<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kenapa Harus PR</title>
	<atom:link href="http://kenapaharuspr.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kenapaharuspr.com</link>
	<description>Indonesian PR and Maketing Communication Guide</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 05:42:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Good PR, Good Lips?</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2012/01/good-pr-good-lips/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2012/01/good-pr-good-lips/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 05:42:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kenapa Harus PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public Relations]]></category>
		<category><![CDATA[PR]]></category>
		<category><![CDATA[PR practitioner]]></category>
		<category><![CDATA[Public Relation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1734</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun perkembangan dunia ke-PR-an di Indonesia sudah menunjukkan eksistensinya, kesemerataan anggapan tentang dunia Public Relations agaknya masih mengalami dislokasi. Yang dimaksud dengan dislokasi disini adalah kepahaman masyarakat umum terhadap profesi dan fungsi public relations officer yang sebenarnya tergantung pada lokasi atau kondisi geografis dimana mereka tinggal. Contohnya Jakarta, kompleksitas kota ini sebagai pusat pemerintahan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1742" class="wp-caption alignleft" style="width: 170px"><a href="http://www.flickr.com/photos/coblat/525132270/lightbox/"><img class=" wp-image-1742  " title="lip" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2012/01/lip.jpg" alt="" width="160" height="188" /></a><p class="wp-caption-text">(cc/flickr/cobalt)</p></div>
<p>Walaupun perkembangan dunia ke-<em>PR</em>-an di Indonesia sudah menunjukkan eksistensinya, kesemerataan anggapan tentang dunia <em>Public Relations</em> agaknya masih mengalami dislokasi. Yang dimaksud dengan dislokasi disini adalah kepahaman masyarakat umum terhadap profesi dan fungsi <em>public relations officer</em> yang sebenarnya tergantung pada lokasi atau kondisi geografis dimana mereka tinggal. Contohnya Jakarta, kompleksitas kota ini sebagai pusat pemerintahan dan sentral bisnis berdampak pada kebutuhan informasi dan tingginya tingkat mobilitas penduduknya. Oleh karena itu, perkembangan jaringan/<em>networking</em>, pandangan dan juga profesi lebih dinamis dan tidak monoton.</p>
<p>Sayangnya, kesemerataan pandangan belum terjadi di kota – kota Indonesia lainnya. Pandangan masyarakat di luar Pulau Jawa terhadap profesi <em>public relations officer</em> (humas) masih <em>stagnan</em> pada anggapan seorang wanita ‘pembawa berkas’ si bos atau pekerjaan sebatas media monitoring dan kliping. Berdasarkan riset sederhana yang pernah dilakukan bahwa anak usia sekolah menengah di luar Pulau Jawa pun belum teredukasi dengan perkembangan dunia dan profesi <em>public relations officer</em>. Padahal jika dibandingkan dengan kondisi di Jakarta ataupun kota lain yang ada di Pulau Jawa, profesi <em>public relations officer</em> sendiri mengalami perkembangan yang pesat dalam tahun – tahun terakhir. Tidak hanya di bidang praktis, di bidang akademis sudah banyak institusi – institusi pendidikan yang menawarkan program studi komunikasi dengan konsentrasi <em>public relations</em>.</p>
<p>Masalahnya kemudian muncul, bagaimana caranya kita, sebagai individu – individu <em>public relations</em>, baik civitas akademika maupun praktisi mem-<em>PR</em>-kan <em>PR</em> itu sendiri? Strategi apa yang bisa dilakukan untuk mem-<em>branding</em> profesi <em>PR</em> sehingga <em>PR</em> bukan hanya dipandang sebatas <em>good PR, good lips?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2012/01/good-pr-good-lips/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya riset dan analisis dalam merancang program PR</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2011/09/pentingnya-riset-dan-analisis-dalam-merancang-program-pr/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2011/09/pentingnya-riset-dan-analisis-dalam-merancang-program-pr/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 23:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmi Nuraini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Insight]]></category>
		<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1713</guid>
