<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kenapaharuspr.com &#187; Ide Kreatif!</title>
	<atom:link href="http://kenapaharuspr.com/category/kreatif/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kenapaharuspr.com</link>
	<description>Indonesian Public Relations Blog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Jul 2010 16:24:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Rekayasa Citra</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/rekayasa-citra.html</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/rekayasa-citra.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 10:47:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kenapaharuspr (author)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide Kreatif!]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Kasus!]]></category>
		<category><![CDATA[pencitraan politik]]></category>
		<category><![CDATA[politic]]></category>
		<category><![CDATA[political PR]]></category>
		<category><![CDATA[shaping image]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Rekayasa, atau dalam bahasa asalnya kita kenal dengan engineering, memang memiliki konotasi negatif ketika dikaitkan dengan masalah citra. Setidaknya, itulah yang terjadi dalam persepsi masyarakat Indonesia. Menariknya, istilah “rekayasa citra” begitu lekat pada profesi Public Relations dan politik. Rekayasa dipersepsikan sebagai hal yang negatif karena dikesankan sebagai upaya mengubah sesuatu demi kepentingan diri sendiri ataupun pihak tertentu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/02/rekayasa-citra-copy.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-252" title="rekayasa citra copy" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/02/rekayasa-citra-copy.jpg" alt="rekayasa citra copy" width="432" height="557" /></a></p>
<p>Rekayasa, atau dalam bahasa asalnya kita kenal dengan <em>engineering</em>, memang memiliki konotasi negatif ketika dikaitkan dengan masalah citra. Setidaknya, itulah yang terjadi dalam persepsi masyarakat Indonesia. Menariknya, istilah “rekayasa citra” begitu lekat pada profesi Public Relations dan politik. Rekayasa dipersepsikan sebagai hal yang negatif karena dikesankan sebagai upaya mengubah sesuatu demi kepentingan diri sendiri ataupun pihak tertentu.</p>
<p>Seberapa jauh rekayasa menjadi negatif, tentu masing-masing pihak punya alasan tersendiri. Namun, masalahnya bukanlah terletak pada urusan rekayasa itu negatif atau positif. Masalahnya lebih terletak pada persepsi tentang  profesi Public Relations dan politik itu tadi. Maklum, baik Public Relations maupun politisi dipersepsikan suka melakukan rekayasa yang manipulatif. Persoalan berikutnya terkait cara memandang kerja Public Relations dan praktek politik itu sendiri. Sekadar contoh, saat Public Relations melakukan rekayasa penampilan seorang tokoh politik dengan  melatih cara berucap yang tegas. Seringkali, hal itu dipersepsikan sebagai sebuah upaya “membohongi” publik. Alasannya, mengubah penampilan dan menentukan apa yang (harus) dibicarakan oleh tokoh politik acapkali dianggap sebagai upaya untuk menutupi  realitas yang sebenarnya dari tokoh tersebut.</p>
<p>Dalam praktik, tidak dapat dimungkiri bahwa banyak proses pencitraan yang dilakukan lewat pemolesan luar biasa atas penampilan tokoh politik. Seorang jenderal yang begitu ringan tangan dan sering melakukan kekerasan misalnya, dengan serta merta diubah menjadi seorang humanis. Ia digambarkan begitu cinta dan dekat dengan rakyat kecil dan senyumnya terlihat begitu tulus. Tengok saja, dalam iklan yang ditebar melalui media massa, ia tampak begitu ringan merangkul pedagang pasar, menyapa ibu-ibu yang tengah menggendong anak, atau dalam bentuk-bentuk lain yang penggambarannya begitu menyentuh.</p>
<p>Buntutnya, dalam persepsi masyarakat, politisi dianggap menjadi semacam pembohong besar. Mau bukti? Bila Anda seorang politisi, silakan buat <em>facebook</em>, lalu tempel foto Anda lengkap dengan atribut partai, kemudian minta <em>add </em>pada seseorang yang belum Anda kenal. Hasilnya, penulis berani jamin 90 persen, para <em>facebooker</em> akan menolak ajakan Anda untuk menjadi teman.</p>
<p><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/02/kampanye-facebook.png"><img class="alignnone size-large wp-image-251" title="kampanye facebook" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/02/kampanye-facebook-1024x746.png" alt="kampanye facebook" width="536" height="389" /></a></p>
<p>Sejak Barack Hussein Obama, Presiden Amerika Serikat terpilih, kondang dengan strategi media sosialnya lewat jejaring dunia maya, banyak politisi yang (secara tidak langsung) mengeluh. Sebab, prestasinya kok tidak bisa sehebat Obama saat meminta sumbangan melalui <em>cyber media</em>, baik <em>website, weblog,</em> ataupun perangkat media sosial semacam <em>facebook, friendster</em> ataupun <em>plurk</em>.</p>
<p>Namun, penolakan yang besar terhadap politisi Indonesia bukan semata-mata karena perbedaan strategi jangka panjang yang diterapkan. Harap diingat, Obama sudah memanfaatkan <em>facebook</em> sejak dua tahun sebelum ia mencalonkan diri sebagai presiden. Ketika Obama masuk dalam <em>facebook</em>, dia sudah terlebih dahulu membangun kepercayaan dalam tataran off_line.</p>
