Home » Cyber PR!, Featured, Studi Kasus!

Dukung Yo Dukung, Tapi Jangan Asal Dukung

30 December 2009 4 Comments

Ketika melintasi persimpangan bioskop Megaria, Jakarta, pandangan saya tertuju pada satu spanduk unik yang dipasang menyolok terikat di tengah-tengah rambu lalu lintas. Macetnya lalu lintas  membuat spanduk itu pasti terbaca oleh sebagian besar pengemudi yang melintas. Tulisan di spanduk kira-kira berbunyi “ Dukung SBY: Usut Tuntas Kasus Century: Pansus Jangan Keluar Jalur”. Tertulis di sana nama sebuah kelompok Ormas yang mengeluarkan himbauan tersebut. Ternyata, spanduk sejenis juga saya temukan di kawasan patung tani dan beberapa titik keramaian lain di Jakarta.

Sementara, kemarin, saat menyaksikan tayangan televisi dan menyimak pemberitaan online, saya juga mendapatkan berita menarik. Tampak sekelompok pegawai di Departemen Keuangan kompak mengenakan kain hitam di lengannya yang bertuliskan ”m”. Seperti dikutip dari situs Republika online, ketika ditanya apa alasannya, salah seorang staf Departemen Keuangan mengaku ikhlas mengenakan pita hitam itu serbagai bentuk dukungan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani  sebab dirinya yakin bahwa pimpinan mereka yang tengah disorot dalam kasus Century tak bersalah. “Yakin dong. Ibu kami, kok. Masa anak buahnya tidak percaya?” ucapnya. (http://www.republika.co.id/berita/97309/Pita_Hitam_Dukungan_Buat_Sri_Mulyani).

Terkait dengan aktivitas dukung mendukung, ingatan saya kemudian merunut ke belakang. Beberapa waktu lalu saat sedang terjadi ribut-ribut kasus cicak versus buaya, selain ada pendemo yang berasal dari kelompok pendukung pembebasan Bibit-Chandra  dari KPK ada juga kelompok tandingan kelompok pendukung Polri dan Kejaksaan yang tidak kalah semangat. Di jalan, mereka berorasi tidak kalah kencang membela Polri dan Kejaksaan yang waktu itu tersudut oleh pemberitaan media. Meski tidak sama persis, fenomena di atas, memiliki pola penggalangan dukungan yang serupa. Intinya, untuk meng-counter pemberitaan yang menyudutkan, pihak-pihak yang tersudut mencoba menampilkan kepada publik melalui media bahwa ada juga kelompok yang membela mereka.

Galang dukungan dengan Internet.

Facebookers

Facebookers

Tentu, bicara tentang dukung mendukung saat ini, tak bisa lepas dari dukungan melalui sosial media di Internet. Baru-baru ini saya juga mendapat invitation dari salah satu teman facebookers untuk masuk dalam kelompok pendukung Sri Mulyani dan Boediono. Sebelumnya, saya juga mendapat invitation untuk mendukung gerakan koin keadilan Prita. Dan yang terbaru, yang baru saya temukan di facebook, ternyata sudah ada juga gerakan kelompok pembela Luna Maya melawan infotainment. Ruaar biasa! Tinggal tunggu saja, mungkin pasca terbitnya buku ”Gurita Cikeas” –nya George Aditjondro, kita akan mendapatkan account facebook yang mendukung atau melawan isi buku tersebut.

Kisah Sukses Dukungan Koin Keadilan untuk Prita

koin for prita

Tak bisa dipungkiri, penggalangan dukungan koin Prita yang dimulai dari situs sosial media internet itu kemudian mendapat respon positif dari media massa konvensional, terutama televisi. Ketika gerakan itu disebarluaskan, maka orang beramai-ramai mendukung memberikan recehnya. Sebagian besar masyarakat merasakan diri mereka terwakili oleh sosok Prita. Sosok lemah yang tak berdaya di hadapan penguasa (dalam hal ini pengadilan dan kejaksaan). Maka beramai-ramailah orang mendukung. Baik dari pemulung, hingga mantan pejabat, semua merasa tersatukan dalam koin sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Bisa dikatakan, ini merupakan bentuk campaign tersukses di Indonesia saat ini. Hingga kini, menurut beberapa media, koin yang terkumpul sudah mencapai nilai ratusan juta. Jauh melebihi kebutuhan untuk membayar denda yang digugat oleh RS Omni International kepada Prita, walau kemudian gugatan tersebut dicabut

Dukung dengan Cerdas

Tentu, tidak semua upaya dukungan itu sukses. Upaya beberapa pihak yang tersudut oleh pemberitaan media untuk menggalang dukungan banyak pula yang kandas. Dukungan yang coba digalang oleh Polri maupun Kejaksaan untuk melawan dukungan terhadap Bibit-Chandra, kandas di tengah jalan. Kini sedang berjalan upaya dukungan yang coba digalang oleh beberapa pihak untuk membela Sri Mulyani dan Boediono. Bagaimana hasilnya? Di account facebook, tampak dukungan terhadap Sri Mulyani sudah diikuti oleh 23.000 orang facebookers. Upaya itu juga didukung oleh tebaran spanduk di jalan-jalan dan pengenaan pita hitam yang dipelopori oleh para karyawan di Departemen Keuangan. Suskeskah dukungan ini? Biarlah waktu yang akan menjawabnya kelak.

