Jakarta, gefeliciteerd met je verjaardag!
Selamat Ulang Tahun Jakarta. Sudah tua juga ya, 483 tahun! Kalau diukur dengan rata-rata usia harapan hidup manusia Indonesia yang 72 tahun saja, maka kota ini sudah jadi saksi bisu 7 generasi anak manusia. Luar biasa. Itu berarti kota ini sudah jadi saksi bisu kehidupan dari kakek buyut kita. Bagaimana tidak? Jika saja kota ini makhluk hidup, mungkin saja ia turut bersorak saat Fatahilah berhasil menghalau penjajah Portugis, bahkan juga turut memekikkan kata ‘Merdeka’ saat kemerdekaan Indonesia di-proklamirkan, atau bahkan menangis tersedu saat melihat anak-anak bangsa saling bantai di kawasan Tanjung Priok.
Usia yang sudah tua, sudah melalui banyak asam getir pengalaman.
Seperti layaknya perayaan ulang tahun, pemerintah kota tua ini bermaksud merayakannya dengan meriah. Semeriah mungkin. Ada pertunjukan barongsai, ada tanjidor, ada lomba lari dan kegiatan seabreg lainnya yang total mencakup 72 rangkaian acara. Kegiatan dipusatkan di kota tua, kawasan Glodok dan sekitarnya. Selain mendadani kota, PEMDA DKI juga tak lupa mendandani para stafnya. Para PNS di lingkungan PEMDA DKI pada 22 Juni diwajibkan mengenakan pakaian adat betawi. Waw, cakep deh pokoknye.
Semua upaya dilakukan untuk memupuri ibu tua ini agar terlihat cantik di perayaan ulang tahunnya. Tujuannya, seperti yang diungkapkan Bang Poke (yang Betawi asli) adalah, agar masyarakat Jakarta semakin mencintai kota tua ini. Selain itu juga untuk mencitrakan dirnya sebagai kota jasa yang ramah lingkungan. Namun cukupkah itu semua?
Tidak saudara. Kota tua ini, ibarat kata, sudah terlalu reyot untuk dipupuri sesaat. Pundaknya sudah terlalu sarat dengan beban. Dari atas sampai bawah, semuanya menyimpan masalah. Sebut saja dari udara yang tercemar, lahan pemukiman yang terbatas, banjir yang kerap melanda, kemacetan parah di mana-mana, hilangnya ruang terbuka hijau dan air tanah yang terkontaminasi. Ada sekitar 12 juta jiwa yang beradu sikut mencari rejeki di kota ini. Dari para pekerja kerah biru seperti buruh dan kuli panggul, hingga pekerja kerah putih seperti karyawan dan para dosen hingga pencopet dan koruptor. Jika tidak dikelola dengan baik, bukan citra bagus yang didapat, namun citra keras dan tidak bersahabat. Masih ingat pemeo Ibu Tiri tak Sekejam Ibu Kota? Itu mungkin bisa menggambarkan citra yang melekat pada Ibu yang sebenarnya tidak salah ini.
Hubungan baik untuk citra yang baik
Lalu bagaimana citra Jakarta bagi para penghuninya saat ini? Bicara tentang Citra Jakarta, tentu tak lepas dari bagaimana pemerintah kota mengelola hubungan public (public relations) dengan penduduknya saat ini. Citra positif hanya dapat timbul dari hubungan yang baik. Sementara hubungan baik tak akan terjalin dengan hanya hubungan sesaat. Tidak juga dengan hubungan semu seperti perayaan tahunan yang menghabiskan dana miliaran saat perayaan ulang tahun saja. Bukan, bukan itu Bang…
Hubungan baik hanya akan terjalin dengan kepedulian yang tulus. Sudah tuluskan aparat PEMDA kita melayani para penduduknya? Dari yang kecil saja, seperti pelayanan KTP atau pelayanan parkir hingga yang berskala besar seperti penggusuran dan penangangan banjir? Bagaimana penduduk akan peduli membuang sampah pada tempatnya jika petugas sampah jarang datang? Bisa-bisa sampah membusuk di rumah. Jika hujan sedikit saja macet, lalu apakah kira-kira pengguna jalan yakin bahwa pemerintah memang tulus menangani masalah kemacetan di Jakarta? Atau jangan-jangan hanya lips service belaka pada saat musim kampanye. Jangan pula jika ada masalah yang tak tertangani, penduduk lagi yang disalahkan. Semoga tidak begitu adanya.
Terlepas dari sumuknya kota ini dan beragam problematika yang ada, yakinlah bahwa banyak penduduknya yang mencintai kota ini. Hanya perlu sedikit hubungan baik. Hubungan yang tulus dari aparat PEMDA DKI. Jika itu dijalankan, yakinlah bahwa kita semua akan bahu-membahu mempercantik ibu tua ini hingga bisa panjang umur dan sehat. Jadi, selamat ulang tahun Jakarta, gefeliciteerd met je verjaardag!
Ditulis oleh Saifullah Kundo, Strategic Content Specialist, Praktisi PR, dan Mantan Wartawan









Leave your response!