<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kenapa Harus PR</title>
	<atom:link href="http://kenapaharuspr.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kenapaharuspr.com</link>
	<description>Indonesian PR and Maketing Communication Guide</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2012 08:28:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Social Media dan Industri Musik Indonesia</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/04/social-media-dan-industri-musik-indonesia/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/04/social-media-dan-industri-musik-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 08:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ferdias Ramadoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[digital music]]></category>
		<category><![CDATA[fan base]]></category>
		<category><![CDATA[fans]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1855</guid>
		<description><![CDATA[Jika sekitar 5-6 tahun yang lalu untuk mendengar musik-musik keren kita mesti pergi ke toko musik untuk membeli rekaman fisik berupa CD atau kaset, atau yang paling tega adalah dengan hunting CD atau kaset bajakan di pedagang CD bajakan pinggir jalan. Maka hal tersebut sudah berubah hampir 180 derajat akhir-akhir ini. Industri musik dunia, atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika sekitar 5-6 tahun yang lalu untuk mendengar musik-musik keren kita mesti pergi ke toko musik untuk membeli rekaman fisik berupa CD atau kaset, atau yang paling tega adalah dengan hunting CD atau kaset bajakan di pedagang CD bajakan pinggir jalan. Maka hal tersebut sudah berubah hampir 180 derajat akhir-akhir ini.</p>
<div id="attachment_1856" class="wp-caption alignleft" style="width: 287px"><img class=" wp-image-1856" title="Music_Panels" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2012/04/Music_Panels__Compiled_by_smashmethod.jpg" alt="" width="277" height="207" /><p class="wp-caption-text">image source : smashmethod.deviantart.com</p></div>
<p>Industri musik dunia, atau lebih tepatnya di Indonesia bagai merasakan kiamat setelah berkembangnya teknologi musik digital yang ditandai dengan maraknya penyebaran musik yang berformat <em>mp3</em> di mana-mana. Keadaan ini kontan membuat penjualan rekaman fisik menurun drastis, dan tentunya menuntut para label rekaman untuk lebih kreatif menjual “barang dagangan” mereka.</p>
<p>Perkembangan teknologi lagi-lagi membawa dampak yang sangat signifikan bagi gaya hidup manusia dan kali ini industri musik yang menerima dampaknya. Bagaimana tidak, kini para pemusik yang bernaung di bawah label besar hampir tidak ada bedanya dengan pemusik-pemusik independen yang memang sedari awal tidak mengandalkan penjualan rekaman fisik. Sekarang mereka (pemusik label maupun independen) pun dituntut untuk bisa menjalin hubungan yang baik dengan basis fans mereka bila ingin tetap bertahan di belantika musik Indonesia. Karena basis fans inilah yang ke depan akan menjadi market yang betul-betul menjanjikan dan bahkan bisa ikut dijadikan corong pemasaran yang sangat efektif.</p>
<p>Namun ternyata kemajuan teknologi tidak lantas menjadi sebuah “kiamat” bagi beberapa pemusik, yaa..!! maksud saya adalah para pemusik yang dengan pintarnya menggunakan jalur social media sebagai salah satu cara kreatif untuk membina hubungan yang baik dengan basis fansnya. Pemusik-pemusik yang saya sebut pintar di atas gak hanya sekedar punya akun di jejaring sosial yang ramai seperti di youtube, twitter, dan facebook tapi mereka membuka pintu <em>conversation</em> dengan basis fans, mereka mencari tahu apa yang fans inginkan dan apa yang fans pikirkan tentang mereka. Pemusik pintar ini juga tidak hanya profit oriented tapi juga customer oriented, karena mereka yakin ketika customer/fans mereka terpuaskan maka profit pun akan datang serta merta bersama loyalitas fans tersebut.</p>
<p>Sekarang coba Anda mulai perhatikan pemusik mana yang termasuk ke dalam kategori “pemusik pintar” yang saya maksud, apakah pemusik kesayangan Anda termasuk ke dalam kategori itu? Bila tidak, ada baiknya Anda mulai mencari kenikmatan suara dari “pemusik pintar”, yang tentunya akan selalu memanjakan Anda melalui komunikasi dua arah yang mereka bangun kepada Anda, Ya..!! Anda, yang tanpa sadar sudah menjadi basis fans para “pemusik pintar”. <img src='http://kenapaharuspr.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/04/social-media-dan-industri-musik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Local Leadership Days</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/04/local-leadership-days/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/04/local-leadership-days/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 03:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tarisa Milano</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1848</guid>
		<description><![CDATA[Akademi Berbagi sebuah institusi non resmi yang mengajak kepada semua yang ingin berbagi ilmu dan menerima ilmu secara gratis. Bukanlah suatu hal yang tidak mungkin ada banyak orang expert diluar sana bersedia membagi ilmunya, dan tentunya masih banyak orang yang ingin sekali untuk menimba ilmu. Semula berawal dari penggerak Akademi Berbagi Ainun Chonsun yang ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akademi Berbagi sebuah institusi non resmi yang mengajak kepada semua yang ingin berbagi ilmu dan menerima ilmu secara gratis. Bukanlah suatu hal yang tidak mungkin ada banyak orang expert diluar sana bersedia membagi ilmunya, dan tentunya masih banyak orang yang ingin sekali untuk menimba ilmu. Semula berawal dari penggerak Akademi Berbagi Ainun Chonsun yang ingin tau lebih banyak soal kelas copywriting, Beliau menghubungi Subiakto Prisoedarsono Creative director Hotline advertising untuk memberikan kelas gratis mengenai copy writing, ternyata disambut baik oleh Pak Subiakto dan peserta yang hadir pun antusias, disitulah mulainya Akademi berbagi.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1853" title="IMG_0773" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2012/04/IMG_0773-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" />Kini telah 2 tahun akademi berbagi eksis ,hingga sekarang Akademi Berbagi tersebar di 30 kota di Indonesia masing-masing dipimpin oleh 1 kepala sekolah. Untuk itulah Local Leader days diselenggarakan dengan tujuan memberikan pembekalan kepada semua relawan agar bisa menjadi leader yang inspiratif  terus menularkan semangat berbagi di kotanya masing-masing.</p>
