Home » Featured, Studi Kasus!

EGP…!!

27 May 2010 3 Comments

Ketika melintasi jalan di daerah padat  Gatot Subroto, Jakarta, penulis sedikit terhenyak melihat papan reklame besar yang terpampang di pinggir jalan: “Dukung si Anu, Calon Ketua Partai Anu”.  Gambar reklame itu lengkap dengan tampilan tulisan menarik plus foto calon sedang tersenyum lucu. Luar biasa, berapa ya dana yang digelontorkan untuk menampilkan wajah tersenyum itu di billboard?

Sesampai di rumah, eh si Anu tiba-tiba muncul lagi. Kali ini dalam bentuk iklan yang biasa disetting untuk produk makanan balita namun kini disetting ulang jadi produk politik. Intinya pada akhir iklan berbunyi, “dukung si Anu agar partai Anu jadi lebih baik”. Luar biasa, penulis membatin, terbayang kemudian iklan-iklan serupa yang muncul berjamuran saat  musim pilkada tiba. Saat itu tiba-tiba saja saluran TV nasional penuh dengan iklan-iklan dukungan politik untuk pencalonan si anu dari daerah anu.

Kira-kira apa hal pertama yang terlintas di benak kita saat melihat itu semua. Yap benar, EGP alias Emang Gua Pikirin? Bagaimana tidak? Pencalonan ketua partai kok ya menggunakan bilboard yang dipajang di tempat publik sih? Memang publik punya suara untuk mendukung atau tidak mendukung calon tersebut? Begitu juga dengan pilihan calon bupati atau gubernur. Untuk apa pula mereka memasang iklan di TV nasional? Tidakkah lebih baik jika iklan itu ditayangkan saja di TV-TV lokal atau diubah dalam bentuk strategi PR campaign yang ciamik. Walhasil akan lebih tepat guna dan tepat sasaran.

Bungkus rokok versus Organ Tunggal

Penulis teringat sekitar 10 tahun lalu pada saat melakukan Kuliah Kerja Nyata di sebuah desa Blambangan, Lampung Utara. Ada seorang lurah di sana bernama Pak Agus, orang Lampung aseli, meski bernama Jawa. Satu yang menarik dari Pak Agus adalah dia sampai dua kali terpilih sebagai kepala desa di Blambangan. Apa modalnya? Apakah dana jutaan rupiah? Tanah yang tergadai? Ternyata tidak. Cukup beberapa bungkus rokok. Kok bisa? Ya, yang menjadi titik bedanya adalah cara ia membagikan bungkus-bungkus rokok itu. Ia dengan rajin setiap seminggu sekali keliling ke dusun-dusun (bagian kecil dari desa) mengunjungi para kepala dusun di sana. Mengaji atau ta’lim bersama, nonton wayang atau sekadar duduk-duduk bersenda gurau melepas penat sambil mendengarkan masukan warga untuk pembangunan desa ke depan. Tanpa sadar, tanpa teori PR, ia sudah menanamkan citra positif dirinya sebagai kepada desa yang peduli di benak para penduduk dusun. Ini, istilah kerennya sekarang, jadi word of mouth positif bagi dirinya hingga ke seantoro dusun di wilayah Blambangan. Tanpa disadari Pak Agus sudah menjalankan Strategi PR Jangka Panjang secara tepat, pada audiens yang tepat.

Oleh sebab itu ketika musim pilkada tiba dan para calon lain berkampanye jor-joran menggunakan organ tunggal, dangdut bahkan minuman dan uang, untuk menarik simpati warga, namun para penduduk bergeming. Ya, para penduduk desa memang berkumpul, berkumpul untuk sekadar menikmati suguhan gratis itu. Tentu dengan tak lupa mengiyakan ajakan sang penyelenggara untuk memilih dirinya pada saat pencoblosan. Namun apa nyatanya? Bungkus rokok ternyata mampu mengungguli kampanye organ tunggal. Pak Agus menang lagi sebagai kepada desa untuk kedua kalinya…

Yah, semoga saja ke depan, banyak yang bisa menarik pelajaran dari pak Agus di atas. Dana iklan yang digelontorkan hingga ratusan juta tentu akan lebih bermanfaat jika dibuatkan program pencitraan  jangka panjang yang benar-benar melayani kebutuhan target pemilih. Jika itu terjadi, maka kata ”EGP”  tak akan lagi terlontar saat para pemirsa TV atau pengguna jalan dipaksa untuk melihat iklan-iklan yang tak ada kaitannya dengan mereka. Karena sepertinya, iklan-iklan itu terasa menggangu pemandangan saja….

Mari berbagi artikel ini:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Blogosphere News
  • email
  • LinkedIn
  • MySpace
  • Posterous
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter

3 Comments »

  • Inggrid said:

    Setuju sekali dengan anda…tapi melihat tulisan “bungkus rokok vs organ tunggal” anda di atas, sebaiknya iklan-iklan seperti apa yang seharusnya ditayangkan di media-media saat ini yang akan menjauhkan kata “EGP” dari pikiran kita?Kalau memang EGP akan terus menghantui iklan-iklan yang tayang, apakah era dari ‘kematian’ media konvensional seperti advertising, tvc, dll akan dikalahkan oleh iklan model baru yaitu socmed?

  • Alfisyahrin said:

    Kalau menurut saya, Iklan memang gagal menyampaikan pesannya utk mengubah pilihan orang yg melihatnya. Tetapi iklan dan media secara umum tetaplah bermanfaat sebagai wahana memperkenalkan. Sedangkan utk pencitraan, aksi simpatiklah yang paling tepat.

  • Saifullah Kundo said:

    Ya, khadiran social media hrs diakui sudah buat terobosan baru dalam ranah iklan maupun pencitraan. Iklan konvensional tampaknya jadi tergerus dengan adanya tools baru ini. Meski tetap hrs kita ingat, tools juga terkait dengan target pasar dan aksesibilitas. Untuk masyarakat Indonesia yg aksesibilitas internetnya masih relatif kecil, soc med rasanya masih harus dikovergensikan dengan tools tradisional sprti iklan TV, media cetak maupun radio. Kata kuncinya konvergensi media. Penggalangan dana untuk Prita adalah salah satu contoh konkrit kesuksesan konvergensi antara soc med dan media konvensional.

    Target pasar juga penting. Untuk target pasarnya menengah perkotaan yg kritis dan aksesibilitas internetnya bagus, sepertinya media iklan tradisional terasa akan sekadar waste our money. Apalagi kalau sampai salah sasaran seperti iklan kampanye politik di atas. Terbukti bukan, salah satu calon yang kampanye iklannya jor-joran kalah dengan calon satu lagi yg main ‘bungkus rokok’ diam2:-)

    Setuju, aksi simpatik yg dilakukan tulus dan terus menerus akan dapat dukungan simpatik dari publik. Kata kuncinya adalah ‘tulus’ dan ‘terus menerus’. Masalahnya, sudah adakah partai politik yg konsisten melakukan itu?:-)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.