<p>Tapi jika ditelusuri lebih mendasar, alasan yang lebih mendasar terkait penolakan politisi Indonesia di facebook, ya, karena persepsi negatif sudah sedemikian tertancap dalam benak masyarakat tentang politisi. Persepsi yang berawal dari ketidakpercayaan yang mereka buat sendiri dalam keseharian.   Dengan kenyataan seperti itu, sulit dimungkiri, persepsi akan berpengaruh pada setiap aktivitas program (politik) yang mereka jalankan. Dalam hal ini, media massa ataupun publik akan melihat bahwa setiap program diawali dengan kepentingan tersembunyi,  ketidaktulusan, atau apalah namanya, yang pada intinya (seolah) ada yang ditutup-tutupi oleh profesi tersebut.</p>
<p>Situasi seperti itu menjadi semakin menantang karena “politik” itu sendiri &#8211;sekalipun terlepas dari “citra” dan “Public Relations”&#8211; sudah masuk dalam kategori <em>rejection item </em></p>
<p>ke dalam benak masyarakat Indonesia.  Untuk mengukur seberapa jauh tingkat ketertolakan politik dalam benak masyarakat tersebut, mau tak mau, diperlukan sebuah riset independen, bukan riset oleh lembaga yang dipesan oleh sebuah partai politik. Sebab,  jika riset tersebut dilakukan oleh lembaga riset politik pesanan, maka hasilnya sangat mungkin akan berbeda. Bahkan, bukan tidak mungkin,  riset tersebut akan mendapati hasil bahwa politisi merupakan profesi yang paling dihargai.</p>
<p>Ditambah dengan situasi banyaknya organisasi politik dan politisi yang lebih  cenderung menggunakan <em>political advertising</em> ketimbang <em>political</em> Public Relations, maka makin kuatlah dugaan adanya rekayasa citra. Dalam urusan ini, <em>advertising</em> memang mampu membangun pesan secara lebih cepat, kontrol pesan yang lebih mudah, dan efek massal yang lebih luas. Namun, yang seringkali tak disadari, sebetulnya kredibilitas pesannya sangat rendah. Hal ini mengingat, iklan adalah bicara tentang diri sendiri.</p>
<p>Ini sangat berbeda dengan Political Public Relations. Karena Political Public Relations memanfaatkan orang ketiga untuk berbicara tentang tokoh ataupun organisasi politik. Dengan begitu, kepercayaan public pun menjadi lebih lebih tinggi. Tentu saja, dengan penggunaan yang tepat. Karena, seringkali, dalam banyak kasus, Public Relations hanya digunakan kulit luarnya saja. Sang tokoh dipoles tampilan luarnya saja, tapi konten dalamnya gak digarap sama sekali. Akibatnya? Masyarakat sering terkejut-kejut dengan sang tokoh. Seorang presiden yang mempersepsikan dirinya santun, mendadak bisa marah yang tidak penting, ketika di sebuah forum ada orang yang tampak ngantuk.  <em>Conflicting Image </em>yang seperti ini bisa terjadi, jika PR hanya dimanfaatkan sekedar polesan luar saja, bukan dalam konteks yang lebih mendalam yang berbasis pada kepribadian sang tokoh.</p>
<div id="attachment_261" class="wp-caption alignnone" style="width: 514px"><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/02/political-PR3.png"><img class="size-large wp-image-261" title="political PR" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/02/political-PR3-1024x643.png" alt="Political Public Relations" width="504" height="316" /></a><p class="wp-caption-text">Political Public Relations</p></div>
<p>Jadi, pencitraan bukan sekadar masalah persepsi belaka namun harus bersifat menyeluruh terhadap kepribadian sang tokoh.</p>
<p><em>Disarikan dari Buku Political Public Relations by Silih Agung Wasesa.</em></p>
<p><em>*Ditulis oleh Saifullah Kundo, Strategic Content Specialist, Praktisi PR, dan Mantan Wartawan<br />
Editing, Illustrasi, dan Visual Thinking oleh <a onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com/?referer=');pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com?referer=http%3A%2F%2Fkenapaharuspr.com%2F');" href="http://padmanegara.wordpress.com/">Takhta Pandu Padmanegara</a></em></p>
<p><em>Image Source:<br />
deviantart.com<br />
flickr.com<br />
facebook.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/rekayasa-citra.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>It’s time for YOU, again…</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/it%e2%80%99s-time-for-you-again%e2%80%a6.html</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/it%e2%80%99s-time-for-you-again%e2%80%a6.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 11:25:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kenapaharuspr (author)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cyber PR!]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Ide Kreatif!]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Kasus!]]></category>
		<category><![CDATA[Asean China Free Trade Area]]></category>
		<category><![CDATA[Personal PRoduct]]></category>
		<category><![CDATA[PR 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[Web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[
Kebutuhan terhadap keunikan personal kini semakin dipahami berbagai produk dan layanan. Jika kita perhatikan dengan seksama iklan Panasonic terbaru di televisi, maka kita akan menemukan tag line unik yaitu “It’s Your life ”.  Indikasi bahwa perusahaan ini sadar terhadap kebutuhan konsumen yang semakin personal.