		<description><![CDATA[Jangan sekali—kali membuat strategic planning berdasar common sense ! Karena program yang kita buat belum tentu sesuai dengan kondisi di lapang .Maraknya persaingan di antara konsultan baik di dunia marketing maupun public relations, seringkali memunculkan fenomena baru. Yaitu minimnya waktu untuk membuat sebuah program Marketing/PR. Kenyataan ini bisa dianggap sebagai tantagan, bisa juga dianggap sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1718" href="http://kenapaharuspr.com/2011/09/pentingnya-riset-dan-analisis-dalam-merancang-program-pr/market-insight-4/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1718" title="insight" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2011/09/market-insight3-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Jangan sekali—kali membuat strategic planning berdasar common sense ! Karena program yang kita buat belum tentu sesuai dengan kondisi di lapang .<span id="more-1713"></span>Maraknya persaingan di antara konsultan baik di dunia marketing maupun public relations, seringkali memunculkan fenomena baru. Yaitu minimnya waktu untuk membuat sebuah program Marketing/PR. Kenyataan ini bisa dianggap sebagai tantagan, bisa juga dianggap sebagai ancaman. Menjadi tantangan jika, konsultan tersebut mampu secara cepat menemukan insight secara tepat. Menjadi ancaman jika, konsultan tersebut memilih berpihak pada common sense dan mengabaikan riset dan analisi dalam membuat program tersebut.</p>
<p>Riset dan analisis akan memberikan informasi yang mendalam pada suatu permasalahan yang kompleks dan ditemukan tidak setiap saat. Melalui riset kita dapat mengetahui latar belakang yang mendorong perilaku konsumen yang berhubungan dengan produk dari suatu brand.</p>
<p>Pemahaman customer insight akan menghubungkan konsumen secara emosional, bahwa suatu brand benar-benar mengetahui apa yang konsumen rasakan.  Penemuannya dapat didasarkan pada sesuatu yang menarik minat konsumen maupun penilaian konsumen terhadap brand value.</p>
<p>Sayangnya, untuk melakukan riset, baik kuantitatif maupun kualitatif (FGD, wawancara mendalam maupun etnografi) banyak konsultan yang terbentur dengan kendala biaya maupun waktu. Tentu, untuk mengatasinya kita perlu mau berinvestasi dana maupun waktu di bidang tersebut. Percayalah, investasi ini tak akan sia-sia karena akan menghasilkan program yang kredibel dan tepat sasaran.</p>
<p>Jika beberapa konsultan sudah membuat divisi tersendiri untuk melayani kebutuhan brand akan sebuah riset, maka inggal kesadaran perusahaan saja untuk mau mengkompesasinya dengan harga yang sesuai untuk kepentingan mereka sendiri. Karena sebuah program yang tepat akan mampu secara signifikan mampu meningkatkan penjualan produk maupun branding perusahaan tersebut. Istilah kata, ada harga, ada rupa&#8230;</p>
<p>Sumber Gambar : http://michealrussell.blogspot.com/2008_03_01_archive.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2011/09/pentingnya-riset-dan-analisis-dalam-merancang-program-pr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika PR hadir di Dunia Online</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2011/08/ketika-pr-hadir-di-dunia-online/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2011/08/ketika-pr-hadir-di-dunia-online/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 01:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asia PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Talkshow]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1708</guid>
		<description><![CDATA[Pernah mendengar istilah PR 2.0 ? Mungkin banyak praktisi PR yang sudah akrab dengan istilah ini. Namun, sejauh mana PR mampu diterjemahkan melalui strategi social media ?  YA, pertanyaan ini yang mengemuka dalam acara “Digital Marketing Conference 2011” yang dilaksanakan Rabu lalu (10/8) di Hotel JW Marriot Jakarta. Seminar ini memang banyak berbicara tentang media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah mendengar istilah PR 2.0 ? Mungkin banyak praktisi PR yang sudah akrab dengan istilah ini. Namun, sejauh mana PR mampu diterjemahkan melalui strategi social media ? <span id="more-1708"></span></p>
<p>YA, pertanyaan ini yang mengemuka dalam acara “Digital Marketing Conference 2011” yang dilaksanakan Rabu lalu (10/8) di Hotel JW Marriot Jakarta. Seminar ini memang banyak berbicara tentang media digital dan marketing.</p>
<p>Melalui PR 2.0, sebuah brand akan belajar bagaimana memanfaatkan kekuatan teknologi untuk menciptakan strategi pemasaran baru melalui social media, website, search engine, mobile, game dan media digital lainnya. Saat ini, teknologi telah menyatukan kita semua dimana konektivitas telah menjadi kebutuhan bukan barang mewah. Pesan dengan sendirinya dapat tersebar secara instan melalui word of mouth. Karena setiap orang secara bebas dapat membuka hubungan baru, membagi ide, opini dan pengalaman mereka.</p>
