini, kebanyakan merek membangun komunitas hanya sebatas wadah untuk menyalurkan aspirasi bersama. Ujung-ujungnya, wadah tersebut memberikan hanya sekedar kemudahan bagi anggota komunitas. Tapi apakah anggota komunitas merasa memberikan manfaatnya untuk komunitas merek tersebut? Belum tentu. Karena wadah tidak memiliki beliefs. Keyakinan hanya dimiliki oleh anggota komunitas itu sendiri.

Akibatnya bisa ditebak, komunitas tersebut betul-betul hanya menjadi wadah untuk melontarkan uneg-uneg atau mendapatkan diskon.  Tidak ada perasaan aman dan memiliki yang dirasakan antar anggota komunitas. Dan ketika merek mulai mengurangi porsinya untuk terlibat, berkurang pula minat anggota komunitas. Maka secara perlahan, komunitas itu pun menjadi tinggal nama.

Nilai keyakinan komunitas ini lah yang menjawab seberapa jauh eksistensi komunitas bisa bertahan lama. Bahkan, sekalipun komunitas tersebut dibentuk melulu untuk perpanjangan tangan sebuah merek.

Intinya, bangun keyakinan diantara anggota, biarkan mereka berproses untuk menemukan nilai-nilai bersama dalam komunitas. Setelah nilai-nilai mereka menjadi matang, baru lah merek bisa terlibat secara aktif.  Karena, ketika nilai-nilai mereka sudah kuat, dan komunitas tersebut merasa sejalan dengan merek kita, maka mereka akan menjadi brand ambassador yang kuat pula.

Itu juga acuan awal ketika sebuah merek akan mencari komunitas yang solid. Cari komunitas yang nilai-nilainya begitu kental masuk menjadi sikap dan perilaku anggotanya.

Ciri-cirinya mudah, ketika sebuah pengurus komunitas berpikir (diawal pertemuan) tentang berapa materi yang bisa mereka dapat dari merek kita, maka bisa dipastikan bahwa komunitas tersebut tidak memiliki keyakinan.  Sebaliknya, ketika pengurus komunitas melihat ada tidaknya kesesuaian merek kita dengan mereka, nah, itu lah komunitas yang kuat.

Begitu komunitas merasa memiliki kesamaan nilai, hasil yang kita dapat akan menakjubkan. Seluruh sel komunitas tersebut akan dengan sendirinya menjadi bagian dari kita. Mereka akan ikut menjadi endorser merek kita.

Sebuah proses endorsment yang memikat. Apalagi bila kita bisa bertemu dengan komunitas TDA yang sejak berdiri tahun 2006 telah memiliki 4000 anggota di portal, dan 2000 anggota di milis. Belum lagi yang bergerak secara off_line untuk menebar rahmat bagi sekitar.

Penulis Silih Agung Wasesa.

Artikel lain dapat dijumpai pada buku Strategi PR karangan Silih Agung Wasesa

Mari berbagi artikel ini:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Blogosphere News
  • email
  • LinkedIn
  • MySpace
  • Posterous
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter

One Comment »

  • fatriha said:

    saya mau pesen cd power point KenapaHarusPR. gimana ya caranya? makasiee..

    ria – 0812.216.8917

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.