<p>Workshop yang diadakan di Cico resort Bogor selama 3 hari dari 30 Maret 2012 hingga 1 April 2012 juga menjadi ajang offline alias bertatap muka bagi peserta Akademi berbagi dan berkenalan langsung, karena selama ini mereka saling menyapa dari milis, bbm atau twitter. Acara tersebut yang target utamanya adalah para kepala sekolah agar lebih termotivasi dan memahami perannya sebagai pemimpin. Dan nantinya dapat menularkan ilmu dan semangat berbagi untuk para guru, relawan dan peserta</p>
<p>Para nara sumber yang dating pun tak kalah heboh, yang tentunya berkompeten dibidangnya dari mulai dari Ndorokakung, Aidil Akbar, Salsabeela, Lucy Wiryono dan masih banyak lagi. Sayang tempat ini terbatas hanya bagi 70 peserta, dan dari 70 peserta dapat membagi ilmunya kesemua peserta, guru dan relawan akademi berbagi.</p>
<p>Materi-materi dapat diunduh via twitter oleh siapa saja, itu lah kelebihan dari Akademi Berbagi, berbagi untuk semua. Para Akberian percaya masih percaya banyak orang baik diluar sana yang masih ingin berbagi kepada sesama.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/04/local-leadership-days/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Kreatif dari Huruf Kecil</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/04/menulis-kreatif-dari-huruf-kecil/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/04/menulis-kreatif-dari-huruf-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 03:31:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmi Nuraini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Talkshow]]></category>
		<category><![CDATA[huruf kecil]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1836</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan dari kita masih merasa tidak mampu menjadi penulis. Padahal menulis merupakan salah satu aktivitas yang sering kita lakukan sehari-hari. Aktivitas menulis sederhana seperti menulis email, notulensi dan sms, tanpa kita sadari selalu kita lakukan tiap harinya. Lantas apa yang menyebabkan kita merasa minder untuk mencoba menghasilkan karya yang menarik pembaca untuk mengikuti hingga akhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kenapaharuspr.com/2012/04/menulis-kreatif-dari-huruf-kecil/aan_mansyur-3/" rel="attachment wp-att-1844"><img class="alignnone size-medium wp-image-1844" title="aan_mansyur" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2012/04/aan_mansyur2-215x300.jpg" alt="" width="215" height="300" /></a></p>
<p>Kebanyakan dari kita masih merasa tidak mampu menjadi penulis. Padahal menulis merupakan salah satu aktivitas yang sering kita lakukan sehari-hari. Aktivitas menulis sederhana seperti menulis email, notulensi dan sms, tanpa kita sadari selalu kita lakukan tiap harinya.</p>
<p>Lantas apa yang menyebabkan kita merasa minder untuk mencoba menghasilkan karya yang menarik pembaca untuk mengikuti hingga akhir kalimat ? Kebanyakan dari kita pasti sepakat bahwa sugesti kitalah yang menyebabkan kita merasa inferior.</p>
<p>Dari huruf kecil kita bisa menghasilkan karya yang besar. Pesan itulah yang ingin disampaikan Aan, salah satu penulis yang dikenal melalui account twitter, @hurufkecil. Saat ditemui di kelas &#8220;Menulis Kreatif&#8221; yang diselenggarakan Akademi Berbagi Jakarta di Wisma BNI 46, Kamis (5/4), Aan berbagi cerita bahwa tugas penulis adalah membunuh klise.</p>
<p>Tulisan berkenaan dengan pengaturan irama cerita. Menulis, ibaratnya sama dengan menulis lagu, ada tangga nada yang harus dimainkan oleh penulisnya. Naik turun intonasi itulah yang membuat pembaca tidak merasa bosan mengikuti tulisan yang kita buat.</p>
<p>Sebagai contoh, warna merah identik dengan banyak barang, mulai dari saos, bendera, bibir, apel, dan sebagainya. Bagi penulis kreatif, berfikir tentang konsep warna dapat dibawa satu langkah lebih jauh dari apa yang kebanyakan orang pikirkan. Bagi Aan, warna merah identik dengan KETUPAT. Kok bisa, kenapa bisa begitu ? Pertanyaan pembaca seperti itulah yang sengaja disimpan oleh penulis kreatif untuk menciptakan rasa penasaran di awal kalimat.</p>
<p>Untuk menjadi penulis terampil, kita juga harus sering menulis. Karena ketrampilan menulis ditentukan oleh kebiasaan kita dalam menulis, bukan bakat dalam menulis. Editor yang paling baik dalam menilai tulisan adalah waktu. Maka, tinggalkanlah karya tulisan yang sudah kita buat, dan kembalilah pada waktu yang berbeda, sehingga kita bisa tahu dimana letak kekurangan dari tulisan kita.</p>
<p>Kita akan merasa lebih leluasa menulis jika mengurangi penggunaan kata sifat dalam sebuah tulisan. Kata sifat sulit dideskripsikan, sehingga kembangan tulisan kita terasa kurang kreatif. Untuk mengetahuinya, cobalah mengungkapkan perasaan rindu kita, tanpa menggunakan kata rindu atau kata sejenis seperti kangen, dan sejenisnya. Baru akan ketahuan sejauh mana imajinasi kita akan bermain.</p>
<p>Imajinasi juga dapat dikembangkan dari sesuatu yang kita ketahui. Misalnya anjing berkepala tiga yang ada di film Harry Potter, sebenarnya berasal dari pengetahuan yang sudah kita miliki, yang terdiri dari anjing, kepala dan tiga. Imajinasi tidak pernah berasal dari kekosongan makna yang kita tidak ketahui sebelumnya.</p>
<p>Menulis bisa juga bermanfaat untuk melatih kita menjadi pribadi yang rendah hati. Menulis memaksa kita untuk mencermati hal-hal sederhana yang ada di lingkungan kita. Itulah yang menyebabkan perasaan kita menjadi lebih peka.</p>