Merunut ke belakang, mesin pencari Google sejak beberapa tahun lalu juga sudah memampilkan fitur unik yang memungkinkan penggunanya untuk mengubah tampilan sesuai selera pribadi. Demikian juga dengan berbagai layanan e-mail berbasis situs internet yang semakin personal. Berbagai situs media berita berbasis internet juga semakin banyak yang menyediakan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="560" height="340" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/6ILQrUrEWe8&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="560" height="340" src="http://www.youtube.com/v/6ILQrUrEWe8&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Kebutuhan terhadap keunikan personal kini semakin dipahami berbagai produk dan layanan. Jika kita perhatikan dengan seksama iklan <a href="http://panasonic.co.id/" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/panasonic.co.id/?referer=');">Panasonic</a> terbaru di televisi, maka kita akan menemukan tag line unik yaitu “It’s Your life ”.  Indikasi bahwa perusahaan ini sadar terhadap kebutuhan konsumen yang semakin personal.</p>
<p>Merunut ke belakang, mesin pencari <a href="http://www.google.com/ig" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.google.com/ig?referer=');">Google</a> sejak beberapa tahun lalu juga sudah memampilkan fitur unik yang memungkinkan penggunanya untuk mengubah tampilan sesuai selera pribadi. Demikian juga dengan berbagai layanan e-mail berbasis situs internet yang semakin personal. Berbagai situs media berita berbasis internet juga semakin banyak yang menyediakan tempat ‘curhat’ bagi para pembacanya. Layanan ini terintegrasi dengan social media seperti <a href="http://www.facebook.com" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.facebook.com?referer=');">facebook</a>, <a href="http://www.twitter.com" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.twitter.com?referer=');">twitter</a> ,<a href="http://www.youtube.com" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.youtube.com?referer=');"> YouTube </a>dan lainnya. Interaksi menjadi fitur yang wajib ditampilkan. Pembaca harus disediakan tempat berkomentar agar ia tampil unik dan personal melalui pendapatnya. Dalam dunia maya, istilah interaksi ini dikenal dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Web_2.0" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/en.wikipedia.org/wiki/Web_2.0?referer=');">Web 2.0</a> atau oleh praktisi PR yang menggunakan <em>tools</em> social media diistilahkan PR 2.0. <strong><em>Makna 2.0 sendiri mengindikasikan adanya interaksi dua arah antara pengirim pesan dan audiensnya.</em></strong></p>
<p>Namun personalisasi bukan ada di dunia maya saja. Merunut ke beberapa tahun silam, di Indonesia, dimulai dari Bandung, kemunculan beragam <em>outlet</em> distro di sana juga timbul berkat keinginan konsumen untuk tampil unik. Mereka ingin mengenakan pakaian dan aksesoris dengan model yang lain dari biasa, personal, jarang atau bahkan kalau bisa tak pernah dipakai sebelum maupun sesudahnya oleh orang lain. Ini menegaskan bahwa personalisasi  bukan melulu ada di wilayah dunia maya, tapi juga dunia nyata. Majalah Time sejak Januari 2007 lalu bahkan sudah membaca trend ke arah personalisasi ini dengan artikel utamanya yang berjudul “<em>the man of the year: is You!.</em></p>
<p><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/01/time_person_of_year_2006-copy.jpg"><img class="size-full wp-image-246 alignnone" title="time_person_of_year_2006 copy" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/01/time_person_of_year_2006-copy.jpg" alt="time_person_of_year_2006 copy" width="400" height="533" /></a></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong>Makin Personal, makin Oke</strong></p>
<p>Ya, tak bisa dipungkiri di tengah tuntutan ‘standarisasi’ dunia global, diam-diam keinginan manusia untuk  tampil ‘beda’ dan ‘unik’ menjadi tinggi. Banyak orang sudah lelah dan jenuh untuk berbudaya dengan ‘standar Internasional’. Bekerja sesuai dengan sistem ISO, bergaya dengan model-model lifestyle ‘mainstream’ berkiblat Barat, berprestasi, beretika bahkan berselera sesuai dengan standard <em>mainstream</em>. Budaya massa yang ditumpahkan oleh media televisi membuat kehidupan menjadi seragam. <a href="http://us.levi.com/home/index.jsp" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/us.levi.com/home/index.jsp?referer=');">Celana jeans</a>, <a href="http://www.coca-colabottling.co.id" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.coca-colabottling.co.id?referer=');">Coca-Cola</a>, dan <a href="http://www.kfcindonesia.com/coverpage/" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.kfcindonesia.com/coverpage/?referer=');">KFC </a>adalah beberapa produk massa yang dapat kita temukan dari New York, Jeddah, Pretoria, Tokyo, Jakarta, hingga kota kecil Metro di Lampung, Indonesia. Kerinduan akan keunikan personal  ini tertuang dalam bentuk komunitas-komunitas kecil penggemar sepeda, penggemar makanan, kumpulan bloggers dan sebagainya. Ini membuat kelompok itu menjadi unik di antara masyarakat kebanyakan.</p>
<p><strong><em>Mass Production? No Way!</em></strong></p>
<div id="attachment_236" class="wp-caption alignnone" style="width: 460px"><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/01/2010_01_06_China_Asean.jpg"><img class="size-full wp-image-236 " title="China Asean Free Trade Area" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/01/2010_01_06_China_Asean.jpg" alt="China Asean Free Trade Area" width="450" height="293" /></a><p class="wp-caption-text">China Asean Free Trade Area</p></div>
<p>Seiring dimulainya era perdagangan bebas Asean China Free Trade Area (ACFTA) 2010, maka keunikan dan personalisasi ini bisa jadi kekuatan kita, kekuatan lokal Indonesia. Berbagai produk <em>mass production</em> berharga murah yang jadi ciri khas produk asal China yang coba tembus pasar kita, kita lawan dengan keunikan personal produk dan jasa kita. Bila ada pakaian jadi impor yang ditawarkan, kita lawan dengan batik tulis yang unik, personal dan berkualitas. Jika ada <em>software </em>impor mahal yang ditawarkan, kita lawan dengan <em>software</em> lokal yang lebih <em>adjustable</em> dan lebih murah atau bahkan gratis. Kita gunakan <em>tools </em>Web2.0 dan mekanisme PR 2.0 untuk <em>campaign</em> produk lokal. Jadi, bagi perusahan yang hanya mengandalkan <em>mass production</em> dan harga murah, berhati-hatilah<em>!  Because now it’s time for YOU (and your personal products and services) to shine, again…..</em></p>