<p>Lantas bagaimana sebenarnya trend dari pengguna social media yang disebut dengan Generasi C ini ? Mereka adalah orang-orang multitasking dan multiconversation dengan karakter less time, less attention, less ignorance, less stability dan less loyalty.</p>
<p>Menurut hasil penelitian 6.1 hari dalam satu minggu dihabiskan orang untuk mengakses internet. Jika dihubungkan dengan pemasaran brand, meskipun pembelian secara online meningkat, , trend konsumen sekarang masih mengakses informasi melalui online dan melakukan pembelian melalui offline.</p>
<p>Tantangan pemasar sekarang adalah menggabungkan strategi online dan offline agar bisa memaksimalkan pemasaran product. Seperti halnya yang telah dilakukan beberapa brand seperti XL, Esia, Yamaha, Coca-Cola, Pocari Sweat, dan Nokia Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2011/08/ketika-pr-hadir-di-dunia-online/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lembaga PR (masih) menjadi Sumber No.1 Bagi Para Jurnalis</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2011/08/lembaga-pr-masih-menjadi-sumber-no-1-bagi-para-jurnalis/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2011/08/lembaga-pr-masih-menjadi-sumber-no-1-bagi-para-jurnalis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 06:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Putri Afrili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public Relations]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1705</guid>
		<description><![CDATA[Ditengah merebaknya perkembangan dunia digital saat ini, media sosial semakin digemari tidak hanya untuk media pertemanan, tetapi juga bisa menjadi salah satu sumber untuk penelitian para jurnalis. Sebuah jajak pendapat baru menunjukkan bahwa wartawan semakin mengandalkan media sosial sebagai sumber mereka. Oriella PR Network telah mensurvey hampir 500 jurnalis dan mengetahui bahwa 47 persen menggunakan Twitter (naik dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditengah merebaknya perkembangan dunia digital saat ini, media sosial semakin digemari tidak hanya untuk media pertemanan, tetapi juga bisa menjadi salah satu sumber untuk penelitian para jurnalis. Sebuah jajak pendapat baru menunjukkan bahwa wartawan semakin mengandalkan media sosial sebagai sumber mereka.</p>
<p>Oriella PR Network telah mensurvey hampir 500 jurnalis dan mengetahui bahwa 47 persen menggunakan Twitter (naik dari 33 persen tahun lalu) dan  35 persen menggunakan Facebook sebagai sumber (naik dari 25 persen tahun lalu).</p>
<p>Namun,  ternyata pengaruh media sosial yang semakin kuat sebagai sumber para jurnalis, belum mengalahkan PR sebagai sumber utama mereka. Dalam survey yang dilakukan<br />
Oriella PR Network, hanya 4 persen mengatakan mereka menggunakan Twitter, Facebook, atau blog sebagai sumber pertama mereka dalam menulis penelitian/artikel.</p>
<p>Dalam survey ini mengatakan bahwa urutan No.1 yang digunakan oleh para Jurnalis sebagai sumber utama penulisan artikel adalah Lembaga PR (PR Firm) dengan jumlah 62 persen. Dalam pertanyaan polling “Apakah sumber pertama ketika riset untuk berita atau feature?” Jawabannya PR lagi. Sekitar 22 persen mengatakan sumber pertama mereka adalah berasal dari siaran pers (press release).</p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa lembaga PR (masih) menjadi sumber nomer wahid dalam pekerjaan mereka. Karenanya, hubungan relasi antara seorang PR dengan para jurnalis harus dibina dengan baik karena pekerjaan antara seorang PR dan jurnalis saling berkaitan.</p>
<p>So, for PR Practitioners, a great competence in media relations is still needed in our works.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>source:</p>
<p><a href="http://www.prdaily.com/Main/Articles/8315.aspx">http://www.prdaily.com/Main/Articles/8315.aspx</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2011/08/lembaga-pr-masih-menjadi-sumber-no-1-bagi-para-jurnalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peran PR di Persepakbolaan Indonesia</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2011/08/peran-pr-di-persepakbolaan-indonesia/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2011/08/peran-pr-di-persepakbolaan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 01:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Halim Mahfudz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Public Relations]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1697</guid>
