Home » Featured, Studi Kasus!

JIKA SAYA OMNI……

14 December 2009 2 Comments

omni_prita

Kemarin, saya kesal sekali. Ada orang yang saya bantu eh malah nyalah-nyalahin saya. Pake nulis e-mail segala lagi ke temen-temennya. Bilang saya ga becus nolong lah, ga professional lah. Parahnya lagi, dia malah bilang ke temen-temennya supaya hati-hati kalau minta tolong sama saya. Saya bukannya nolong, katanya, malah nyelakain.

Saya ga terima digituin. Itu pencemaran nama baik namanya! Saya minta dia minta maaf! Plus klarifikasi ke temen-temennya bahwa saya ga seperti itu. Saya kan sudah ikutin prosedur. Kan saya ga mungkin dong muasin semua orang. Memang saya alat pemuas?
Apalagi saya bener niat baek kok mau nolong. Hargain dong itu!

Eh dia ngeyel. Katanya dia cuman cerita apa adanya kok ke. Terus, masalah e-mailnya nyebar dia bilang dia cuman nge-mail ke satu-dua orang temennya kok. Salah temen-temennya yang nge-forward e-mail itu jadi nyebar kemana-mana. Enak aja dia ngomong begitu..

Pokoknya saya ga terima. Saya laporin dia ke polisi. Biar ini jadi pelajaran buat orang-orang yang lain. Supaya tahu terima kasih kalau ditolong. Prosesnya sekarang udah jalan. Dia sudah masuk bui. Biar orang-orang tahu, jangan sembarangan ngenjelekin saya.

Eh..eh. eh…Tapi….Tapi…kok dukungan ke dia makin kuat ya? Orang bukannya malah nyalahin dia atau jera, eh malah tambah ikut-ikutan nyalahin saya. Bukan saya aja yang disalahin…tapi juga orang-orang yang bantu saya. Dia semakin banyak yang dukung. Di facebook aja pendukungnya ada 90 ribu orang….Mereka malah ngumpilin koin segala. Katanya untuk patugan bayarin denda putusan pengadilan yang dijatuhkan ke dia. Berkat internet, yang dukung dia bukan orang di Jakarta saja tapi sampai ke pelosok Indonsia segala.

Duh bagaimana ini ceritanya? Kan dia udah kalah secara hukum. Pengacara-pengacara saya juga jago-jago. Dia udah dijerat dengan pasal pencemaran nama baik kata mereka. Posisinya lemah secara hukum. Tenang aja, kata mereka, saya pasti menang. Tapi kok yang dukung dia makin banyak ya??

Sempat terpikir di saya apa gunanya saya menang di pengadilan kalau akhirnya orang-orang jadi benci saya. Nama saya bukannya tambah baik, malah tambah buruk. Padahal kan kerjaan saya nolongin orang. Mereka bayar untuk itu. Tapi kalau kemudian banyak yang ga suka saya, gimana orang mau dateng dan minta tolong ke saya?

Aduh-aduh, kalau gini ceritanya, masa depan saya jadi taruhan. Bisa-bisa besok usaha saya nolongi orang jadi gulung tikar. Hhmm kacau, kacau…

Duh enaknya gimana ya, apa saya tarik aja tuntutan saya ke dia? Tapi kan udah kepalang tanggung. Saya udah bayar mahal pengacar2 saya untuk tuntut dia. Kalo saya tarik tuntutn saya, saya akan maluu sekali. Dia pasti akan nertawain saya. Saya ga mau dia ketawa-ketawa senang nanti. Tapi apa itu lebih baik daripada nama baik saya jadi benar-benar tercemar?