<p>Sebagai tolak ukur menulis, kita bisa mengasosiasikan menulis dengan rok perempuan. Rok tersebut harus cukup panjang untuk menutup apa yang seharusnya ditutup, dan rok harus cukup pendek untuk menarik perhatian. Kadarnya harus pas, tidak boleh terlalu panjang dan tidak boleh terlalu pendek.</p>
<p>Selamat memulai&#8230;</p>
<p>Sumber foto : http://akademiberbagi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/04/menulis-kreatif-dari-huruf-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Public Relations, Penting Nggak sih?</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/04/public-relations-penting-nggak-sih/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/04/public-relations-penting-nggak-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 04:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kenapa Harus PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Public Relations]]></category>
		<category><![CDATA[inhouse PR]]></category>
		<category><![CDATA[PR]]></category>
		<category><![CDATA[Pubic Relation]]></category>
		<category><![CDATA[Public]]></category>
		<category><![CDATA[Relation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1833</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini, di Indonesia masih terdapat perusahaan yang masih menganggap remeh  dan tidak menganggap penting adanya posisi Public Relations atau Humas. Terkadang bagi perusahaan tersebut, divisi Humas hanya dijadikan alat “cuci piring” atau sekedar pemberantas krisis yang sedang melanda perusahaan. Maksudnya, apabila perusahaan dilanda krisis barulah divisi PR atau Humas dilibatkan oleh pihak manajemen perusahaan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini, di Indonesia masih terdapat perusahaan yang masih menganggap remeh  dan tidak menganggap penting adanya posisi <em>Public Relation</em><em>s</em> atau Humas. Terkadang bagi perusahaan tersebut, divisi Humas hanya dijadikan alat “<em>cuci piring</em>” atau sekedar pemberantas krisis yang sedang melanda perusahaan. Maksudnya, apabila perusahaan dilanda krisis barulah divisi PR atau Humas dilibatkan oleh pihak manajemen perusahaan. Tetapi ketika perusahaan sedang dalam kondisi yang baik, PR atau Humas sering tidak dilibatkan oleh rencana manajemen perusahaan tersebut. Bahkan ketika jajaran manajemen sedang melakukan rapat, sering kali divisi PR atau Humas tidak dilibatkan. Dan lebih miris lagi apabila perusahaan tengah dihadapi dalam situasi dimana mereka (perusahaan) harus mengurangi atau memangkas karyawan alias PHK, tidak jarang karyawan dari department PR atau Humas menjadi prioritas pemangkasan wartawan. Situasi tersebut yang belakangan dihadapi oleh berbagai praktisi Kehumasan di Indonesia.</p>
<p>Disamping itu semua, tak jarang perusahaan yang telah memberikan PR di posisi strategis dalam perusahaan. Perusahaan menempatkan PR di posisi strategis karena perusahaan tersebut telah memahami bahwa peran dan fungsi PR penting bagi perusahaan tersebut. Public Relations atau Humas itu sendiri mempunyai fungsi utama yaitu menjaga hubungan baik dengan semua kepentingan (<em>stakeholder</em>) demi tercipta opini publik dan image perusahaan yang positif. Tak jarang seorang praktisi PR berfungsi dalam memberikan masukkan dan meyakinkan Direktur perusahaan mengenai apa yang harus dilakukan dalam menjaga situasi yang harmonis dengan publik internal (investor, karyawan, manajemen<em>, security, office boy, </em>dan sebagainya) serta publik eksternal (<em>client, customer, </em>masyarakat lingkungan sekitar, pemerintah, media dan lain sebagainya).</p>
<p>Fungsi dari seorang PR ini sebenarnya memiliki peran yang sangat bermanfaat bagi kemajuan suatu perusahaan. Tetapi pada kenyataanya masih banyak manajemen perusahaan yang belum menyadari fungsi dari PR atau Humas tersebut. Fungsi dari PR sendiri tidak akan berjalan baik apabila manajemen tidak mempercayai peran PR atau Humas dalam kinerja perusahaan tersebut.  Oleh karena itu, sebelum PR menjalankan fungsinya dalam suatu organisasi, sebaiknya divisi Kehumasan tersebut bisa meyakinkan <em>Top </em><em>Mana</em><em>gemen</em><em>t</em> mengenai kemampuan mereka (Humas) dalam menjalankan fungsinya.</p>
<p>Terdapat beberapa langkah penting seorang PR dalam meyakinkan <em>Top </em><em>Mana</em><em>gement</em> dalam perusahaan mengenai kinerja mereka. Pertama, seorang PR bisa dengan menunjukkan bagaimana membina hubungan baik dengan rekan-rekan wartawan. Misal, pada saat pengundangan jurnalis dalam acara eksternal perusahaan, praktisi PR atau Humas harus memberikan saran kepada bos perusahaan mengenai apa yang dilakukan oleh perusahaan, bergerak di bidang apa perusahaan tersebut, apa prestasi yang didapatkan oleh perusahaan tersebut. Praktisi PR harus membuat “<em>Key Message Development</em>”. <em>Key Message</em> adalah pesan kunci yang menjadi pijakan dalam membuat setiap <em>statement</em> dan menjadi acuan dalam merancang strategi dan program komunikasi. Jadi segala <em>statement</em> si bos perusahaan tersebut ketika diwawancara oleh wartawan tidak lepas dari “<em>Key Message Development</em>” yang telah dibuat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kedua, praktisi PR bisa juga mengumpulkan kliping mengenai segala pemberitaan positif mengenai berbagai perusahaan yang mempercayai kinerja PR dalam segala rencana kerja. Sehingga Sang Bos dan jajaran manajemen perusahaan melihat bahwa perusahaan yang mempercayai kinerja PR dalam kerja mereka dapat berhasil dalam usahanya mempublikasikan hal positif perusahaan melalui media. Ketiga, Praktisi PR perusahaan juga bisa mengajukan untuk melakukan study banding terhadap divisi PR di perusahaan lain yang telah berhasil melaksanakan fungsi PR.</p>