		<description><![CDATA[Setahun terakhir saya membantu para penggila bola dan sekarang PSSI untuk mengembalikan sepakbola menjadi milik publik dan membangun reputasi melalui transparansi dan good governance. Ijinkan saya berbagi informasi tentang peluang bagi praktisi PR untuk membuktikan kepada stakeholders sepakbola yang sangat luas dan beragam serta publilk di luar sepakbola, betapa pentingnya komunikasi dan peran public relations [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setahun terakhir saya membantu para penggila bola dan sekarang PSSI untuk mengembalikan sepakbola menjadi milik publik dan membangun reputasi melalui transparansi dan good governance. <span id="more-1697"></span>Ijinkan saya berbagi informasi tentang peluang bagi praktisi PR untuk membuktikan kepada stakeholders sepakbola yang sangat luas dan beragam serta publilk di luar sepakbola, betapa pentingnya komunikasi dan peran public relations dalam menangani olahraga seperti sepakbola.<!--more--></p>
<p>Dalam dua hari terakhir sebuah tim dari Asian Football Confederation (AFC) datang ke Indonesia untuk memberikan workshop tentang persyaratan bagi negara di Asia untuk bisa mengikuti Asian Championship League, sebuah liga sepakbola Asia yang cukup bergengsi dan bisa mengangkat martabat suatu bangsa melalui olahraga. Ada 5 syarat bagi klub manapun untuk bisa ikut bergabung dalam Liga ini yaitu: aspek legal (klub harus berbentuk badan hukum komersial/PT), aspek finansial (klub hrs memiliki laporan keuangan yang diaudit), aspek infrastruktur, aspek personnel, dan aspek pembinaan usia dini. AFC memberi batas waktu hingga 14 Oktober 2011 bagi klub-klub di Indonesia harus bisa memenuhi persyaratan ini karena persyaratan ini sudah disosialisasikan sejak 2008.</p>
<p>Ini sama sekali bukan waktu yang longgar. Misal saja untuk aspek legal, kita paham betapa lamanya mengurus pendirian sebuah perusahaan (PT) karena prosesnya memang lamban. Belum lagi aspek infrastruktur dan personnel yang akan sangat berhubungan dengan peran PR. Dari lima persyaratan tersebut, sayangnya, BELUM SATU PUN klub yang lolos. Kalau Indonesia tidak mampu mendirikan liga ini, maka klub Indonesia tidak bisa ikut ambil bagian dalam Asian Championship League (ACL).</p>
<p>Peluang Peran PR</p>
<p>Aspek personnel dan infrastruktur akan sangat membutuhkan dukungan peran PR. Untuk personnal, AFC mewajibkan setiap klub di Indonesia HARUS memiliki seorang MEDIA OFFICER dengan posisi full-timer yang bertanggung jawab menjalin hubungan, memelihara, mendidik dan melayani media terhadap kebutuhan pemberitaan dan pelaksanaan pertandingan. AFC mewajibkan setiap selesai pertandingan HARUS ada media report, sebuah laporan untuk media (berbentuk press release atau tergantung kreativitas) yang menyampaikan skor hasil pertandingan, jumlah kartu kuning, kartu merah, dan detil lainnya.  Mendidik di sini artinya media perlu diberitahu etika dan tatacara peliputan seperti media tidak diijinkan mewawancara langsung pemain kecuali atas ijin pelatih, dsb.  Posisi media officer membutuhkan pengetahuan khusus dan akan dilakukan workshop untuk kebutuhan tersebut.</p>
<p>Di infrastruktur, AFC mewajibkan setiap stadion HARUS antara lain memiliki ruang untuk konferensi pers, ruang wawancara dan memiliki fasilitas jaringan kabel yang bisa digunakan untuk siaran langsung televisi. Dari syarat ini, TIDAK SATUPUN stadion di Indonesia memenuhi syarat hanya dari aspek kebutuhan pelayanan terhadap media massa.  Belum persyaratan lain seperti shower, ruang ganti pakaian untuk 2 tim, ruang kesehatan dan seterusnya.</p>
<p>Peluang lain adalah bagaimana mengemas klub sebagai sebuah entitas bisnis yang menarik untuk potensi kerjasama karena sepakbola segera menuju era industri.  Karena masing-masing pemilik klub dan pelatih serta pemain sudah terbebani dengan tugas dan kewajiban yang berat, banyak klub yang kurang memikirkan bagaimana bisa mengemas klubnya untuk bisa laku dijual ke sponsor ataupun investor. Ada sebuah klub terkenal yang mampu menghasilkan Rp 1,1M dari menjual tiket untuk 1 x pertandingan dan berhasil mengumpulan puluhan miliar rupiah.  Tetapi klub ini merugi pada akhir kompetisi merugi hingga Rp 3M lebih.  Salah satu alasan kenapa merugi adalah terjadi &#8216;besar pasak daripada tiang&#8217; dan tidak tahu bagaimana mengemas klubnya sehingga menjadi daya tarik bagi investor atau sponsor.  Pola pendekatan menjual klub sepakbola sulit dilakukan melalui konsep marketing konvensional karena karakternya yang berbeda dan kekhususan.  Tetapi pontensi cukup tinggi karena popularitas sepakbol sebagai olahraga. Rata-rata penonton sepakbola di Indonesia adalah di atas 4.000 orang per pertandingan, urutan ke empat di Asia setelah Jepang, Korea dan China.</p>