<p><em>*Ditulis oleh Saifullah Kundo, Strategic Content Specialist, Praktisi PR, dan Mantan Wartawan<br />
Editing dan Illustrasi oleh <a onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com/?referer=');pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com?referer=http%3A%2F%2Fkenapaharuspr.com%2F');" href="http://padmanegara.wordpress.com/">Takhta Pandu Padmanegara</a></em><em><br />
</em></p>
<p>Image Source:</p>
<p>http://www.asiaobserver.com/images</p>
<p>http://www.time.com</p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/it%e2%80%99s-time-for-you-again%e2%80%a6.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Reality Show!</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/saatnya-reality-show.html</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/saatnya-reality-show.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 02:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kenapaharuspr (author)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Ide Kreatif!]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Kasus!]]></category>
		<category><![CDATA[Hendri Mulyadi]]></category>
		<category><![CDATA[Laode Kamaluddin]]></category>
		<category><![CDATA[PR campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Reality Show]]></category>
		<category><![CDATA[Tareq and Michelle Salahi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat dengan nama Hendri Mulyadi? Itu lo penonton yang masuk ke arena pertandingan sepak bola saat berlangsung laga antara tim Indonesia dengan Oman di ajang kualifikasi Asia 2011 (6/1). Dengan gagah berani dia masuk ke lapangan bola dan menggiring bola ke gawang Oman yang dijaga penjaga gawang Ali-Alhabsi. Hasilnya? Tidak gol sih, namun upaya yang dilakukkannya itu terekam jelas di kamera TV maupun kamera fotografer media cetak. Dia memang tidak mampu menggolkan gawang lawan, namun beritanya jadi healine di surat kabar Nasional terkemuka, Kompas, masuk berita TVOne, Metro TV dan media lainnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_223" class="wp-caption alignnone" style="width: 306px"><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/01/icon-hendrimulyadi.jpg"><img class="size-full wp-image-223" title="hendrimulyadi" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/01/icon-hendrimulyadi.jpg" alt="Hendri Mulyadi Menggiring Bola" width="296" height="453" /></a><p class="wp-caption-text">Hendri Mulyadi Menggiring Bola</p></div>
<p>Masih ingat dengan nama Hendri Mulyadi? Itu lo penonton yang masuk ke arena pertandingan sepak bola saat berlangsung laga antara tim Indonesia dengan Oman di ajang kualifikasi Asia 2011 (6/1). Dengan gagah berani dia masuk ke lapangan bola dan menggiring bola ke gawang Oman yang dijaga penjaga gawang Ali-Alhabsi. Hasilnya? Tidak gol sih, namun upaya yang dilakukkannya itu terekam jelas di kamera TV maupun kamera fotografer media cetak. Dia memang tidak mampu menggolkan gawang lawan, namun beritanya jadi healine di surat kabar Nasional terkemuka, Kompas, masuk berita TVOne, Metro TV dan media lainnya.</p>
<p>Pesannya juga amat jelas. Ia, mewakili seluruh pendukung tim merah putih, baik yang menonton langsung di lapangan maupun di rumah, kecewa terhadap permainan yang ditampilkan tim Indonesia.   Saya melakukan itu karena kecewa atas prestasi timnas Indonesia yang tak pernah menang. Selalu kalah, bahkan selalu seri,&#8221; tuturnya saat ditanya wartawan di ruang interogasi keamanan yang terletak di area GBK seperti dikutip dari <a href="http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2010/01/06/220549/1273049/76/saya-masuk-lapangan-karena-kecewa-timnas" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.detiksport.com/sepakbola/read/2010/01/06/220549/1273049/76/saya-masuk-lapangan-karena-kecewa-timnas?referer=');">detik.com </a></p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/ljpwVaqGSl4&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/ljpwVaqGSl4&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p style="text-align: center;">Saat Hendri turun ke lapangan</p>
<div id="attachment_224" class="wp-caption alignleft" style="width: 146px"><a href="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/01/coverkamal.jpg"><img class="size-full wp-image-224" title="laode kamaladdin" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2010/01/coverkamal.jpg" alt="Laode saat disergap polisi" width="136" height="124" /></a><p class="wp-caption-text">Laode saat disergap polisi</p></div>
<p>Selain Hendri, ada juga nama Laode Kamaludin. Namanya sontak terkenal ketika aktivis dari LSM Komite Aksi Masyarakat dan Anti Korupsi (KAPAK) meneriaki Wapres Boediono dengan teriakan “Boediono Maling!”, di gelar rapat pansus (12/1) di gedung DPR, Jakarta.  Setelah sempat diinterogasi, ia kemudian dilepaskan. Namun, ia meninggalkan jejak pesan di berbagai media bahwa ia, mewakili beberapa pihak yang seide, kesal baik dengan sikap Boediono maupun pansus.</p>
<p>Seperti yang dikutip dari <a href="http://nasional.kompas.com/read/2010/01/12/19333738/Laode.Mengaku.Teriak.karena.Gemas.dengan.Boediono" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/nasional.kompas.com/read/2010/01/12/19333738/Laode.Mengaku.Teriak.karena.Gemas.dengan.Boediono?referer=');">kompas online:</a></p>
<p>&#8220;Bagi saya Boediono bukan seorang nasionalis yang tinggi tapi antek-antek asing yang merugikan uang rakyat. Akhirnya saya teriakan maling dan saya keluarkan poster (Boediono) dan saya sobek,&#8221; tambah dia.  Selain itu, pemicu kekesalan lain menurut Ketua Presidium Komite Aksi Pemuda Anti Korupsi (Kapak) itu adalah para anggota Pansus yang dianggapnya tidak serius mengorek keterangan dari mantan Gubernur BI. &#8220;Kami sayangkan Pansus bertanya bertele-tele. Banyak pertanyaan yang tak perlu ditanyakan,&#8221; lontar pemuda tambun berkepala botak itu.</p>
<p><strong>Campaign  Reality Show</strong></p>
<p>Tidak saja di dalam negeri, fenomena reality show juga terjadi di luar negeri.  Sekitar bulan November 2009 lalu, nama pasangan Tareq dan Michelle Salahi mencuat di berbagai media dunia ketika keduanya berhasil masuk ke Gedung Putih dan berjabat tangan dengan presiden AS Barrack Obama (<a href="http://www.kompas-tv.com/content/view/23688/2/" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.kompas-tv.com/content/view/23688/2/?referer=');">http://www.kompas-tv.com/content/view/23688/2/</a>) meski tidak diundang oleh Gedung Putih. Secret Service bagai kebakaran jenggot dan bahkan sempat me-non aktifkan beberapa petugasnya yang bertanggung jawab pada malam tersebut.  Beberapa media bahkan menayangkan acara khusus talk show untuk mereka berdua agar dapat berbagi cerita dengan pemirsa.  Ini juga meninggalkan pesan bahwa Secret Service tidak sehebat yang diduga banyak orang selama ini.</p>