<p>Hal yang sudah disebutkan sebelumnya sesuai  dengan “Teori Hubungan” atau “Teori Komunikasi Relasional” yang dikutip dari Buku <em>Manajemen Public Relations</em> karangan <em>Morissan, M.A</em>  mengatakan bahwa hubungan selalu terkait dengan komunikasi dan sifat-sifat hubungan ditentukan oleh komunikasi para anggotanya. Dengan kata lain, jika PR ingin berhubungan baik dengan top manajemen perusahaannya, mereka harus berkomunikasi dengan jajaran manajemen perusahaan dan menentukan komunikasi seperti apa yang akan mereka (Humas) lakukan terhadap jajaran manajemen perusahaan.</p>
<p>Biasanya, ada beberapa tanda atau hasil apabila Top Manajemen sudah menyukai dan menganggap penting profesi PR perusahaannya. Pertama adalah biasanya Manajemen perusahaan sudah melakukan perjanjian atau meeting dengan wartawan tanpa sepengetahuan praktisi Humas organisasinya, atau bisa jadi si bos meminta Humasnya untuk menghubungi wartawan tersebut guna melakukan wawancara. Kedua, biasanya bos sering meminta pendapat dan masukan dari praktisi Humas organisasinya mengenai apa yang harus dilakukan oleh perusahaan atau organisasinya mengenai kinerja kedepannya. Ketiga, biasanya si bos akan meminta Department Humasnya untuk ikut dalam meeting atau rapat kerja organisasinya.</p>
<p>Jadi, sudahkah perusahaan anda menganggap posisi PR memiliki peran yang penting?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Referensi:</p>
<p>Buku <em>Strategi Public Relation</em> karangan <em>Silih Agung Wasesa</em> &amp;  <em>Jim Macn</em><em>amara</em>.</p>
<p>Buku <em>Manajemen Public Relations</em> karangan Morissan, M.A</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/04/public-relations-penting-nggak-sih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekilas Tentang Personal Branding</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/03/personal-branding/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/03/personal-branding/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 06:26:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Putri Afrili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Branding]]></category>
		<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[branding]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Branding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1825</guid>
		<description><![CDATA[Personal Branding. Pernah mendengarnya? Sebagai praktisi PR, anda pasti akrab sekali dengan istilah Branding. Mulai dari corporate branding, organizational branding, product branding hingga personal branding. Menurut Guy Kawasaki, “Brands are built on what people are saying about you, not what you’re saying about yourself”. Personal branding tidak serta merta terbentuk secara ilmiah, bukan berdasar apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Personal Branding</em>. Pernah mendengarnya?</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1826" title="personalbrand" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2012/03/personalbrand.jpg" alt="" width="156" height="156" />Sebagai praktisi PR, anda pasti akrab sekali dengan istilah Branding. Mulai dari corporate branding, organizational branding, product branding hingga personal branding. Menurut Guy Kawasaki, “<em>Brands are built on what people are saying about you, not what you’re saying about yourself</em>”. Personal branding tidak serta merta terbentuk secara ilmiah, bukan berdasar apa yang kita katakana tentang diri kita, tetapi melalui proses yang dilakukan oleh diri kita sebagai personal <em>(brand)</em> dan dipengaruhi oleh reputasi kita serta persepsi orang terhadap kita.</p>
<p>Mungkin kita salah satu orang yang tidak mempersoalkan mengenai <em>Personal Branding</em> dari diri kita. Padahal, jika kita melakukan upaya untuk ‘membungkus’ diri kita dengan ‘<em>branding</em> personal’ maka hal tersebut bisa memperkuat karakter kita. <em>Personal branding</em> bukan berarti ‘memakai topeng’ untuk membentuk identitas ataupun karakter palsu, tetapi adalah upaya untuk membentuk persepsi orang terhadap diri kita, sesuai dengan yang kita inginkan dan harapkan. Usaha ‘pemakaian topeng’ adalah menjadi yang bukan dirinya, sedangkan <em>Personal Branding</em> adalah memperkuat sisi yang menjadi andalan dalam dirinya.</p>
<p>Dalam upaya untuk memperkuat <em>Personal Branding</em> tersebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Berikut tipsnya: (1) Kenali terlebih dahulu diri anda, identifikasi kelebihan yang anda punya; (2) Tentukan target yang anda inginkan, “Bagaimana yang anda ingin orang lain nilai tentang diri anda?” ; (3) Apa value yang terdapat dalam diri anda? Apa saja yang ingin ditonjolkan?; (4) Bangun Reputasi anda. Jadi diri sendiri dan tidak dibuat-buat; (5) Ekspos diri anda menggunakan berbagai tools; (6) Ekspresikan diri anda.</p>
<p>Jika berbagai upaya diatas telah dicoba, saatnya melakukan pengukuran terhadap seberapa berhasil <em>Personal Brand</em> anda terbentuk. Cara mengukur yang paling mudah adalah dengan melakukan riset kecil terhadap orang-orang sekitar anda mengenai apa yang mereka pikirkan ketika mendengar anda, atau sebutkan 3 hal yang paling diingat dari diri anda. Jika jawaban mereka sesuai dengan yang anda harapkan dalam upaya <em>Personal Branding</em> anda, bersyukurlah. Jika belum dan masih ada hal negative yang tidak sesuai dengan tujuan <em>Personal Brand</em> anda, jadikan itu kritik membangun. Terus tingkatkan usaha positif untuk memperkuat <em>Personal Brand</em> anda. Inti dari <em>Personal Branding</em> ini tentulah jadi diri sendiri, terus berpikir positif dan konsisten.</p>
<p>Jadi, bagaimana personal branding anda? Sudah terbentuk, atau tertarik membentuknya? Silakan mencoba…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/03/personal-branding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keberhasilan : 20% Konsep; 80% Strategi</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/03/keberhasilan-20-konsep-80-strategi/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/03/keberhasilan-20-konsep-80-strategi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 02:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmi Nuraini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1805</guid>