<p>Jadi, ada tiga peluang peran PR di sepakbola; posisi Media Officer klub, kebutuhan peran media relations di klub, dan kebutuhan praktisi PR yang mampu mengemas klub menjadi sebuah daya tarik bagi investor dan sponsor (mohon perhatikan bagaimana jersey pemain seperti MU, Chelsea atau Barcelona dipenuhi dengan logo perusahaan sponsor). Untuk investor, klub perlu dikemas sebagai entitas bisnis yang menguntungkan dengan perhitungan bisnis yang masuk akal.  Ada 18 klub di Liga Super, 19 klub di Liga Primer dan puluhan lagi di Divisi Utama yang akan berlomba untuk bisa ikut bergabung di ACL ini. Anda para praktisi silakan mencoba membuktikan betapa pentingnya peran PR dalam industri ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2011/08/peran-pr-di-persepakbolaan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PR Cuci Piring</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2011/07/pr-cuci-piring/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2011/07/pr-cuci-piring/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 08:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewi Hendrati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Student Corner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1689</guid>
		<description><![CDATA[Apakah benar bahwa tugas seorang Public Relations dapat disamakan dengan tukang cuci piring ? Apakah karena keberadaan seorang PR di dalam perusahaan masih dianggap kurang penting? Ungkapan ini dicetuskan karena seorang PR hanya bekerja pada saat perusahaan sedang mengadakan program atau bahkan sedang mengalami krisis saja. Mengapa pekerjaan PR disamakan dengan tukang cuci piring? Menurut Silih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah benar bahwa tugas seorang Public Relations dapat disamakan dengan tukang cuci piring ? Apakah karena keberadaan seorang PR di dalam perusahaan masih dianggap kurang penting? Ungkapan ini dicetuskan karena seorang PR hanya bekerja pada saat perusahaan sedang mengadakan program atau bahkan sedang mengalami krisis saja.<span id="more-1689"></span></p>
<p>Mengapa pekerjaan PR disamakan dengan tukang cuci piring? Menurut Silih Agung Wasesa saat menjadi pembicara di dalam seminar mengenai manajemen krisis mengatakan bahwa PR disebut sebagai tukang cuci piring karena PR hanya bertugas membersihkan yang berceceran, dalam hal ini krisis perusahaan tersebut.</p>
<p>Orang lain yang berpesta (melakukan kegiatan apa saja hingga membuat kesalahan) namun PR-lah yang membersihkan ( mengklarifikasikan) . Jika perusahaan mengalami hal yang negatif, pasti PR yang dipandang negatif padahal bukan ia yang membuat perusahaan itu mendapat citra negatif.</p>
<p>Namun anda tidak perlu khawatir untuk menjalani profesi PR, meskipun disebut sebagai ‘tukang cuci piring’, tapi profesi PR sangat menjanjikan di Indonesia seiring berkembangnya dunia komunikasi dan meningkatnya kesadaran perusahaan terhadap pentingnya seorang PR yang kompeten. Gaji seorang PR juga berbeda lho dengan tukang cuci piring yang sebenarnya… Go PR! Bagaimana menurut Anda</p>
<p>Artikel ditulis oleh Wulan Muhariani, Ketua PR cabang Fatmawati BSI</p>
<p>Sumber foto:</p>
<p>http://yusupcheguevara.blogspot.com/2010/08/cuci-piring-jadi-fresh.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2011/07/pr-cuci-piring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PR camp dari BSI</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2011/07/pr-camp-dari-bsi/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2011/07/pr-camp-dari-bsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:31:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Putri Afrili</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1685</guid>
		<description><![CDATA[Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika (BSI) mengadakan kegiatan PR Camp “PR creAction (Creative is Nothing Without Action)”. Acara ini diselenggarakan di Puncak dari tanggal 5 Juli 2011 sampai  7 Juli 2011.  Kompetisi yang diadakan adalah lomba Public Speaking, lomba merancang newsletter, lomba pembuatan web blog, lomba kampanye pemulihan krisis, dan lomba proposal event. PR Camp [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika (BSI) mengadakan kegiatan PR Camp “PR creAction (Creative is Nothing Without Action)”. Acara ini diselenggarakan di Puncak dari tanggal 5 Juli 2011 sampai  7 Juli 2011.  Kompetisi yang diadakan adalah lomba Public Speaking, lomba merancang  newsletter, lomba pembuatan web blog, lomba kampanye pemulihan krisis,  dan lomba proposal event. PR Camp adalah ajang kompetisi bagi mahasiswa antar cabang BSI jurusan PR semester 4. <span id="more-1685"></span></p>