<p>Luar biasa. Dengan aksi reality show ini, seseorang dapat mendadak jadi terkenal dan ide/gagasan yang dicetuskannya dapat membetot perhatian public. Meski tidak dapat dijadikan metode campaign yang berkelanjutan, reality show cukup sukses untuk memberi kejutan sekali yang menohok perhatian public dan media. Tentu jika dibadingkan dengan campaign iklan berbiaya mahal dan kurang efektif karena sering diabaikan audiens, campaign reality show ini bisa jadi alternatif menarik. So, Ingin coba? Kenapa tidak?</p>
<p><em>*Ditulis oleh Saifullah Kundo, Strategic Content Specialist, Praktisi PR, dan Mantan Wartawan<br />
Editing dan Illustrasi oleh <a href="http://padmanegara.wordpress.com" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com?referer=');">Takhta Pandu Padmanegara</a></em><br />
<em>Illustrasi oleh Delio Ionik</em></p>
<p>Image Source:<br />
jagobola.com<br />
detik.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/saatnya-reality-show.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SPIN = MISLEADING?</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/spin-misleading.html</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/spin-misleading.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 03:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kenapaharuspr (author)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Ide Kreatif!]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Misleading]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[Spin Doctor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[
Baru-baru ini seorang teman iseng-iseng bertanya pada saya, “Mas, kalau kira-kira Mas jadi PRnya Kapolri saat ini, apa yang akan Mas lakukan supaya nama baik POLRI jadi bagus ?,” tanyanya. Saya tertegun sejenak. Ya, perkembangan wacana yang bertebaran belakangan ini yang menggambarkan perseteruan POLRI dan KPK sangat menyudutkan POLRI. Hampir semua pemberitaan menggambarkan POLRI dan Kejaksaan sebagai lembaga yang sulit dipercaya dan diduga menjadi tempat praktek subur “mafia kasus”.
Bagi saya, ini tantangan menarik dari sisi Public Relation. Seorang public relationers atau lembaga public relation yang baik memang harus mampu menjalankan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-126" href="http://kenapaharuspr.com/?attachment_id=126"><img class="alignnone size-full wp-image-126" title="jika saya PR POLRI" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2009/11/jika-saya-PR-POLRI.jpg" alt="jika saya PR POLRI" width="460" height="388" /></a></p>
<p>Baru-baru ini seorang teman iseng-iseng bertanya pada saya, “<strong>Mas, kalau kira-kira Mas jadi PRnya Kapolri saat ini, apa yang akan Mas lakukan supaya nama baik POLRI jadi bagus ?,</strong>” tanyanya. Saya tertegun sejenak. Ya, perkembangan wacana yang bertebaran belakangan ini yang menggambarkan perseteruan POLRI dan KPK sangat menyudutkan POLRI. Hampir semua pemberitaan menggambarkan POLRI dan Kejaksaan sebagai lembaga yang sulit dipercaya dan diduga menjadi tempat praktek subur “mafia kasus”.</p>
<p>Bagi saya, ini tantangan menarik dari sisi Public Relation. Seorang public relationers atau lembaga public relation yang baik memang harus mampu menjalankan fungsinya untuk menjalin hubungan baik sebuah organisasi dengan para stakeholdernya (baik internal maupun eksternal) tentu terutama dengan publik. Apalagi, dalam dunia PR, Ronald Reagan menyebutnya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Spin_%28public_relations%29" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/en.wikipedia.org/wiki/Spin_28public_relations_29?referer=');">Spin Doctor</a>, adalah kegiatan yang mencoba menampilkan sisi baik dari sebuah organisasi untuk mendukung posisi sebuah organisasi/seseorang di tengah-tengah publik. Idealnya, praktik ini sebatas menampilkan fakat-fakta baik dan tidak menonjolkan yang buruk atau yang jelek. Well, sampai sebatas ini terkesan hal itu ok-ok saja.</p>
<p>Tapi, jika dipikir-pikir, apakah itu termasuk praktik ”membohongi publik” dengan halus? Apakah itu termasuk praktek misleading yang memang bertujuan untuk mengarahkan persepsi publik dari citra yang sebenarnya ke citra yang ”rekayasa”? Tentu, sebagaiamana profesi lainnya, seorang public relationers yang baik harus memiliki kode etik dan keberpihakan pada kebenaran serta tidak hanya client yang memberi uang semata.</p>
<p>Sambil senyam-senyum ga jelas, saya mencoba mengeles dari pertanyaan teman saya itu sambil berkata, ”Yah, itu kan kalau, nyatanya kan enggak. Ngapain juga mikirin yang enggak-enggak,” dan ngeloyor pergi. (ful)</p>
<p><em>*Ditulis oleh Saifullah Kundo, Strategic Content Specialist, Praktisi PR, dan Mantan Wartawan</em><br />
<em>Editing dan Illustrasi oleh <a href="http://padmanegara.wordpress.com" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com?referer=');">Takhta Pandu Padmanegara</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/spin-misleading.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merek dari Negeri Dongeng</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/merek-dari-negeri-dongeng.html</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/merek-dari-negeri-dongeng.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 09:06:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kenapaharuspr (author)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Ide Kreatif!]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[ekuitas merk]]></category>
		<category><![CDATA[market education]]></category>
		<category><![CDATA[marketing communication]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[
Edukasi pasar, sekalipun diyakini efektif untuk menciptakan kebutuhan konsumen, seringkali pelan-pelan dan diam-diam seringkali menjadi beban psikologis yang tanpa henti terus menekan. Dilema psikologis edukasi pasar memang cukup melelahkan. Selain membutuhkan waktu (sehingga kadang kita putus asa, kapan sih edukasinya  berhasil? ), intensitas untuk melakukan edukasi pun membutuhkan biaya yang tidak kecil. Dan sialnya, seringkali bombardir iklan pun tidak membantu, kecuali hanya memperbesar biaya pemasaran.