		<description><![CDATA[Keberhasilan sebuah program komunikasi hanya 20% saja yang dipengaruhi oleh konsep. Selebihnya (80%) dipengaruhi oleh strategi marketing dan komunikasi. Fakta-fakta semacam ini bisa diketahui jika sesama praktisi PR mau untuk saling berbagi ilmu, cerita sana- sini dan memberikan bocoran-bocoran keberhasilan program. Saat ini, salah satu kebutuhan para praktisi PR adalah meng-upgrade pengetahuan terkini seputar dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kenapaharuspr.com/2012/03/keberhasilan-20-konsep-80-strategi/2-3/" rel="attachment wp-att-1811"><img title="Silih Agung Wasesa memberikan insight tentang IMC di Era Digital" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2012/03/22-300x208.jpg" alt="" width="300" height="208" /></a></p>
<p>Keberhasilan sebuah program komunikasi hanya 20% saja yang dipengaruhi oleh konsep. Selebihnya (80%) dipengaruhi oleh strategi marketing dan komunikasi. Fakta-fakta semacam ini bisa diketahui jika sesama praktisi PR mau untuk saling berbagi ilmu, cerita sana- sini dan memberikan bocoran-bocoran keberhasilan program.</p>
<p>Saat ini, salah satu kebutuhan para praktisi PR adalah meng-upgrade pengetahuan terkini seputar dunia PR. Selain dari media, sumber informasi bisa didapatkan melalui diskusi maupun forum diantara para praktisi PR sendiri. Kebutuhan inilah yang membuat training maupun seputar tentang PR masih diminati para praktisi.</p>
<p>Tujuannya jelas, untuk mencuri ilmu dari pakar yang lebih expert. Ilmu yang didapat bisa digunakan sebagai landasan dalam menyusun program PR yang lebih aplikatif, atau sekedar menjadi informasi baru yang bisa digunakan sebagai pembanding. Banyak ilmu yang sifatnya rahasia dapur seringkali bisa digali dari fasilitator dalam forum diskusi terbuka semacam ini. Rumus keberhasilannya adalah 20% konsep dan 80% implementasi strategi. Tujuan lain dari sharing semacam ini adalah membangun jaringan, baik dengan fasilitator maupun sesama peserta yang memang berasal dari beragam perusahaan.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, salah satu organisasi yang bisa dikatakan rajin menyelenggarakan workshop Public Relations adalah Marcomm Institute. Workshop yang kali ini diggelar adalah 1<sup>st</sup> Marketing Communications and Promotion Summit 2012  yang diselenggarakan Rabu-Kamis (28-29/3) di Hotel Ciputra Jakarta.</p>
<p>Tidak tanggung- tanggung, event ini mengandeng partisipasi dari 15 praktisi PR dari beragam industri, mulai dari industri telekomunikasi, kosmetik, hingga konsultan. Peserta secara langsung berkesempatan berdiskusi dengan CEO, praktisi senior, pakar marketing communications dan konsultan marketing senior.</p>
<p>Dari sisi materi, beberapa point yang menarik adalah ilmu prediksi tentang strategi promosi yang tepat di tahun 2012 yang menyesuaikan dengan kondisi psikologis konsumen. Lebih detail lagi juga akan diberikan pengetahuan tentang taktik kampanye yang masih dipercaya dalam empat pendekatan.</p>
<p>Pertama strategi kampanye baik pendekatan ATL (Above the Line), BTL (Below the Line) yang dikombinasi dengan kampanye digital. Kedua, strategi promosi melalui pendekatan pemberian sample, diskon, kupon, merchandise, dan sebagainya.</p>
<p>Ketiga, strategi event melalui launching produk, marketing event dan sponsorship. Terakhir, strategi komunikasi kreatif yang mampu secara langsung mempengaruhi peningkatan <em>market share</em>. Tidak hanya itu, peserta juga diedukasi tentang skala pengukuran keberhasilan program, baik secara image maupun penjualan serta pentingnya riset sebelum mengembangkan program.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/03/keberhasilan-20-konsep-80-strategi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iklan, tapi Soft Selling?</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/03/iklan-tapi-soft-selling/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/03/iklan-tapi-soft-selling/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Mar 2012 02:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kenapa Harus PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Case Study]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing Communication]]></category>
		<category><![CDATA[Public Relations]]></category>
		<category><![CDATA[Student Corner]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[google chrome]]></category>
		<category><![CDATA[soft sell]]></category>
		<category><![CDATA[soft selling]]></category>
		<category><![CDATA[strategi pr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1794</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat iklan Google Chrome tentang Indonesia Berkebun? Iklan ini sungguh catchy di mata dan penuh dengan nilai-nilai yang dibawa. Sebut saja nilai urban, isu lingkungan, peran komunitas, dan manfaat media Internet sebagai media menyampaikan pesan secara massal dan cepat. Google Chrome membuat ide cerita tentang Ridwan Kamil, petani urban Jakarta,  yang menggunakan web browser [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih ingat iklan Google Chrome tentang Indonesia Berkebun? Iklan ini sungguh <em>catchy</em> di mata dan penuh dengan nilai-nilai yang dibawa. Sebut saja nilai urban, isu lingkungan, peran komunitas, dan manfaat media Internet sebagai media menyampaikan pesan secara massal dan cepat.</p>
<div id="attachment_1795" class="wp-caption alignleft" style="width: 215px"><img class="size-medium wp-image-1795" title="offer" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2012/03/offer-205x300.jpg" alt="" width="205" height="300" /><p class="wp-caption-text">sumber gambar : prospects.ac.uk</p></div>
<p style="text-align: justify;">Google Chrome membuat ide cerita tentang Ridwan Kamil, petani urban Jakarta,  yang menggunakan web browser ini untuk mengetahui pemberitaan tentang lahan kosong yang menjadi tempat sampah. Ridwan tergerak untuk mengubah lahan ini menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat karena ia menyadari lahan terbuka hijau di Jakarta masih minim. Penggunaan berbagai media sosial untuk mensosialisasikan dan mengajak komunitas untuk bergabung dalam program ini mendapatkan sambutan luar biasa dari komunitas <em>netter</em>. <em>Voila</em>, lahan terlantar yang ada disulap menjadi lahan terbuka hijau.</p>
