Peran PR di Persepakbolaan Indonesia
Setahun terakhir saya membantu para penggila bola dan sekarang PSSI untuk mengembalikan sepakbola menjadi milik publik dan membangun reputasi melalui transparansi dan good governance. Ijinkan saya berbagi informasi tentang peluang bagi praktisi PR untuk membuktikan kepada stakeholders sepakbola yang sangat luas dan beragam serta publilk di luar sepakbola, betapa pentingnya komunikasi dan peran public relations dalam menangani olahraga seperti sepakbola.
Dalam dua hari terakhir sebuah tim dari Asian Football Confederation (AFC) datang ke Indonesia untuk memberikan workshop tentang persyaratan bagi negara di Asia untuk bisa mengikuti Asian Championship League, sebuah liga sepakbola Asia yang cukup bergengsi dan bisa mengangkat martabat suatu bangsa melalui olahraga. Ada 5 syarat bagi klub manapun untuk bisa ikut bergabung dalam Liga ini yaitu: aspek legal (klub harus berbentuk badan hukum komersial/PT), aspek finansial (klub hrs memiliki laporan keuangan yang diaudit), aspek infrastruktur, aspek personnel, dan aspek pembinaan usia dini. AFC memberi batas waktu hingga 14 Oktober 2011 bagi klub-klub di Indonesia harus bisa memenuhi persyaratan ini karena persyaratan ini sudah disosialisasikan sejak 2008.
Ini sama sekali bukan waktu yang longgar. Misal saja untuk aspek legal, kita paham betapa lamanya mengurus pendirian sebuah perusahaan (PT) karena prosesnya memang lamban. Belum lagi aspek infrastruktur dan personnel yang akan sangat berhubungan dengan peran PR. Dari lima persyaratan tersebut, sayangnya, BELUM SATU PUN klub yang lolos. Kalau Indonesia tidak mampu mendirikan liga ini, maka klub Indonesia tidak bisa ikut ambil bagian dalam Asian Championship League (ACL).
Peluang Peran PR
Aspek personnel dan infrastruktur akan sangat membutuhkan dukungan peran PR. Untuk personnal, AFC mewajibkan setiap klub di Indonesia HARUS memiliki seorang MEDIA OFFICER dengan posisi full-timer yang bertanggung jawab menjalin hubungan, memelihara, mendidik dan melayani media terhadap kebutuhan pemberitaan dan pelaksanaan pertandingan. AFC mewajibkan setiap selesai pertandingan HARUS ada media report, sebuah laporan untuk media (berbentuk press release atau tergantung kreativitas) yang menyampaikan skor hasil pertandingan, jumlah kartu kuning, kartu merah, dan detil lainnya. Mendidik di sini artinya media perlu diberitahu etika dan tatacara peliputan seperti media tidak diijinkan mewawancara langsung pemain kecuali atas ijin pelatih, dsb. Posisi media officer membutuhkan pengetahuan khusus dan akan dilakukan workshop untuk kebutuhan tersebut.
Di infrastruktur, AFC mewajibkan setiap stadion HARUS antara lain memiliki ruang untuk konferensi pers, ruang wawancara dan memiliki fasilitas jaringan kabel yang bisa digunakan untuk siaran langsung televisi. Dari syarat ini, TIDAK SATUPUN stadion di Indonesia memenuhi syarat hanya dari aspek kebutuhan pelayanan terhadap media massa. Belum persyaratan lain seperti shower, ruang ganti pakaian untuk 2 tim, ruang kesehatan dan seterusnya.
Peluang lain adalah bagaimana mengemas klub sebagai sebuah entitas bisnis yang menarik untuk potensi kerjasama karena sepakbola segera menuju era industri. Karena masing-masing pemilik klub dan pelatih serta pemain sudah terbebani dengan tugas dan kewajiban yang berat, banyak klub yang kurang memikirkan bagaimana bisa mengemas klubnya untuk bisa laku dijual ke sponsor ataupun investor. Ada sebuah klub terkenal yang mampu menghasilkan Rp 1,1M dari menjual tiket untuk 1 x pertandingan dan berhasil mengumpulan puluhan miliar rupiah. Tetapi klub ini merugi pada akhir kompetisi merugi hingga Rp 3M lebih. Salah satu alasan kenapa merugi adalah terjadi ‘besar pasak daripada tiang’ dan tidak tahu bagaimana mengemas klubnya sehingga menjadi daya tarik bagi investor atau sponsor. Pola pendekatan menjual klub sepakbola sulit dilakukan melalui konsep marketing konvensional karena karakternya yang berbeda dan kekhususan. Tetapi pontensi cukup tinggi karena popularitas sepakbol sebagai olahraga. Rata-rata penonton sepakbola di Indonesia adalah di atas 4.000 orang per pertandingan, urutan ke empat di Asia setelah Jepang, Korea dan China.
Jadi, ada tiga peluang peran PR di sepakbola; posisi Media Officer klub, kebutuhan peran media relations di klub, dan kebutuhan praktisi PR yang mampu mengemas klub menjadi sebuah daya tarik bagi investor dan sponsor (mohon perhatikan bagaimana jersey pemain seperti MU, Chelsea atau Barcelona dipenuhi dengan logo perusahaan sponsor). Untuk investor, klub perlu dikemas sebagai entitas bisnis yang menguntungkan dengan perhitungan bisnis yang masuk akal. Ada 18 klub di Liga Super, 19 klub di Liga Primer dan puluhan lagi di Divisi Utama yang akan berlomba untuk bisa ikut bergabung di ACL ini. Anda para praktisi silakan mencoba membuktikan betapa pentingnya peran PR dalam industri ini.
Category: Opinion, Public Relations




Comments (0)
Trackback URL | Comments RSS Feed
There are no comments yet. Why not be the first to speak your mind.