Kisah Tara Nasiku adalah salah satu contoh dimana edukasi pasar bukan sebuah hal yang mudah. Sekalipun melakukan repositioning fungsi dan mengganti total pola edukasi melalui ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-117" href="http://kenapaharuspr.com/?attachment_id=117"><img class="alignnone size-full wp-image-117" title="dreamland" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2009/11/dreamland.jpg" alt="dreamland" width="600" height="478" /></a></p>
<p><em>Edukasi pasar, sekalipun diyakini efektif untuk menciptakan kebutuhan konsumen, seringkali pelan-pelan dan diam-diam seringkali menjadi beban psikologis yang tanpa henti terus menekan. Dilema psikologis edukasi pasar memang cukup melelahkan. Selain membutuhkan waktu (sehingga kadang kita putus asa, kapan sih edukasinya  berhasil? ), intensitas untuk melakukan edukasi pun membutuhkan biaya yang tidak kecil. Dan sialnya, seringkali bombardir iklan pun tidak membantu, kecuali hanya memperbesar biaya pemasaran.</em></p>
<p>Kisah Tara Nasiku adalah salah satu contoh dimana edukasi pasar bukan sebuah hal yang mudah. Sekalipun melakukan repositioning fungsi dan mengganti total pola edukasi melalui iklan hingga beberapa kali, hingga kini Tara nasiku belum secara utuh mampu merubah pola perilaku konsumen untuk menggunakan nasi instant.</p>
<p>Dan kalau berkaca pada Supermi, sebagai pelaku awal yang mengedukasi masyarakat untuk berubah dari sarapan nasi menjadi sarapan mi instant, maka dibutuhkan waktu setidaknya 8 tahun untuk meyakinkan masyarakat bahwa sarapan tidak harus nasi, tapi bisa juga mi instant.</p>
<p>Sekarang, kita sadar betul, sarapan dengan mie instant adalah hal yang biasa. Supermi dengan cerdas memanfaatkan mitos bahwa sarapan pagi adalah hal yang mutlak perlu bagi masyarakat Indonesia. Kabarnya, sekarang Indomie tengah mengedukasi pasar bahwa mi instant bukan hanya sekedar buat sarapan, untuk makan siang pun oke.</p>
<p>Kisah sukses edukasi lainnya kita temukan pada AQUA dan Teh Botol, dimana dua merek tersebut merubah perilaku konsumen saat mengkonsumsi air putih dan teh. Itupun, sekali lagi, ketahanan (endurance) untuk terus melakukan edukasi menjadi titik kunci. Sekali lagi, waktu menjadi salah satu tantangan terbesar.</p>
<p>Tara nasiku, Supermi, AQUA dan Teh Botol, dan mungkin beberapa kasus lainyang tidak begitu sukses seperti Gatorade dan Irex r, semakin menguatkan persepsi dalam paradigma kita bahwa edukasi pasar itu bukan hal yang mudah dan butuh waktu yang panjang. Lantas, adakah proses edukasi pasar yang lebih sederhana tapi dengan efek yang lebih dahsyat?</p>
<p><strong>Edukasi Barrack Obama</strong><br />
Sebetulnya, kalau kita mau belajar dari pemerintah Amerika memanfaatkan Barrack Obama untuk mendapatkan simpati Indonesia, kita bisa belajar bahwa sebetulnya edukasi tidak harus lama dan memakan biaya iklan yang besar. Edukasi yang paling penting adalah membangunkan konsumen dari tidur panjang dengan mimpi-mimpi yang belum terwujud.</p>
<p>Mewujudkan mimpi-mimpi konsumen sebetulnya adalah konsep lama dalam pemasaran, tapi masih jarang kita memanfaatkannya dalam edukasi pasar. Kita lebih senang mematok diri pada product konwoledge dan product utility saat melakukan edukasi, dan cenderung tidak peduli pada mimpi-mimpi konsumen.</p>
<p>Kembali pada kasus Obama, pasti ada sedikit  pertanyaan, kenapa ya Barrack Obama begitu gigih melakukan personal branding di Indonesia, padahal kita sama sekali tidak ikut dalam pemilu presiden di Amerika? Jawabannya hampir pasti, karena Barrack Obama bisa merealisasikan mimpi panjang masyarakat Indonesia yang ingin melihat Amerika memiliki sifat yang lebih bersahabat terhadap Islam.</p>
<p>Ulasan-ulasan tentang masa lalu Obama pun menghiasi banyak surat kabar, bukunya tampil secara memikat di rak-rak utama toko buku. Baik artikel, berita, ataupun buku memiliki pesan yang sama; bahwa Obama memiliki darah muslim, dan bahkan dulunya pun dia adalah seorang muslim. Hanya karena masalah perceraianlah yang membuat Obama sekarang tidak lagi menjadi muslim.</p>