<p style="text-align: justify;">Strategi <em>soft selling</em> yang diterapkan Google Chrome, selain untuk menunjukkan eksistensi keberadaan Google Chrome, juga untuk memberikan edukasi dan informasi bahwa banyak kegiatan yang bisa dilakukan dengan penggunaan internet. Konsep atau substansi yang dihadirkan dalam iklan ini menawarkan ide cerita yang berbeda dibandingkan dengan iklan lain yang frekuesinya banyak berputar di Indonesia. Iklan yang beredar di Indonesia, kebanyakan menggunakan metode <em>hard selling</em> atau lebih berfokus pada penginformasian produk dibandingkan pada ide cerita yang diusung.</p>
<p style="text-align: justify;">Google Chrome melihat fenomena bahwa terdapat banyak orang yang dengan media internet melakukan suatu kegiatan berbasis massa. Masih ingat kisah Prita dan kasus Bibit-Chandra? Ketiga orang ini mendapatkan dukungan dari masyarakat luas melalui internet, hal ini ampuh untuk memberikan gelombang perubahan pada dunia nyata. Dari sinilah juga fenomena itu dicoba dihadirkan lagi oleh iklan Google Chrome.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam iklan ini, Google Chrome tidak menggunakan <em>brand ambassador</em> ternama karena Google Chrome mencoba untuk membuat iklan yang dekat dengan realitas masyarakat sesungguhnya dalam penggunaan internet. Karakteristik internet yang dapat dipakai oleh semua orang, tidak pandang bulu ini juga yang dihadirkan dalam ikaln Google Chrome.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain ide cerita yang menarik, iklan Google Chrome, Indonesia berkebun ini dalam sisi pangambilan gambarnya cukup mengesankan, televise dianggap sebagai layar monitor dari audience, dan dengan teknik pengambilan gambar yang seperti itu, membuat audience merasakan ikut dalam iklan tersebut (sebagai Ridwan Kamil). Efek 3D dicoba dihadirkan oleh Google Chrome, kepada khalayaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal inilah yang perlu dilakukan bagi para praktisi PR jika ingin memberikan sentuhan <em>soft selling</em> dalam kampanye atau program PR yang dilakukan ketika menyampaikan pesan. Menarik bukan?</p>
<p>Oleh:  Alfianida (Fia), Mahasiswi Semester 6, Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p align="center">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/03/iklan-tapi-soft-selling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Strategi Menguatkan Internal Engagement</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/03/strategi-menguatkan-internal-engagement/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/03/strategi-menguatkan-internal-engagement/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 03:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmi Nuraini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Internal Communication]]></category>
		<category><![CDATA[Public Relations]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[internal communications]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi internal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1787</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu tantangan Public Relations, secara internal adalah bagaimana menjembatani tantangan komunikasi internal perusahaan. Untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, seorang PR harus mempunyai fungsi koordinasi sehingga mempunyai akses yang luas mulai dari atasan hingga bawahan. Tanpa akses yang luas, seorang PR akan kesulitan melaksanakan fungsinya sebagai jembatan komunikasi. Nah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menjembatani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1788" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a href="http://www.flickr.com/photos/ivanlanin/3739690656/"><img class=" wp-image-1788  " title="alat komunikasi" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2012/03/3739690656_f955e95fe8_b-300x225.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a><p class="wp-caption-text">cc/flickr.com/ivanlanin</p></div>
<p>Salah satu tantangan Public Relations, secara internal adalah bagaimana menjembatani tantangan komunikasi internal perusahaan. Untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, seorang PR harus mempunyai fungsi koordinasi sehingga mempunyai akses yang luas mulai dari atasan hingga bawahan. Tanpa akses yang luas, seorang PR akan kesulitan melaksanakan fungsinya sebagai jembatan komunikasi.</p>
<p>Nah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menjembatani hambatan komunikasi yang seringkali terjadi dalam perusahan, khususnya berkaitan dengan komunikasi atasan-bawahan (beberapa perusahaan lebih senang menyebut direksi dan karyawan untuk menghilangkan kesan jenjang atasan dan bawahan)</p>
<p>Strategi yang bisa diterapkan akan bervariasi tergantung budaya dan iklim kerja di sebuah perusahaan, apakah sebuah perusahaan cenderung tertutup terhadap masukan atau terbuka terhadap masukan dari atas ke bawah maupun sebaliknya.</p>
<p>Untuk menjawab salah pertanyaan salah satu pembaca setia kenapaharuspr.com, kami berikan salah satu taktik yang bisa dilakukan PR untuk menjembatani komunikasi atasan-bawahan. Untuk situasi normal, hubungan atasan-bawahan bisa dikuatkan melalui kegiatan bersama, mulai dari makan siang bersama hingga gathering perusahaan.</p>
<p>Secara regular, PR juga bisa mengupdate informasi dari atasan untuk disampaikan kepada bawahan, begitu juga sebaliknya. Update informasi ini bisa dilakukan setiap bulan, melalui kegiatan coffee morning, dimana direksi bisa secara bebas memberikan info terbaru kepada PR perusahaan. Selanjutnya PR bisa meneruskan informasi kepada bawahan jika dirasa perlu.</p>