<p>Juri dari kompetisi ini adalah beberapa dosen dari BSI, Ketut Martana (ketua jurusan), dan Juri tamu: Silih Agung Wasesa (lomba kampanye pemulihan krisis) dan Ahmed Kurnia (lomba pembuatan Web Blog).  Selama 3 hari di Puncak para mahasiswa diuji kekompakan, rasa kebersamaan dan bagaimana mereka dapat berbaur dengan mahasiswa dari cabang lainnya. PR Camp juga diadakan untuk mengevaluasi hasil dosen mengajar yang akan terlihat dari hasil karya mahasiswanya.</p>
<p>Lomba Public Speaking mengangkat tema Domestic Violence, Global Warming, dan Family Planning. Lomba newsletter mengangkat tema profesi PR, lomba pembuatan web blog dinilai dari bagaimana blog tersebut dapat menciptakan image positif perusahaan, lomba kampanye pemulihan krisis mengambil kasus dari Pedia Sure, dan lomba proposal event dilihat dari desain dan event itu tersendiri.</p>
<p>Pada tanggal 7 Juli 2011 dipilihlah pemenang dari masing-masing lomba dan juara umum. Lomba Public Speaking dimenangkan oleh PR Jatiwaringin dengan tema Global Warming; lomba newsletter dimenangkan oleh PR Fatmawati dengan desain yang menarik dan konten yang berbobot; lomba pembuatan web blog dimenangkan oleh PR Ciledug dengan blog sebuah hotel; lomba; lomba pemulihan krisis dimenangkan oleh PR Margonda karena kelebihannya <em>adalah solve the problem first then save the business</em>, dan lomba proposal event dimenangkan oleh PR Fatmawati dengan desain dan event yang menarik sehingga dapat memikat dewan juri. Sedangkan juara umum PR Camp 2011 adalah PR dari BSI Fatmawati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2011/07/pr-camp-dari-bsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Top of mind dan merek generik</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2011/07/top-of-mind-dan-merek-generik/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2011/07/top-of-mind-dan-merek-generik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 02:19:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kaezar Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Branding]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1680</guid>
		<description><![CDATA[Saat berbelanja di sebuah mall di Jakarta saya bingung. Begitu banyak pilihan produk yang ditawarkan. Apalagi sepintas semuanya sama-sama berkualitas. Bingung memilih mana yang terbaik, akhirnya saya putuskan untuk memilih produk-produk yang sudah jelas saja brand nya. Setidaknya, saya sudah yakin brand yang ada di top of mind saya itu berkualitas yang dapat diandalkan. Ya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat berbelanja di sebuah mall di Jakarta saya bingung. Begitu banyak pilihan produk yang ditawarkan. Apalagi sepintas semuanya sama-sama berkualitas. Bingung memilih mana yang terbaik, akhirnya saya putuskan untuk memilih produk-produk yang sudah jelas saja brand nya. Setidaknya, saya sudah yakin brand yang ada di top of mind saya itu berkualitas yang dapat diandalkan.</p>
<p><span id="more-1680"></span></p>
<p>Ya, coba tes diri Anda sendiri. Apa yang langsung terbayang di pikiran ketika disebut Kapal Api? Atau  ketika ada yang menyebut Kijang? Keduanya jelas-jelas merupakan benda/makhluk yang dapat kita temukan di keseharian. Namun, alih-alih mengingat hal itu, kita justru mengingat merek. Ketika mendengar kapal api, kita langsung teringat ke merek kopi. Ketika mendengar kijang, kita langsung teringat pada mobil. Itulah dahsyatnya sebuah brand yang sudah menjadi top of mind.</p>
<p>Tapi jangan salah, brand yang top of mind bila tidak di-maintain bisa-bisa jadi merek generic. Coba saja Anda perhatikan. Ketika ada orang yang minta air putih dalam kemasan, mereka akan bertanya, “Ada aqua?” Ketika disodorkan merek ari putih kemasan lain yang non-aqua, mereka akan terima saja. Hal yang sama akan terjadi pada Sanyo untuk pompa air, odol untuk pasta gig dan Infocus untuk slide projector. Nah, merek-merek yang sudah top of mind harus waspada jangan sampai posisi mereka yang sudah  bagus menjadi terpeleset menjadi merek generic.</p>
<p>Dari kasus di atas,  jelas bahwa merek-merek apapun tentu perlu berjuang agar menjadi  merek yang top of mind. Namun, jika sudah menjadi top of mind, perlu dilakukan berbagai aktivasi agar merek-merek tersebut tidak terpeleset menjadi merek generik. Amat disayangkan jika usaha branding yang sudah dilakukan dengan susah payah, kemudian  menjadi merek generik yang bisa merefer ke merek apapun yang sejenis. Untuk itu, perlu langkah-langkah taktis untuk mengatasi hal ini.</p>