<p>Jadi, Obama muncul bukan karena ingin dipilih oleh masyarakat Indonesia, tapi karena pemerintah Amerika ingin meraih simpati muslim Indonesia dengan mengirim pesan bahwa Islam pun diberi kesempatan berperan dalam dinamika politik Amerika.</p>
<p><strong>Dongeng Bangun Tidur</strong><br />
Dongeng , Mitos, Mimpi dan Keinginan Bawah Sadar memang salah satu resep mujarab untuk mengedukasi konsumen dengan cepat. Dengan syarat sederhana, kaitkan merek kita dengan tiga hal diatas.<br />
Seperti seorang putri yang menunggu kecupan sang pangeran untuk bisa bangun dari tidur panjangnya, pemerintah Amerika dengan cerdas mengungkap masa lalu Obama di Indonesia, terutama kisah-kisah saat dirinya dekat dengan Islam.</p>
<p>Kartu kredit Amex dengan sukses melakukan akusisi dan retensi konsumen setelah melakukan rehabilitasi patung Liberty yang menjadi kebanggaan warga Amerika. Dengan menjadikan mereknya sebagai bagian dongeng masyarakat, Pola edukasinya sederhana, Amex mengajak setiap warga Amerika untuk bersama memperbaiki kebanggaan Amerika  yang diberi oleh Perancis.</p>
<p>Pertimbangan waktu edukasi juga mutlak diperhatikan. Kalau saja Amex melakukan renovasi Patung Liberty saat Amerika menyerang Irak, pasti  tidak akan berhasil. Karena waktu itu masyarakat Amerika sedang berseteru dengan Perancis gara-gara menolak serangan ke Irak.</p>
<p>Dan karena dongeng berbeda tiap masyarakat, maka perangkat edukasi juga tidak bisa sama. Bodyshop tidak sukses mengedukasi Against Animal Testing di Indonesia, maka digantinya lah dengan Anti Kekerasan dalam Rumah Tangga. Karena memang mimpi perempuan Indonesia lebih banyak untuk menjadi Anti terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga.</p>
<p>Nah, kenapa kita tidak melakukan edukasi dengan membangunkan konsumen dari mimpi-mimpi panjangnya? Kalau pemerintah Amerika tahu mimpi panjang masyarakat Indonesia, dan Bosdyshop  bisa membedakan  dongeng rakyat Eropa dengan rakyat Indonesia, rasanya  kita bisa melakukan edukasi dengan cara yang sama.</p>
<p>Toh sebetulnya kita punya banyak contoh merek yang sukses mengedukasi konsumen. Dengan membangkitkan mimpi-mimpi masyarakat untuk bangkit dari krisis ekonomi, Djarum telah menjadi bagian masyarakat dimana pabriknya berdiri. Saat pemerintah Kudus meminta Djarum untuk memindahkan pabriknya dari tengah kota, justru mendapat protes dari masyarakat sekitar.</p>
<p>Slank juga memenuhi mimpi remaja-remaja tanggung yang membutuhkan figur ibu yang mau dan mampu mendengarkan anak; dengan menjadikan salah satu ibu dari anggotanya untuk menjadi figure ibu tersebut. Slank juga memberi tempat bagi penggemarnya untuk tidur di rumahnya, curhat dengan bunda Iphet, dan ngobrol langsung dengan mereka.</p>
<p>Bukankah tidur di rumah artis idola, ngbrol dengan mereka, dan curhat dengan figure ibu yang mau mendengarkan adalah dongeng remaja-remaja tanggung yang tidak pernah terrealisir dalam kehidupan nyata mereka?</p>
<p>Nah, mari kita gali dongeng-dongeng dalam tidur konsumen. Kita buat mereka bangun, dan sadar bahwa ternyata ada kesamaan antara merek kita dengan mimpi mereka saat melakukan proses edukasi. Kalau sudah dapat, tinggal kita susun saja dongeng itu menjadi sebuah realitas keseharian. Menyenangkan bukan? Dan mudah pula.</p>
<p><em>*Ditulis oleh Silih Agung Wasesa, Managing Partner AsiaPR </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/merek-dari-negeri-dongeng.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asia Pacific Public Relations Workshop</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/asia-pacific-public-relations-workshop.html</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/asia-pacific-public-relations-workshop.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 08:33:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kenapaharuspr (author)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Ide Kreatif!]]></category>
		<category><![CDATA[Research; Public Relations]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[APR Workshop Maldives
View more documents from KenapaHarusPR dot Com.