Bingung..bingung jadinya. Apa ya yang sebaiknya saya lakukan? Saya ga mau malu. Tapi saya ga mau juga nama saya jelek. Andai saja ada yang bisa kasih solusi….

ful

*Ditulis oleh Saifullah Kundo, Strategic Content Specialist, Praktisi PR, dan Mantan Wartawan
Editing dan Illustrasi oleh Takhta Pandu Padmanegara

Image Source: http://blog.efahmi.info/wp-content/uploads/2009/06/omni_prita.jpg

Mari berbagi artikel ini:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Blogosphere News
  • email
  • LinkedIn
  • MySpace
  • Posterous
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter

2 Comments »

  • Dimas said:

    Repot dan serba salah bila situasinya sudah krisis seperti ini. Belakangan malah ketahuan kalau embel-embel
    “internasional” di belakang brand OMNI cuma “tempelan”. Jadilah tambah runyam nih urusan.

    Untuk memulihkan nama baik jelas, sangat berat. Sulit karena image yang terekam di kepala orang-orang (stakeholders) saat ini justru sudah negatif. Buktinya banyak institusi rekanan belakangan ini malah memutuskan hubungan.

    Sebetulnya ada dua pilihan dalam menangani kasus ini. Pertama, jika OMNI sudah kepalang tanggung hancur, ya ‘kamikaze’ sekalian. Gempur terus Prita. Win oriented, niatnya menghancurkan Prita, sehancur-hancurnya, no matter what public say. Tapi setelah itu, tamat sudah riwayat OMNI. Publik, masyarakat akan alergi dan tak sudi lagi berobat ke OMNI. Bangkrut tidak sampai satu tahun, saya yakin.

    Atau langkah kedua, jika OMNI ingin tetap bertahan dan terus berdiri dan berdampingan lagi dengan masyarakat. Nah, langkah (satu-satunya) yang paling strategis adalah dengan menawarkan kembali perdamaian dengan bentuk mencabut seluruh gugatan terhadap Prita baik itu gugatan perdata maupun pidana. Ok, secara hukum kita “kalah”. Tapi dibalik tindakan itu OMNI sesungguhnya berpesan kepada publik, bahwa “OMNI bukan institusi yang arogan”.

    Ganti tokoh-tokoh OMNI yang selama ini terkenal arogan dengan tokoh-tokoh baru yang lebih familiar atau populer di mata masyarakat sebagai seolah-olah “brand ambassador”. Ini penting untuk memuluskan niat bahwa “OMNI HAS CHANGE”. Nah, tokoh-tokoh inilah yang diutus OMNI untuk memuluskan niat itu. Tokoh-tokoh baru yang populer ini yang mewakili OMNI menawarkan opsi itu ke Prita, berbicara ke publik dan sebagainya mengenai posisi dan sikap OMNI sekarang.

    Dengan cara itu, OMNI memang terkesan kalah. Namun secara PR, OMNI sebetulnya justru telah memenangkan hati publik, and thats PR!.
    Dengan begitu, saya yakin citra OMNI yang sudah sedemikian rusak bisa mulai diperbaiki setelah OMNI kembali mulai mendapat kepercayaan dari publik. Memang butuh waktu cukup lama untuk mengubah persepsi masyarakat yang sudah terlanjur rusak, tetapi setidaknya upaya itu sudah bisa segera dimulai.

  • Saifullah Kundo said:

    Betul. Dalam kasus Omni, rumah sakit itu sudah kepalang jadi musuh bersama masyarakat. Harus ada upaya2 PR radikal yang dilakukan.

    Salah satu cara darurat yang bisa dilakukan adalah upaya spinning untuk ‘mengalihkan’ kesalahan Omni kepada pihak lain. Misal: ‘Omni sudah mau berdamai, namun ternyata sistem peradilan kita tak memungkinkan untuk itu, atau jaksa yang merasa perlu untuk meneruskan tuntutan, bukan Omni’ Maka mungkin tudingan masyarakat akan beralih ke kejaksaan dan pengadilan. Setelah itu, seperti yang dikatakan Mas Dimas, harus ada perubahan radikal di RS Omni hingga citra yang timbul jadi positif di masyarakat. Terima kasih Mas,masukannya. Atau mungkin ada usul lain?

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.