<p>Lalu bagaimana caranya supaya merek-merek itu menjadi top or mind namun tidak terpeleset menjadi merek generic?  Simak di bagian ke-2  dari tulisan ini.</p>
<p>sumber foto: http://www..kaskus.us</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2011/07/top-of-mind-dan-merek-generik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Citra Bungkus Kado</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2011/06/citra-bungkus-kado/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2011/06/citra-bungkus-kado/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 09:54:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saifullah Kundo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1671</guid>
		<description><![CDATA[Bicara tentang citra politik memang menarik. Apalagi di tengah gencarnya persaingan para calon kepala daerah untuk berebut  kursi. Pada rezim otoriter dulu, asalkan kita memegang penguasa saja, apalagi penguasa yang berbedil, maka otomatis penduduk di bawah akan manut. Tanpa syarat. Dan kemenanganpun akan diraih dengan tuntas, tas.  Tapi itu dulu. Sekarang?  Belum tentu. Jangankan pemaksaan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bicara tentang citra politik memang menarik. Apalagi di tengah gencarnya persaingan para calon kepala daerah untuk berebut  kursi. Pada rezim otoriter dulu, asalkan kita memegang penguasa saja, apalagi penguasa yang berbedil, maka otomatis penduduk di bawah akan manut. Tanpa syarat. Dan kemenanganpun akan diraih dengan tuntas, tas.  Tapi itu dulu. Sekarang?  Belum tentu.</p>
<p>Jangankan pemaksaan. Politik uang pun belum tentu jadi jaminan rakyat akan tunduk. Bila sang pesaing memberikan uang lebih besar, maka otomatis suara akan beralih ke sumber dana yang lebih besar. Ini tentu cara politik yang tidak sehat, atau bisa dikata sesat.</p>
<p>Kalau tekanan kekuasaan dan  iming-iming uang bukan jaminan, lalu apa dong yang bisa diandalkan?  Jawabannya adalah citra politik. Ya, harapannya dengan pembetukan citra politik yang positif maka pemilih akan berduyun-duyun memberikan suara kepada sang calon dengan sukarela.  Tak mempan, meski dibayar oleh calon pesaing.</p>
<p>Itu sebabnya kini, para calon penguasa baru ini berlomba-lomba membentuk citra politik yang positif. Apalagi, kabarnya, presiden kita yang sekarang pun terpilh karena kemampuan ia dan timnya mengolah citra politik. Hmm, bisa jadi ya, bisa tidak.</p>
<p>Nah, sampai di sini mungkin masih OK. Namun yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana kalau sang pemimpin ketika sudah menjabat tak bisa memenuhi janji-janji sesuai dengan yang sudah di-citrakan? Itu pula sebabnya, entah siapa yang memulai, citra poltik jadi identik dengan kebohongan public. Politik citra kemudian menjadi sebuah ‘dosa’ yang harus dihindari.</p>
<p>Sejatinya, pencitraan, apapun itu, baik dalam bidang politik maupun komersial, harus berdasarkan realita. Tanpa realita, maka citra itu hanya akan jadi ‘pepesan kosong’ belaka.  Mengambil contoh brand-brand besar, mereka dapat bertahan hingga saat kini karena mereka tak menjual pepesan kosong. Mereka mampu merealisasikan hal sesuai dengan yang dicitrakan.</p>
<p>Pemimpin-pemimpin besar bangsa ini, sebut saja Soekarno maupun Hatta, mampu menjadi tauladan  dan buah bibir manis hingga saat ini karena mampu mewujudkan janji-janji mereka kepada rakyat. Citra politik yang mereka bentuk, sesuai dengan realita.</p>
<p>Jadi, bukan pencitraan ala bungkus kado yang hanya membungkus sesuatu yang ‘<em>murahan</em>’ dengan  bungkusan yang ‘luks dan terkesan<em> mahalan</em>.’</p>
<p>?Sumber foto:</p>
<p>http://nyi-ayu.blogspot.com/2010/11</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2011/06/citra-bungkus-kado/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 (Lima) Buku &#8220;Political Branding &amp; Public Relations&#8221; untuk Komentar Terbaik</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/2011/06/5-lima-buku-political-branding-public-relations-untuk-komentar-terbaik-2/</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/2011/06/5-lima-buku-political-branding-public-relations-untuk-komentar-terbaik-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:53:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kenapa Harus PR</dc:creator>
				<category><![CDATA[Contest]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1657</guid>