Jika ingin mendapatkan filenya, silahkan mengisi comment dengan menuliskan alamat email lengkap. Setelah itu filenya akan dikirimkan ke email masing-masing. Terima Kasih




]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="__ss_2363931" style="width: 425px; text-align: left;"><a style="font:14px Helvetica,Arial,Sans-serif;display:block;margin:12px 0 3px 0;text-decoration:underline;" title="APR Workshop Maldives" href="http://www.slideshare.net/kenapaharuspr/apr-workshop-maldives" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.slideshare.net/kenapaharuspr/apr-workshop-maldives?referer=');">APR Workshop Maldives</a><object style="margin:0px" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=aprworkshopmaldives-091028025242-phpapp02&amp;stripped_title=apr-workshop-maldives" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="margin:0px" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=aprworkshopmaldives-091028025242-phpapp02&amp;stripped_title=apr-workshop-maldives" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px;">View more <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.slideshare.net/?referer=');">documents</a> from <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/kenapaharuspr" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/www.slideshare.net/kenapaharuspr?referer=');">KenapaHarusPR dot Com</a>.</div>
<p>Jika ingin mendapatkan filenya, silahkan mengisi comment dengan menuliskan alamat email lengkap. Setelah itu filenya akan dikirimkan ke email masing-masing. Terima Kasih</p></div>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/asia-pacific-public-relations-workshop.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guerrilla Campaign</title>
		<link>http://kenapaharuspr.com/hello-world.html</link>
		<comments>http://kenapaharuspr.com/hello-world.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 11:54:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kenapaharuspr (author)</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Ide Kreatif!]]></category>
		<category><![CDATA[Guerrilla Campaign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kenapaharuspr.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[oleh Takhta Pandu Padmanegara
Kreatifitas seorang Public Relations harus terus diasah, biar nggak tumpul, biar terus berinovasi, biar terus membuat sesuatu yang baru, ngga itu-itu aja. Terutama bagi praktisi PR yang sering berhubungan dengan tim kreatif. Bagi seorang PR yang mengurus suatu brand, seringkali dihadapkan dengan kegelisahan &#8220;Campaign seperti apalagi yang akan dilakukan?&#8221; &#8220;Membuat campaign yang bagus yang menciptakan Word-of-Mouth, tapi dengan budget yang bisa dibilang low, how come?&#8221;
Tenang, jangan gelisah dulu!! Pernah mendengar istilah Guerrila Campaign alias Kampanye Gerilya? Di Indonesia akhir-akhir ini banyak yang sering menggunakan strategi ini untuk ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>oleh <a href="http://padmanegara.wordpress.com" target="_self" onclick="pageTracker._trackPageview('/outgoing/padmanegara.wordpress.com?referer=');">Takhta Pandu Padmanegara</a></em></p>
<p>Kreatifitas seorang Public Relations harus terus diasah, biar nggak tumpul, biar terus berinovasi, biar terus membuat sesuatu yang baru, ngga itu-itu aja. Terutama bagi praktisi PR yang sering berhubungan dengan tim kreatif. Bagi seorang PR yang mengurus suatu brand, seringkali dihadapkan dengan kegelisahan &#8220;<em>Campaign</em> seperti apalagi yang akan dilakukan?&#8221; &#8220;Membuat campaign yang bagus yang menciptakan Word-of-Mouth, tapi dengan budget yang bisa dibilang <em>low</em>, <em>how come</em>?&#8221;</p>
<p>Tenang, jangan gelisah dulu!! Pernah mendengar istilah<em> Guerrila Campaign</em> alias Kampanye Gerilya? Di Indonesia akhir-akhir ini banyak yang sering menggunakan strategi ini untuk mencapai publisitas dan <em>Word-of-Mouth</em> yang tinggi. Strategi ini sering dipakai oleh para Marketer maupun seorang Advertiser yang ingin brand/productnya dikenal dan dibicarakan oleh masyarakat. Bagaimana dengan PR? PR juga jelas dapat menggunakannya. Tidak melulu hanya Press Conference, pasang iklan, press release, media visit, dsb, tapi sesuatu yang gila, kreatif, dan mempunyai dampak <em>massive</em>.</p>
<p><strong>Sarah Aprillia Guerrilla Campaign</strong><br />
Contoh yang saat ini sedang heboh adalah Sarah Aprillia. Masih belum tahu apakah ini <em>campaign</em> suatu produk atau bukan, tapi yang jelas cukup menghebohkan. Lihatlah bagaimana seorang Sarah mempromosikan dirinya sebagai seorang Guru Les Privat.</p>
<div id="attachment_37" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-37" href="http://kenapaharuspr.com/?attachment_id=37"><img class="size-medium wp-image-37" title="sarah-aprilia-01" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2009/09/sarah-aprilia-01-300x237.jpg" alt="sarah-aprilia-01" width="300" height="237" /></a><p class="wp-caption-text">Poster Sarah</p></div>
<p>Dengan menggunakan poster yang mencolok, ia mempromosikan dirinya sebagai Guru Privat (memang ada guru privat secantik ini yang memang betul-betul mengajar les?). Disamping itu ia juga menggunakan kartu nama yang pesannya sama dengan posternya.</p>
<div id="attachment_38" class="wp-caption alignleft" style="width: 320px"><a rel="attachment wp-att-38" href="http://kenapaharuspr.com/?attachment_id=38"><img class="size-full wp-image-38" title="kartu-nama-sarah-aprilia1" src="http://kenapaharuspr.com/wp-content/uploads/2009/09/kartu-nama-sarah-aprilia1.jpg" alt="kartu nama Sarah" width="310" height="232" /></a><p class="wp-caption-text">kartu nama Sarah</p></div>
<p>Tidak hanya sampai disitu, Sarah juga mempromosikan dirinya lewat Facebook dan video di Youtube yang seolah-olah dibuat secara candid.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="560" height="340" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/45jGFMXEE9g&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="560" height="340" src="http://www.youtube.com/v/45jGFMXEE9g&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Besar kemungkinan ini adalah promosi suatu produk yang sampai sekarang masih belum ketahuan apa. tetapi yang jelas ini berhasil menciptakan Word-of-Mouth dan Publisitas yang tinggi baik di Online maupun Offline. Hal inilah yang membuktikan <em>Guerrilla Campaign</em> sangat efektif untuk menjadi <em>Talk-of-the-Town</em><strong>. </strong><em>Low Budget High Impact</em> bukan? Lalu sudah terpikir <em>Campaign</em> selanjutnya seperti apa?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kenapaharuspr.com/hello-world.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