<p>Di saat bersamaan, coffee morning juga bisa dilakukan ke bawah, untuk mengumpulkan masukan-masukan dari bawah untuk disampaikan ke atas.</p>
<p>Hal lain yang bisa dilakukan adalah menyediakan kotak aspirasi sebagai sarana penyampai masukan karyawan sebuah perusahaan. Bentuknya bisa beragam mulai dari kotak pos biasa hingga pesan elektronik yang dikelola oleh PR.</p>
<p>Untuk permasalahan yang bisa berpotensi krisis, PR bisa memainkan perannya untuk membuka forum bersama antara atasan dan bawahan. Namun, tantangan yang harus diselesaikan PR sebelum melakukan forum tersebut adalah menyiapkan materi dan mengantisipasi dampak dari pertemuan tersebut.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan adalah fungsi PR tidak sekedar menyelenggarakan event PR, tetapi bagaimana menyiapkan skenario komunikasi, termasuk melakukan tindakan antisipatif terhadap tantangan komunikasi yang ada.</p>
<p>Tantangan selanjutnya adalah bagaimana seorang PR mampu mengkomunikasikan sikap perusahaan sebagai respon solutif atas hambatan komunikasi yang ada.</p>
<p>Maka, tidak ada salahnya jika secara berkala, PR juga melakukan aktivitas apresiatif kepada karyawan yang berprestasi, sehingga karyawan merasa diapresiasi hasil kerjanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/03/strategi-menguatkan-internal-engagement/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Social Media, Tools untuk Mendekatkan Brand dengan Konsumen</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/02/social-media-tools-untuk-mendekatkan-brand-dengan-konsumen/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/02/social-media-tools-untuk-mendekatkan-brand-dengan-konsumen/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2012 09:39:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Putri Afrili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1779</guid>
		<description><![CDATA[Social media saat ini menjadi salah satu tools yang digunakan oleh para praktisi komunikasi terutama Brand sebagai ajang promosi, tools komunikasi perusahaan ataupun sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan para konsumennya. Kini telah banyak ditemukan Brand baik dari perusahaan lokal maupun perusahaan multinasional yang menawarkan barang ataupun jasa dengan cara promosi melalui social [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft  wp-image-1781" title="SocialMediaLogos_edited" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2012/02/SocialMediaLogos_edited-300x231.jpg" alt="" width="210" height="162" />Social media saat ini menjadi salah satu tools yang digunakan oleh para praktisi komunikasi terutama Brand sebagai ajang promosi, tools komunikasi perusahaan ataupun sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan para konsumennya. Kini telah banyak ditemukan Brand baik dari perusahaan lokal maupun perusahaan multinasional yang menawarkan barang ataupun jasa dengan cara promosi melalui social media. Tidak hanya brand besar tapi pelaku usaha lainnya juga kini marak menggunakan social media sebagai ajang promosi produk dan jasa mereka.</p>
<p>Bagi beberapa brand, social media selain digunakan sebagai ajang promosi, tapi juga digunakan untuk sebagai media untuk berinteraksi secara langsung dengan konsumennya. Banyak tools social media yang bisa digunakan untuk menjadi platform utama media interaksi dengan konsumen, twitter salah satunya.</p>
<p>Menurut Frank Eliason, Director of Digital Care dari Comcast, Twitter adalah salah satu cara konsumen mengenal kita secara lebih personal, tidak kaku, dan bisa melahirkan interaksi yang segera. Dalam interaksi media sosial yang dilakukan oleh Brandnya, Eliason menggunakan twitter secara strategis. Selama interaksi dengan pelanggannya, banyak ditemukan pengguna twitter yang menjadi konsumennya yang mengeluh mengenai layanannya. Lalu Comcast, di bawah kepemimpinan Eliason, memonitor setiap media sosial yang relevan dengan mereka.</p>
<p>Dalam menjadikan twitter ataupun tools social media lainnya sebagai media untuk berkomunikasi dengan pelanggan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:</p>
<p>-          Petugas yang bertanggung jawab terhadap akun sosial media harus memberikan respon secara cepat kepada pelanggan</p>
<p>-          Perhatikan aspek manusia untuk menciptakan conversation yang alami</p>
<p>-          Diskusikan strategi dan setiap inisiatif dengan tim</p>
<p>-          Perhatikan setiap kata kunci yang tersaring dan di-<em>mention</em> oleh konsumen</p>
<p>-          Berikan informasi yang tepat kepada orang yang tepat secara cepat</p>
<p>-          Siapkan daftar kontak untuk hal-hal yang krusial</p>
<p>Tertarik? Jangan takut menjadikan social media sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan brand anda dengan konsumen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/02/social-media-tools-untuk-mendekatkan-brand-dengan-konsumen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Artis Kini (lebih) Mudah</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/02/menjadi-artis-kini-lebih-mudah/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/02/menjadi-artis-kini-lebih-mudah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 03:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ferdias Ramadoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Case Study]]></category>
		<category><![CDATA[Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[artis dadakan]]></category>
		<category><![CDATA[briptu norman]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[sintajojo]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter]]></category>
		<category><![CDATA[udin majenun]]></category>
		<category><![CDATA[youtube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1769</guid>