		<description><![CDATA[Share pendapat anda, dan bagi 5 (lima) pemberi komentar terbaik, akan mendapatkan Buku &#8220;Political Branding &#38; Public Relations&#8221; dari pengarangnya, Silih Agung Wasesa. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; UPDATE: 5 (Lima) pemenang yang berhak mendapatkan buku &#8220;Political Branding &#38; Public Relations&#8221; karangan Silih Agung Wasesa. Randhika (randhy_v@xxxx.com) Angy Sonia (angie_metamorphs@xxxx.co.uk) Wulan Muhariani (wulanmuh@xxxx.com) mas-tony (rsultoni@xxxx.com) Asad (asad.fatchul@xxxx.com) Buku bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Share pendapat anda, dan bagi 5 (lima) pemberi komentar terbaik, akan mendapatkan Buku  &#8220;Political Branding &amp; Public Relations&#8221; dari pengarangnya, Silih  Agung Wasesa.<span id="more-1657"></span></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>UPDATE: 5 (Lima) pemenang yang berhak mendapatkan buku &#8220;Political Branding &amp; Public Relations&#8221; karangan Silih Agung Wasesa.</p>
<p>Randhika (randhy_v@xxxx.com)<br />
Angy Sonia (angie_metamorphs@xxxx.co.uk)<br />
Wulan Muhariani (wulanmuh@xxxx.com)<br />
mas-tony (rsultoni@xxxx.com)<br />
Asad (asad.fatchul@xxxx.com)</p>
<p>Buku bisa diambil langsung saat berlangsungnya acara <a title="Menuju Politik Sehat, Hemat dan Bermartabat" href="http://www.obrolanlangsat.com/calendar/day.html?time=1309366800" target="_blank">Obrolan Langsat</a>, pada 30 Juni 2011, yang sekaligus dijadikan sebagai acara soft launching buku &#8220;Political Branding &amp; Public Relations&#8221;.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Berbicara mengenai politik pencitraan, sebenarnya apakah politik pencitraan identik dengan kebohongan? Benarkah politik pencitraan identik dengan politik uang? Baru kemarin, kita dikejutkan dan dibuat prihatin dengan hukuman  pancung yang dijatuhkan kepada Ruyati binti Satubi, seorang TKW di Arab  Saudi pada Sabtu (20/6) lalu. Terkesan, pemerintah lamban dalam  bertindak.  Tentu, kekesalan utama banyak dialamatkan kepada Presiden  SBY. Banyak tudingan yang menyatakan bahwa Presiden dan stafnya terlalu  mementingkan politik pencitraan dan tidak berbuat banyak mengurus  rakyat.</p>
<p>Sampai pada tahap ini, terkesan bahwa politik pencitraan identik  dengan pembohongan publik. Menutup-nutupi kebenaran dengan rekayasa  citra yang dirancang sedemikian rupa. Namun apakah itu yang dimaksud dengan politik pencitraan yang sesungguhnya?  Apakah politik pencitraan meniadakan konsistensi dan  disiplin dalam merealisasikan janji-janji partai kepada audiens?<!--more--></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1661" title="giveaway-pol-brand" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2011/06/giveaway-pol-brand.jpg" alt="" width="428" height="217" /></p>
<p>Share pendapat anda, dan bagi 5 (lima) pemberi komentar terbaik &#8212; yang telah memenuhi Syarat &amp; Ketentuan &#8212; akan mendapatkan Buku &#8220;Political Branding &amp; Public Relations&#8221; dari pengarangnya, Silih Agung Wasesa.</p>
<p>Buku bisa diambil langsung saat berlangsungnya acara <a title="Menuju Politik Sehat, Hemat dan Bermartabat" href="http://www.obrolanlangsat.com/calendar/day.html?time=1309366800" target="_blank">Obrolan Langsat</a>, pada 30 Juni 2011, yang sekaligus dijadikan sebagai acara soft launching buku &#8220;Political Branding &amp; Public Relations&#8221;.</p>
<p><strong>Waktu:</strong></p>
<p>Kontes ini berlangsung dari Senin, 27 Juni 2011 pukul 14:00 WIB sampai Rabu, 29 Juni 2011 pukul 18:00 WIB.</p>
<p><strong>Syarat &amp; Ketentuan:</strong></p>
<p>1. Follow <a title="Kenapa Harus PR on Twitter" href="http://twitter.com/kenapaharuspr" target="_blank">@kenapaharuspr</a> dan <a title="Silih Agung Wasesa" href="http://twitter.com/Silih" target="_blank">@Silih</a><br />
2. Like Facebook fan page Kenapa Harus PR, <a title="Kenapa Harus PR" href="http://www.facebook.com/kenapaharuspr" target="_blank">http://www.facebook.com/kenapaharuspr<br />
</a>3. Berikan pendapat Anda dengan memposting comment di bawah ini.</p>
<p>Best luck, dan terima kasih untuk partisipasinya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="_mcePaste" class="mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 40px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;"><a href="mailto:wulanmuh@gmail.com">wulanmuh@gmail.com</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/2011/06/5-lima-buku-political-branding-public-relations-untuk-komentar-terbaik-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