Hal yang jelas, kesuksesan sebuah upaya campaign dukungan harus menyertakan banyak hal. Selain dukungan di internet, dukungan dari media massa konvensional juga harus didapat. Jika tidak, maka campaign itu hanya akan berupa gagasan dunia maya yang tidak terealisasikan di lapang. Contoh kasus, saat penggalangan demo hari anti korupsi, tak seperti yang diduga di awal, peserta demo pada 9 Desember 2009 itu ternyata tidak sebanyak pendukung di facebook. Selain itu beberapa hal seperti kesesuaian tema yang diangkat, metode penggalangan dukungan yang tepat dan unik, serta rasa sepenasib sepenanggungan dengan publik merupakan elemen-elemen penggalangan dukungan yang tak boleh diabaikan. Pendek kata, dukunglah dengan cerdas agar upaya Anda sukses! So, Selamat mendukung!

*Ditulis oleh Saifullah Kundo, Strategic Content Specialist, Praktisi PR, dan Mantan Wartawan
Editing dan Illustrasi oleh Takhta Pandu Padmanegara

Image Source: koinkeadilan.com, flickr.com

Mari berbagi artikel ini:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Blogosphere News
  • email
  • LinkedIn
  • MySpace
  • Posterous
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter

4 Comments »

  • Widy said:

    Nice post :)

    Basically, hal yang Anda posting-kan ini sedang ada di benak saya juga. Yaitu populernya Gerakan-gerakan dukungan yang ada di FB (Facebook) (platform publikasi memang beda-beda, tapi untuk sekarang ujung-ujungnya re-direct ke FB).

    Menurut saya pencipta akun grup “Gerakan 1.000.000 Facebookers Pendukung Gerakan-gerakan 1.000.000 Pendukung” cukup smart juga (sadar atau tidak sadar). Ini menggelitik saya. Melalui fenomena-fenomena ini, saya rasa fenomena ‘People Power’ di Indonesia telah menjajaki level baru, yaitu: ‘People Power 2.0′.

    Saya setuju bahwa amat sangat mungkin pendukung gerakan-gerakan dukungan di social media cyber ini sebetulnya hanya asal klik atau ikut-ikutan (wong menambah teman aja masih ada yang asal hajar ala Friendster). Namun apabila ada kesungguhan dan simpati universal, maka hasilnya adalah seperti kasus Mba’ Prita.

    Maksud saya, perlu digaris bawahi bawah jangan sampai bentuk-bentuk dukungan melalui dunia cyber dianggap serius (apalagi dimasukkan ke dalam salah satu pasal di UU ITE). Situs-situs ini masih hanya merupakan media untuk berkomunikasi saja dan sejauh menunjukkan minat, tapi belum tentu sampai ke ‘Action’. RS Omni perlu mendalami pendidikan PR lebih dalam. Karena telah gagal dalam memilah-milah solusi dalam konteks kultur bangsa Indonesia. Tidak mungkin media di-shut down dari sebuah negara khan? :)

    Thank you..

  • dede syaadah said:

    apalagi dimasukkan ke dalam salah satu pasal di UU ITE –>
    sepakat dengan jangan sampai dimasukkan ke dalam salah satu pasal uu ite. pak tifatul yang cerdas, tolong kawal ya, jangan sampai sampai terjadi.

    perlu digaris bawahi bawah jangan sampai bentuk-bentuk dukungan melalui dunia cyber dianggap serius –> ini adalah tugas sang pr buat mencermati isu mana yang masuk kategori serius dan butuh perhatian serta perlakuan khusus. salah respon-nya omni, kan, yang melahirkan people power 2.0 ?

  • pandu said:

    yang jelas ini termasuk online social movement. mengapa gerakan-gerakan ini ada yang sukses ada yang ngga, yah karena faktor senasib sepenanggungan dengan publik. Apalagi begitu ditambah pemberitaan media tradisional, (TV, koran, radio), hasilnya People Power 2.0…

    Dari dunia cyber, ke dunia nyata..

    social media dan online community sudah tidak bisa diremehkan lagi..

  • Saifullah Kundo said:

    Terima kasih Widy. Betul,perlu sosialisai luas ke semua kalangan tentang pentingnya PR. Fenomena People Power 2.0 membuktikan bahwa kekuatan PR memang tak bisa diabaikan. Sehingga semoga tumbuh kesadaran di kalangan perusahaan dan lembaga bahwa kegiatan PR bukan cost semata namun juga efffort yang dapat menuai keuntungan konkrit pada masa depan. Semoga.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.