		<description><![CDATA[Ketenaran, uang yang berlimpah, atau bahkan teriakan histeris dari para penggemar merupakan barang mewah bagi masyarakat kebanyakan dan tidak sedikit pula orang yang menginginkannya hingga rela mengeluarkan sejumlah uang agar keinginanya bisa terwujud. Hal-hal tersebut lah yang biasa dimiliki oleh seorang artis yang memiliki talenta luar biasa di segala bidang tak terkecuali mulai dari seni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1775" title="Increase-Link-Popularity4" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2012/02/Increase-Link-Popularity4.jpg" alt="" width="180" height="156" />Ketenaran, uang yang berlimpah, atau bahkan teriakan histeris dari para penggemar merupakan barang mewah bagi masyarakat kebanyakan dan tidak sedikit pula orang yang menginginkannya hingga rela mengeluarkan sejumlah uang agar keinginanya bisa terwujud. Hal-hal tersebut lah yang biasa dimiliki oleh seorang artis yang memiliki talenta luar biasa di segala bidang tak terkecuali mulai dari seni musik, seni peran, hingga komedi. Namun tahukah Anda bahwa ketenaran dan kawan-kawannya kini menjadi lebih mudah bisa kita dapatkan karena hadirnya media sosial seperti twitter, youtube, juga facebook?</p>
<p>Lalu apakah hanya ketiga media tersebut yang bisa memfasilitasi kita supaya bisa menjadi artis dengan lebih mudah? Untuk masyarakat Indonesia, saya jawab dan memang sudah faktanya  adalah, YA..!! ketiga media sosial tersebut yang memang banyak digunakan di negara ini dan sudah terbukti berhasil menelurkan artis-artis yang ketenarannya bahkan membuat artis-artis baru ini menjadi kaya mendadak karena kebanjiran tawaran tampil dari berbagai pihak teramasuk stasiun televisi nasional yang siarannya dapat disaksikan dari Sabang hingga Merauke.</p>
<p>Mengapa fenomena ini sampai terjadi, apa sih yang dilakukan oleh orang-orang yang konon disebut-sebut sebagai artis karbitan ini sehingga bisa sukses meraup popularitas dan menjadi buah bibir jutaan orang di seluruh Indonesia? Benarkah faktor keberuntungan belaka, atau memang ada orang-orang tertentu yang menjadi dalang dibalik fenomena yang cukup menarik ini?</p>
<p>Sejauh pengamatan saya paling tidak ada 4 hal di luar faktor keberuntungan yang muncul ke permukaan di beberapa kasus “mendadak jadi artis” ini, yaitu:<strong></strong></p>
<h3>1.       Konsistensi</h3>
<p>Di beberapa kasus seperti pada fenomena Briptu Norman, Sinta-Jojo, dan Udin Majenun terlihat bahwa rupanya mereka bukan kali pertama membuat video-video yang membuat mereka tenar melainkan memang sudah menjadi hobi mereka untuk merekam aksi/karya mereka ke dalam sebuah media visual bergerak atau yang sering kita sebut sebagai video, yah walaupun khusus untuk Briptu Norman video tersebut memang tidak secara sengaja diunggah oleh yang bersangkutan melainkan diunggah oleh pihak lain yang mengaku tertarik dan ingin memberitahukan ke semua orang tentang hal yang ia nilai sebagai sesuatu yang lucu dan menarik.  Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa konsistensi berkarya menjadi salah satu faktor yang mampu mengubah mereka dari orang yang biasa-biasa saja menjadi orang yang terkenal, hanya gara-gara aksi/karya mereka disaksikan di media sosial oleh beberapa orang namun disebarluaskan secara otomatis karena dinilai menghibur dan dapat menjadi bahan yang sangat menarik untuk dibicarakan.<strong></strong></p>
<h3>2.       Keberanian</h3>
<p>Inilah hal mutlak yang harus dimiliki oleh orang yang ingin dikenal banyak orang, dan hal inilah yang juga muncul di beberapa kasus-kasus “artis dadakan”. Salah satu contoh yang paling banyak terlihat adalah bagaimana pengguna twitter yang tadinya bukan siapa-siapa bisa mendadak jadi terkenal karena keberaniannya melawan gagasan atau pendapat yang diutarakan oleh salahsatu pengguna yang sudah lebih dulu terkenal di dunia <em>per-twitter-an </em>, akhirnya terjadilah yang biasa disebut sebagai twitwar atau perang tweet yang ujung-ujungnya tentu saja menguntungkan pengguna yang tadinya bukan siapa-siapa itu terlepas dari sentimen positif atau bahkan negatif yang didapatkannya.<strong></strong></p>
<h3>3.       Pemilihan Media</h3>
<p>Nah ini yang gak kalah penting perannya dalam proses peng-artis-an di ranah media sosial, artis-artis dadakan ini secara sengaja atau tidak telah memilih media yang tepat dalam menyampaikan ekspresinya di dunia maya. Coba saja bayangkan apakah Norman Kamaru akan setenar sekarang bila orang yang mengupload video-nya itu menggunakan media myspace yang sepi pengguna di Indonesia? Atau akankah @poconggg menjadi setenar sekarang bila ia memilih youtube sebagai tempat untuk berekspresi? Padahal @poconggg (a.k.a Arief Muhammad) ini kekuatannya ada pada kreatifitasnya dalam memainkan huruf dan kata.<strong></strong></p>
<h3>4.       Timing</h3>
<p>Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa timing atau pemilihan waktu yang tepat merupakan kunci rahasia yang tidak lagi merupakan rahasia (halah..), yang membuat banyak orang khususnya dalam urusan publisitas dan pemasaran menjadi sukses tak terkalahkan. Begitu juga dengan fenomena artis online dadakan ini, mereka pintar sekali memilih kapan waktu yang tepat untuk mengeluarkan ekspresi mereka, atau dalam menentukan ekspresi apa yang harus mereka buat di dunia maya supaya singkron dengan tren yang ada atau bahkan dengan sedikit rekayasa mereka bisa membuat tren yang ada sedikit bergeser ke arah mereka yang ujung-ujungnya menambah ketenaran mereka juga, pintar kan?</p>
<p>Lalu apa yang bisa kita ambil dari sini?</p>
<p>Sederhana saja, yaitu kini dengan adanya media sosial yang serba flat, yang semuanya punya kedudukan yang sama membuat siapapun dari kita memiliki peluang yang sama menjadi “artis” terkenal, hanya saja semua tergantung bagaimana kita menggunakan media sosial ini dalam berekspresi.</p>
<p>Media sosial ini juga bisa menjadi alat yang ampuh bagi individu dalam membangun <em>personal branding </em>yang diinginkannya, nah untuk yang ini silahkan nantikan tulisan saya berikutnya masih di tempat yang sama di kenapaharusPR.com tercinta ini,hehe&#8230;</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/02/menjadi-artis-kini-lebih-mudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

